
Siasat yang kususun beberapa tahun ini, tak bisa lagi kulanjutkan. Bukan karena ku sudah melupakan, tapi karena kamu yang menjadi sasaran. Bagaimana aku bisa menyakiti wanita yang telah membuatku jatuh hati, wanita yang telah mengajarkanku tentang cara memandang dunia dari sudut yang berbeda.
***
"Brengsek!" umpat Cakrawala, pria itu membanting barang-barang yang ada di kamarnya. "Kenapa harus Eri? Kenapa harus Eri yang bakal jadi sasaran gue!" Cakrawala mengusap wajahnya kasar.
"Baru kali ini gue ketemu perempuan yang bisa luluhin hati gue, baru kali ini gue ketemu perempuan yang bisa membuat pandangan gue gak berpaling dari dia. Dan sekarang gue dihadapkan dengan kenyataan bahwa dia adalah orang yang menjadi alasan kepergian Felicia. Argh!" Cakrawala memukulkan tangannya ke tembok, membuat tangannya terluka dan berdarah. Namun, sakit itu tidak dirasanya, yang ada di pikirannya sekarang hanyalah pilihan untuk menjaga Valerie atau menyakitinya demi membalaskan rasa sakit sahabatnya.
"Eri, apa yang harus gue lakuin? Gue gak mau nyakitin elo," lirih Cakrawala. Pria itu mengusap foto Valerie yang ada di layar ponselnya. Waktu di panti asuhan, ia mengambil foto Valerie secara diam-diam.
Entah mengapa, otaknya tidak pernah berhenti memikirkan Valerie. Padahal mereka baru bertemu beberapa hari, tapi ia sudah merasa nyaman dengan gadis itu. Dengan mudahnya, Valerie masuk ke dalam hati pria itu. Dengan mudahnya, Valerie bisa membuatnya tersenyum ... bahkan terbahak, hal yang jarang bisa dilakukan orang lain, termasuk almarhumah sahabatnya dulu.
Bersama Valerie, ia bisa dengan mudah menumpahkan keluh kesahnya tentang kehidupan. Bersama Valerie, ia bsa melepaskan semua bebannya. Bersama Valerie pula, ia merasa bahwa ia tidak sendiri. Seminggu waktu mereka bertemu, sudah bisa membuatnya merasa ketergantungan dengan kehadiran gadis itu. Bahkan, ia selalu mencari alasan agar bisa berjumpa dengan Valerie setiap hari.
Sudah beberapa bulan ini ia menyelidiki tentang Elang dan gadis yang menjadi penyebab kematian sahabatnya itu. Namun, dengan lihainya Elang selalu bisa berkelit. Elang bisa menutup rapat tentang kehidupan pribadinya itu, hingga ia sulit untuk menemukan gadis yang dicarinya.
Namun, takdir memang lucu. Ternyata selama ini ia sudah berjumpa dengan sosok wanita yang sedang dicarinya. Bahkan, mereka juga sering pergi bersama.
"Gue gak boleh lemah, walau bagaimanapun Felicia yang terpenting. Gue harus balik ke rencana awal, perempuan yang menjadi penyebab penderitaan Felicia, juga harus merasakan rasa sakit yang sama."
***
Valerie berjalan mengendap-ngendap di luar gerbang rumahnya. Kepalanya celingak-celinguk, seperti sedang bersembunyi dari seseorang Gadis itu memeluk kandang kecil yang isinya ambul dan amok.
Dari seberang, Elang yang baru akan ke luar rumah untuk membeli sate menghentikan langkahnya. Tujuannya semula yang akan membeli sate terlupakan karena merasa penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Valerie.
Pria itu melangkahkan kaki mendekati Valerie. Begitu berada tepat dibelakangnya, ia menepuk pundak Valerie, membuat gadis itu terkaget.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Elang. Untung reflek gue lagi bagus nih, coba tadi kalau reflek gue nabok elo!" ucap Valerie sambil mengusap dadanya. Hal itu membuat Elang terkekeh.
"Sini, gue bantuin ngusap dada lo," ucap Elang, pria itu mengerlingkan matanya, menggoda Valerie. Membuat wajah Valerie berubah seram.
"Mau gue tebas tuh kepala," ancam Valerie sambil memelototkan mata. Bukannya merasa takut, Elang malah semakin terbahak. "Ish, mulut lo berisik, entar si kembar tuyul tahu kalau gue di sini." Valerie membungkam mulut Elang dengan telapak tangannya, posisi mereka begitu dekat. Elang terus memperhatikan wajah Valerie yang semakin ayu karena terkena sinar rembulan. Pria itu tersenyum, terus memperhatikan ekpresi Valerie yang lucu, gadis itu terus-terusan celingak-celinguk sambil memasang wajah panik.
"Elo ngumpet dari apa, sih?" tanya Elang, ia menggenggam tangan Valerie dan menyingkirkan dari mulutnya.
"Itu si upin ipin mau ngegoreng ambul sama amok. Mana tuh duo unyil larinya cepet bener, napas gue sampai ngos-ngosan."
"Upin ipin? Duo unyil?" tanya Elang, ia mengerutkan dahinya, merasa bingung.
"Tuh si kembarnya Bang Tama ... Oky sama Iki," sahut Valerie, "tadinya mereka main sama ambul dan amok, eh tahu-tahu pada lapar, mau goreng ambul sama amok. Bang Tama denger, bukannya nolongin malah nyemangatin Oky sama Iki. Wuaaa, gue gak mau kalau amok sama ambul berakhir di piring tuh duo tuyul." Valerie memasang tampang memelas, membuat Elang gemas.
"Kalau gitu elo ikut gue aja, yuk. Sekalian cari angin," ajak Elang, pria itu menggandeng pergelangan tangan Valerie.
"Dibawa sekalian aja, repot amat," sahut Elang.
Valerie dan Elang mulai melangkahkan kaki, dengan pergelangan tanggannya masih di gandeng oleh Elang. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di tempat tujuan. Valerie menganga melihat di mana sekarang mereka berada.
"Lang, ngapain kita ke sini?" tanya Valerie. Gadis itu menarik-narik ujung kaos Elang. "Elo gak lagi ngejebak gue, kan?"
"Elo ngomong apa, sih? Ngejebak apaan?"
"Kalau gak ngejebak, terus ngapain elo ngajak gue, ambul, sama amok ke tukang sate? Elo mau jadiin mereka sate, kan?" Valerie berkacak pinggang, ia menyembunyikan amok dam ambul di belakang punggungnya. Valerie membulatkan mata sambil menggembungkan pipi. Hal itu malah membuat Elang semakin terbahak, pria itu memegang perut saking gelinya.
"Heh, siapa juga yang mau makan ayam sekutil gitu. Tulangnya aja paling masih lembek, mana ada dagingnya," sahut Elang, begitu ia bisa menghentikan tawanya.
__ADS_1
"Jelas ada, dong," jawab Valerie, membela ayam-ayamnya. "Nih, lihat aja pantatnya semok gini, gak mungkin kalau gak ada dagingnya." Valerie menoel-noel pantat ambul dan amok
"Ya udah kalau gitu kita buktiin." ucap Elang, menantang Valerie.
"Ayo, siapa takut," sahut Valerie tak mau kalah. Jiwa panglima perangnya bergelora saat ditantang.
"Mana amok sama ambulnya," Elang menjulurkan tangannya, meminta ambul dan amok.
"Buat apaan?" tanya Valerie, wajahnya terlihat curiga, tapi ia tetap memberikan kandang ayam kecil itu pada Elang.
"Buat pembuktian.".
"Caranya?"
"Ya dipotonglah," sahut Elang santai, yang langsung membuat langkah Valerie terhenti. "Kalau dipotong kan kita bisa tahu tuh ayam ada dagingnya apa enggak."
Elang setengah mati menahan tawanya, melihat ekpresi Valerie. Namun, tidak lama kemudian ia langsung terdiam begitu melihat mata Valerie yang berkaca-kaca. Ia lupa jika Valerie sangat menyayangi dua piyik ayam itu, ia menyesal.
"Jangan nangis, gue cuma becanda," ucap Elang sambil mengusap kepala Valerie.
"Becanda elo gak lucu," sahut Valerie. Valerie menyingkirkan tangan Elang dari kepalanya.
"Iya, maaf," ucap Elang lagi. Pria itu meraih tubuh Valerie dalam pelukannya, membuat air mata Valerie langsung menetes.
Valerie membalas pelukan Elang, mereka berdua merasakan rindu yang sama. Mereka berada pada posisi itu untuk beberapa saat, sampai tidak menyadari jika ada seseorang yang menyaksikan hal itu dari kejauhan.
"Tak akan gue biarin kalian bahagia. Akan gue buat kalian merasakan apa yang dia rasakan dulu," ucap pria itu sambil mencengkeram setir mobilnya. "Elang Rayan Garindra, siapkan hati lo buat kehilangan gadis yang elo cintai." Pria itu tersenyum miring, kemudian ia kembali mengemudikan mobilnya pergi dari tempat itu. Dan pasti kalian sudah tahu siapa pria itu, tepat ... Cakrawala Adi Mulya.
__ADS_1