Arakata

Arakata
Panglima Perang New Generation


__ADS_3

Malam hari ini, suasana kediaman Laksmono mendadak ramai. Bukan tanpa alasan, hal itu dikarenakan ulah sepuluh pria petinggi Arakata.


Elang, Gaung, Gandi, Bagus, Gema, dan Hasan. Valerie sengaja mengundang enam pria itu untuk menyampaikan sesuatu. Kebetulan juga para inti Arakata angkatan pertama sedang berkumpul di sana.


Para petinggi Arakata beda generasi itu membaur menjadi satu tanpa ada rasa canggung.


"Kenapa elo ngumpulin kita, Er?" tanya Bagus.


"Iya nih, gue lagi sibuk belajar tadi, Kak," ucap Gema ikut menimpali.


"Mana ada elo belajar," ucap Gaung, "elo tadi lagi jiplak kata-kata romantis di internet kan. Jangan coba-coba ngadalin abang lo, ya! Mau modusin Zulfa kok nyontek di internet!"


"Gue lihat itu juga karena udah ada di history laptopnya abang," jawab Gema, yang membuat Gaung langsung terdiam.


"Adek sama abang gak ada bedanya, modusin cewek modalan mbah google," cibir Elang.


"Eh kampret, puisi yang lo kasih ke Eri juga hasil karyanya Abdul, kan! Elo tukar itu puisi sama tiket pesawat pulang pergi ke New York," ujar Bagus sambil terkekeh.


"Oh, puisi hasil nyontek, toh," ucap Valerie sambil menatap tajam kekasihnya itu. Elang hanya meringis sambil menggaruk tengkuknya. "Mana si Abdul? Karena gue suka dan baper sama puisinya, gue nikah aja sama dia."


Ucapan Valerie membuat Elang kalang kabut.


"Yah, jangan gitu dong, Yang," rayu Elang sambil memeluk pinggang Valerie dari belakang. Pria itu meletakkan kepalanya di pundak Valerie.


"Lepasin, gak? Aku banting nih, ya!" Ancaman dari Valerie sukses membuat Elang langsung melepaskan tubuh gadis itu.


"Emangnya gue adonan martabak, mau dibanting-banting," gerutu Elang.


"Ngedumel apa kamu, Sayang?" tanya Valerie sambil tersenyum, namun senyum itu terlihat menakutkan.


"Eng-enggak kok, Yang," jawab Elang cepat.


"Calon-calon suami takut istri ini," ujar Afghi sambil terkekeh.


"Emang elo gak takut sama Naura?" tanya Garindra sambil tersenyum miring.


"Ya, gak mungkin lah kalau gue kagak takut," jawab Afghi sambil tertawa. "Sebrutal apapun kita di luar sana. Begitu ketemu istri, langsung jinak seperti kucing rumahan. Bukan takut karena tunduk, tapi takut karena kita sayang. Karena istri adalah teman di kala kita masih berada di bawah, penyemangat bila kita gagal, dan sosok yang paling berbahagia jika kita mencapai kesuksesan. Jadi, inilah wujud rasa terimakasih kami sebagai seorang


suami. Rasa sayang yang berlimpah, sebisa mungkin akan kami berikan."


"Wuahhh, so sweet," ucap Eli heboh sambil bertepuk tangan. "Mau dong, Om.Jadi menantunya."


"Gue laporin Bang Robert habis lo," ancam Gema.


"Gue laporin balik ke Zulfa, kalau elo minta nomor ponsel teman sekelas gue," ancam Eli balik. Mereka teman satu sekolah, tapi berbeda kelas.


"Eh, Oncom. Itu gue disuruh Asel, Asel ada keperluan sama temen sekelas lo itu. Waktu itu kebetulan gue ada urusan di kelas lo, jadi gue mintain sekalian," jawab Gema membela diri. "Di hati gue udah penuh sama Zulfa, gak bisa lagi nampung cewek lain."


"Ngomong-ngomong soal Asel, tujuan gue manggil elo berenam ada hubungannya sama Asel. Kebetulan juga ada om-om inti Arakata angkatan pertama. Alhamdulillah, usaha toko kue saya sedang maju, dan butuh perhatian ekstra dari saya. Sebentar lagi, saya juga akan menikah. Jadi, perhatian saya sudah tidak bisa penuh untuk Arakata. Untuk itu saya mau mengundurkan diri dari jabatan saya sebagai panglima perang di Arakata. Lagipula pengurus lainnya yang dari angkatan tujuh sudah diganti. Kenapa hanya posisi panglima perang yang masih tetap?"


"Kami belum mengganti posisi panglima perang, karena kami belum bisa menemukan orang yang pantas untuk menggantikan mu, Er," ucap Laksmono, semua yang ada di sana mengangguk setuju.


"Yang dikatakan ayahmu benar, Er," sahut Alif ikut menimpali. "Arakata tidak hanya membutuhkan panglima yang kuat fisiknya, tapi juga harus memiliki otak yang cerdas. Kuat saja tanpa ketepatan dalam menentukan strategi, itu sama saja dengan bunuh diri. Kami juga membutuhkan panglima yang memiliki jiwa sosial tinggi."


"Jika kamu memiliki kandidat yang kira-kira memenuhi kriteria itu, bisa kamu ajukan pada kami," ujar Garindra sambil tersenyum.


Valerie mengangguk. "Eri rasa di Arakata angkatan delapan, ada seorang anggota yang memenuhi kriteria itu. Asel, walau ia terkesan cuek dan asyik dengan dunianya sendiri. Namun, ia selalu menyimak apa yang sedang dibahas. Jarang ada orang yang bisa memasang telinga dan otaknya, saat sedang fokus bermain game. Dan Asel bisa melakukannya. Waktu kita membahas masalah Om Ryan, dia memang terkesan asyik dengan game-nya. Tapi, di luar itu, ia tetap memasang telinga dan memutar otaknya untuk menyusun strategi. Hanya orang yang memiliki kecerdasan tingkat tinggi, yang bisa membagi otak dan fokusnya.

__ADS_1


Ia juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Ia menggalang dana di komunitas gamers-nya, untuk pendidikan anak-anak jalanan dan anak yang tidak mampu. Ia juga sering meluangkan waktu untuk terjun secara langsung mengajari anak-anak itu dalam pelajaran. Walau ia anak dari salah satu pengusaha sukses di Indonesia, tidak lantas membuatnya jumawa. Ia tetap rendah hati dan peduli dengan sesama. Menurut Eri, semua hal itu sudah membuktikan bahwa Asel cukup pantas untuk menjadi panglima perang angkatan delapan."


Semua yang ada di sana mengangguk setuju dengan pernyataan Valerie.


"Wah, bagaimana bisa Kak Eri tahu sedetail itu tentang Asel. Gue yang temannya aja, gak tahu sampai sebegitu dalamnya," takjub Gema dengan matanya yang berbinar.


"Jangan sebut panglima perang Arakata, jika tidak bisa mencari info orang yang diincarnya sampai seakar-akarnya," jawab Elang sambil terkekeh.


"Wah, canggih," ujar Gema penuh takjub. "Untung di angkatan gue gak ada yang secanggih itu, bisa malu tujuh turunan kalau punya anak buah yang lebih hebat dari ketuanya."


"Justru di angkatan ke delapan ini, kalian harus bisa melebihi angkatan sebelum-sebelumnya," ujar Laksmono, "entah itu dari segi kepemimpinan, strategi,  kekuatan, maupun kepedulian dengan sekitar. Jabatan di Arakata bukan hanya pajangan ataupun pelengkap, mereka mempunyai tugas yang harus dipertanggung jawabkan. Jika kalian tidak bisa melaksanakan itu, siap-siap terima konsekuensi dari kami," ujar Laksmono dengan nada


tegas, lengkap dengan tatapan tajamnya.


"Mati kita," gumam Gema sambil menelan minumannya dengan susah payah, seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya.


"ho'oh," sahut Hasan, wajah dua pemuda itu pucat seketika.


***


"Bagaimana keadaan Tante Atika?" tanya Valerie, gadis itu sekarang berada di kediaman keluarga Valero.


"Sudah mendingan, mamah sudah bisa diajak komunikasi. Mamah juga terlihat lebih bahagia, beliau nanyain elo terus. Ketagihan sama ayam bakar buatan lo," ujar Valero sambil terkekeh.


Beberapa hari ini, Valerie sering berkunjung ke rumah Valero. Gadis itu dengan telaten merawat Atika. Walau baru beberapa hari bertemu, Valerie sudah menyayangi ibu dari Valero dan Azizah itu.


Valerie juga sering memasak untuk Atika. Bahkan, kemarin Atika ikut menemani Valerie memasak di dapur. Valerie yang memang pandai membawa suasana, bisa membuat Atika merasa nyaman karenanya.


Selain merawat Atika, Valerie juga ikut menjaga kondisi Azizah. Gadis itu akan menjadi sangat cerewet jika Azizah sudah mulai susah makan dan tidak mau meminum susu ibu hamilnya. Jika saat itu terjadi, hanya Valerie yang bisa mengatasinya. Entah dengan cara apa Valerie merayu Azizah agar patuh terhadapnya.


"Mulai hari ini, aku memecatmu. Kamu istirahat saja di rumah, jaga diri kamu dan anak kita baik-baik. Urusan nafkah, biar aku sebagai calon imam kamu yang mencarinya." Itu yang dikatakan Choky saat itu, dan Azizah tidak berani menolaknya.


"Besok, elo mulai mengurus perusahaan almarhum ayah lo, kan?" tanya Valerie, Valero mengangguk sebagai jawabannya.


"Gue ragu kalau gue bisa mengurus perusahaan dengan baik, Er. Tanggung jawab ini terlalu besar buat gue," ujar Valero sambil menghembuskan nafas, terlihat ada rasa khawatir di wajah pria itu.


"Gak ada orang yang gak bisa, kalau mau belajar. Jangan anggap ini sebagai tanggung jawab, karena hal itu akan membuat lo menjadi terbeban. Anggap ini sebagai wujud kasih sayang lo untuk Mamah dan adik lo. Sekarang elo bukan hanya seorang anak dan kakak. Namun, juga sebagai kepala rumah tangga. Jadi, nikmati saja semua peran lo itu. Kalau elo menanggapi hal ini dengan ikhlas karena rasa cinta ke keluarga lo. Gue jamin, elo bakal enjoy aja


melewati sesuatu yang elo sebut sebagai tanggung jawab tadi," ujar Valerie sambil tersenyum tulus, membuat wajah Valero bersemu merah karena terpesona.


"Terimakasih, Eri," ujar Valero sambil tersenyum, senyum Valerie menular padanya.


"Untuk?"


"Untuk hadirnya elo di hidup gue," jawab Valero sambil memiringkan kepalanya untuk menatap Valerie lebih dekat. "Semenjak kematian ayah, gue kira hidup gue gak akan bisa bahagia lagi. Namun, setelah gue ketemu dan kenal elo, hidup gue berangsur membaik. Adik gue yang hampir frustasi, sekarang bisa ceria lagi. Mamah gue yang bagai patung hidup, sekarang mau berkomunikasi lagi. Bahkan, beliau sudah bisa tertawa lepas karena lelucon garing yang elo ceritakan. Hidup bahagia yang dulu sempat hilang, sekarang telah kembali. Dan itu berkat elo, Valerie Livia Laksmono."


"Semua kebahagiaan yang hadir di keluarga elo, bukan karena gue. Tapi karena anugerah yang di berikan Allah untuk keluarga lo. Sebagai hadiah atas kesabaran dan ketangguhan elo selama ini. Allah sangat menyukai hamba-Nya yang memuliakan ibunya. Dan kebahagiaan yang elo dapatin sekarang adalah hadiah untuk hal itu."


Valero tersenyum mendengar penuturan Valerie.


"Entah hal mulia apa yang telah Elang lakukan, sehingga Allah memberikannya jodoh seistimewa elo."


"Gue tidak seistimewa yang elo pikir. Gue hanya perempuan biasa yang melakukan apa pun yang gue pikirkan, selama itu tidak merugikan orang lain. Besar di lingkungan pria-pria hebat, membuat gue memiliki banyak pandangan dan pilihan. Om Afghi yang  temperamen dan kuat, Om Alif yang melakukan segala sesuatu dengan segala pertimbangan, Papah Indra yang berwawasan luas dan pandai bergaul, ayah yang bijaksana dan tegas. Dari keempat pria itu gue belajar tentang segala hal, sehingga membentuk watak gue yang sekarang. Eri si panglima perang Arakata yang elo kenal."


"Hal itu semua yang membuat elo istimewa, Er," sahut Valero, "tidak akan pernah ada gadis lain yang memiliki sifat seperti elo ini. Elo yang pertama dan satu-satunya, akan selalu seperti itu."


"Jangan terlalu tinggi menilai gue, gue takut kalau elo bakalan kecewa," Jawab Valerie sambil terkekeh.

__ADS_1


"Sekarang gue memang sedang kecewa," ujar Valero, membuat Valerie mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan apa yang dikatakan Valero. "Kecewa karena baru sekarang bertemu dan mengenal elo, setelah elo udah menemukan seseorang yang akan menjadi pendamping elo.  Seandainya gue bertemu elo lebih awal, gue bakal perjuangin elo. Siapapun saingan gue, bakalan gue buktiin, kalau gue cowok yang lebih pantas buat elo dibanding mereka."


Valerie hanya bisa terdiam, mendengar pengakuan dari Valero. Gadis itu tidak menyangka jika pria yang telah ia anggap sebagai saudara, malah memiliki perasaan terhadapnya. Valerie melakukan semuanya untuk Valero dan keluarganya dengan ikhlas, tanpa niatan untuk menarik perhatian dari pria itu. Namun, ketulusan Valerie malah membuat Valero jatuh kepadanya.


"Namun, gue telah kalah langkah. Tapi gue mohon, biarkan gue memiliki perasaan ini. Jangan paksa gue untuk menghapus rasa sayang gue terhadap lo. Memang mudah dan cepat untuk gue bisa mencintai elo. Namun, akan sangat susah dan memakan waktu yang lama bagi gue untuk bisa menghapus perasaan ini. Jadi, biarkan gue mencintai elo dengan cara gue," ucap Valero sambil mengusap ujung kepala Valerie.


***


Malam ini, kediaman Laksmono penuh dengan puluhan pria tampan nan kekar. Beberapa anggota Arakata dan wakil dari geng sekutu Arakata diminta berkumpul oleh sang pendiri Arakata. Ada yang akan disampaikan oleh panglima perang mereka. Mereka berkumpul di rumah Laksmono, karena markas Arakata sedang direnovasi. Yang menangani renovasi itu tentu saja Roxy, sang arsitek handal milik geng Rajawali. Mereka duduk lesehan di karpet ruang tamu Laksmono yang luas.


"Assalamu'alaikum, selamat malam. Maaf, jika saya menggangu waktu kalian," ucap Laksmono memulai percakapan. "Saya meminta kalian berkumpul, karena ada beberapa hal penting yang ingin disampaikan. Hal ini tentang kepengurusan Arakata yang akan berganti, karena itu saya juga mengundang beberapa perwakilan dari sekutu Arakata untuk menyaksikan. Jabatan yang belum digantikan dari angkatan ke tujuh adalah posisi panglima perang. Dan untuk menggantikannya, panglima kita sendiri lah yang telah memilih. Untuk itu saya selaku pendiri Arakata, mempersilahkan Valerie Livia Laksmono untuk menyampaikan siapa yang pantas untuk menggantikan


jabatannya sebagai panglima perang di Arakata."


"Assalamu'alaikum, selamat malam. Seperti apa yang telah disampaikan ayah saya tadi. Saya selaku panglima Arakata angkatan tujuh, ingin mengundurkan diri dari jabatan saya. Saya mengundurkan diri bukan bermaksut untuk lari dari tanggung jawab. Namun, saya mengundurkan diri, untuk memberi kesempatan bagi angkatan selanjutnya. Banyak kejadian yang saya alami selama menjadi panglima perang, baik itu kejadian yang menyenangkan maupun menyebalkan. Dan karena menjadi panglima perang pula, saya bisa mempunyai banyak teman. Untuk para sekutu Arakata, saya pribadi ingin mengucapkan permintaan maaf, jika dulu saya pernah membuat kalian babak belur ataupun sampai masuk rumah aakit," ujar Valerie sambil terkekeh, mengingat kejadian waktu ia melawan geng Gester sebelum menjadi sekutunya.


Tyan selaku mantan ketua geng Gester itupun ikut tertawa bersama teman-temannya.


"Saya juga mau berterimakasih, karena kalian telah beberapa kali menyelamatkan nyawa saya. Bagi saya, Arakata bukan hanya sebuah geng. Namun, juga sebagai keluarga kedua saya. Keluarga yang selalu ada di saat saya membutuhkan. Keluarga yang bisa membuat saya tertawa lepas. Keluarga yang dapat menjadi tempat saya berkeluh-kesah. Keluarga yang lebih dari keluarga yang sebenarnya. Satu hal yang tidak akan bisa saya lupakan, ketika saya merasa kesepian karena tidak adanya kehadiran seorang ibu. Kalian dengan ikhlas dan rela menawarkan serta membagi kasih sayang ibu kalian untuk saya."


Valerie mengusap air mata yang menetes dari netra indahnya.


"Betapa beruntungnya saya bisa ada di antara pria-pria tangguh yang baik hati seperti kalian. Dulu ayah saya sempat melarang, saat saya akan diangkat menjadi panglima perang." Valerie tersenyum pada Laksmono yang duduk di sebelahnya. "Beliau khawatir jika saya yang notabenenya anak perempuan satu-satunya, akan mengalami bahaya karena jabatan saya itu. Tapi sekarang, dengan bangga saya bisa katakan kepada ayah ... tidak ada yang perlu ayah khawatirkan, karena saya berada di antara pria-pria baik yang selalu siap untuk melindungi saya. "


Laksmono mengangguk sambil tersenyum. Jika boleh jujur, ingin sekali ia berteriak bangga terhadap putrinya itu. Putri kecil yang selalu dimanjanya itu, sekarang berubah menjadi perempuan dewasa yang mandiri dan tangguh.


"Saya akan tetap berada dalam keluarga Arakata. Namun, hanya sebagai anggota. Sebentar lagi saya akan menikah, dan saya yakin bahwa calon suami saya juga tidak ingin jika saya selalu berkutat dengan bahaya," ucap Valerie sambil mengedipkan sebelah matanya pada Elang. Membuat wajah mantan ketua Arakata itu bersemu malu, hal itu sukses membuat Elang mendapat sorakan dari teman-temannya. "Untuk itu, saya ingin melepaskan jabatan saya ini. Saya ingin seseorang dari angkatan delapan untuk bersedia menggantikan saya." Valerie menatap seorang pemuda tampan yang sedang asyik memainkan ponselnya.


"Maysel Vairy Akbar," panggil Valerie, membuat Asel langsung mengangkat wajahnya, memandang penuh tanya pada Valerie. Apa yang dikatakan Valerie benar, jika Asel tetap memasang telinganya untuk menyimak apa yang dibicarakan, walau matanya tertuju pada layar ponsel. "Saya ingin kamu yang menjadi pengganti saya sebagai panglima perang Arakata."


"Saya, Kak?" tanya Asel sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya," jawab Valerie sambil mengangguk. "Saya sudah membicarakan ini dengan inti Arakata yang lain. Mereka juga setuju dengan keputusan saya. Jadi, sekarang semuanya tergantung kamu, mau menolak atau menerima keputusan ini. Tugas sebagai panglima bukanlah tugas yang mudah. Kamu harus selalu putar otak, demi keselamatan anggotamu. Namun, dengan bantuan inti Arakata dan anggota lainnya, kamu pasti bisa melakukan tugas ini dengan baik. Satu hal yang terpenting, selalu prioritaskan keselamatan anggotamu disetiap kamu mengatur Strategi. Panglima perang memikul keselamatan semua anggota di pundaknya. Jadi, kamu harus bisa mengambil keputusan yang tepat, untuk maju terus atau mundur. Bicarakan jika masih bisa dibicarakan, hancurkan


jika memang harus dihancurkan. Bagaimana? Kamu siap mengemban tugas ini?"


"Siap, Kak," jawab Asel dengan tegas dan yakin.


Valerie tersenyum sambil mengangguk. "Terimakasih, saya suka dengan sikap kamu yang tegas dan penuh keyakinan. Dengan ini saya sampaikan bahwa saya, Valerie Livia Laksmono menyerahkan jabatan panglima perang kepada junior saya, Maysel Vairy Akbar."


***


Setelah acara pergantian jabatan, mereka bersantai di teras rumah Laksmono. Inti Arakata angkatan tujuh duduk berjejer memperhatikan tingkah absurd juniornya. Dibawah pohon, lima pria yang merupakan inti Arakata angkatan


delapan sedang bermain gundu. Bermain gundu memang merupakan permainan yang normal, yang menjadikannya tidak normal adalah mereka bermain gundu menggunakan bola golf. Bisa bayangkan betapa besar dan beratnya bola golf jika dijadikan pengganti kelereng.


"Bagaimana nasib Arakata dengan kepemimpinan pemuda-pemuda gak jelas begitu," ucap Gandi sambil


menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan ulah juniornya itu.


"Mereka memang cowok-cowok tengil yang bertingkah absurd. Namun, gue bisa melihat jika Arakata akan menjadi geng yang besar di bawah kepemimpinan mereka," ujar Bagus sambil tersenyum penuh arti.


"Amiin," sahut Elang, Valerie, Gandi, dan Gaung bersamaan.


Semoga apa yang menjadi firasat Bagus tentang masa depan Arakata, bisa menjadi kenyataan. Arakata, sebuah geng yang awalnya terbentuk karena rasa ingin melindungi, sekarang menjadi tujuan orang yang ingin saling berbagi. Berbagi harta, waktu, tenaga, dan berbagi kepedulian.


Walau sudah terbentuk selama lebih dari empat puluh tahun, Arakata akan selalu menjadi tempat untuk saling berbagi dan melindungi. Dan sampai berapa tahun lagi pun, Arakata akan tetap sama. Menjadi rumah bagi orang-orang yang membutuhkan perlindungan, karena mereka adalah Arakata ... pelindung.

__ADS_1


__ADS_2