
Kurang bersyukur apalagi aku? Mereka masih menerimaku, setelah tahu hal buruk yang aku lakukan pada mereka. Jika aku masih merasa kurang, betapa tidak bersyukurnya aku.
***
"Rama? Kenapa sama kerupuk kering itu?" tanya Gema, wajahnya terlihat penasaran.
"Kemarin lusa, Bang Restu sama anggota The Drugs yang lain ngelihat Rama sama Samuel ketemuan, mereka kelihatan akrab."
"Samuel? Samuel ketua Brutalz?" tanya Abdul.
"Iya," sahut Asel, "tadi setelah pulang dari panti asuhan, gue ngelihat mereka. Gue berniat buat ngikutin mereka, tapi sialnya gue ketahuan sama salah satu dari mereka. Habislah gue dikeroyok." Asel menunjuk pada kepala dan tangannya yang diperban, mukanya yang lebam, dan goresan di perut sebelah kiri."
"Bangsat!" umpat teman-temannya.
"Bukannya tadi di telepon, Restu bilang kalau elo kecelakaan?" tanya Hasan.
"Gak etis kan kalau gue bilang panglima perang Arakata dikeroyok," sahut Restu, "bisa jatuh wibawa penerus Kak Eri ini."
"Gue tampol muka lo ya, Bang." Asel melotot pada Restu yang memasang wajah jahilnya.
"Dan si kerupuk kering cuma diem aja lo diperlakuin begitu atau dia malah ikutan ngehajar lo?" tanya Gema.
"Rama berusaha ngebantu gue, tapi apa sih daya dua orang yang ngelawan lebih dari seratus orang?"
"Lebih dari seratus? Emang mereka nonkrong di mana sampai bawa segitu banyak orang?" Kini giliran Restu yang bertanya, dia sendiri pun belum tahu cerita lebih lanjut dari Asel karena saat itu suster keburu datang membawa suntikan.
"Hehehe, ternyata tadi gue ngikutin mereka sampai masuk ke dalam markas Brutalz," sahut Asel sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Ya Tuhan, Asel. Goblok lo gak ketulungan," cibir Gema, pemuda itu menepuk dahinya, geram dengan tingkah sahabatnya itu. "Dengan polosnya elo masuk ke kandang macan seorang diri, benar-benar niat buat nganter nyawa."
Asel hanya menjawab omelan Gema dengan cengiran sambil mengangkat dua jarinya, tanda minta damai.
Tiba-tiba pintu kamar rawat inap Asel kembali terbuka, Valerie dan gerombolannya masuk dengan tidak santai. Mereka khawatir dengan keadaan junior mereka itu. Asel kembali bercerita tentang kejadian yang ia alami barusan.
"Brutalz emang gak ada kapoknya," ucap Gandi, "setelah apa yang Elang lakuin ke mereka dulu, belum kapok juga mereka."
"Emang Elang lakuin apaan?" tanya Valerie, gadis itu merasa jika selama ia bersama Arakata, Elang selalu bisa mengontrol emosinya ketika melawan musuh.
"Setelah elo pergi ke Korea, nih ketua bucin sering gak kekontrol emosinya," sahut Gaung dengan jarinya menunjuk pada wajah Elang.
"Ngaca, woe! Elo saat itu juga kayak orang kesetanan," sahut Elang sambil menyingkirkan jari telunjuk Gaung dari hadapannya. "Bahkan elo hampir patahin kaki salah satu dari mereka saat mereka ngehina Eri."
"Mending gue cuma hampir matahin kaki, elo malah hampir ngebunuh Alex, kan!"
Alex adalah nama dari ketua Brutalz sebelum Samuel, pria itu sempat koma di rumah sakit karena ulah Elang Rayan Garindra. Setelah lengsernya Alex, Brutalz sempat dikabarkan bubar, tapi entah kenapa sekarang bisa terbentuk lagi dengan kepemimpinan yang berbeda. Dari segi kepimpinan, Samuel dan Alex hampir mirip. Mereka selalu bertindak seenaknya sendiri, mereka selalu menindas orang-orang yang terlihat lemah dan bisa dimanfaatkan.
"Cewek lemah yang sok kuat, semua cewek itu sama aja, lemah ... tapi cewek yang bersama kalian itu sok kuat. Nyatanya sekarang dia gak datang, pasti lagi ngumpet di ketek emaknya karena ketakutan, kan? Itu yang dia katakan." sahut Bagus, pria itu mengeipkan sebelah matanya, ia paham jika sahabatnya itu paling tidak suka jika kaumnya dikatakan lemah.
"Wah, ingatan lo super," ucap Roxy sambil bertepuk tangan. "Elo masih ingat setiap kata yang diucapkan tuh orang."
"Dari pada mikirin ingatan gue, mending elo mikirin nasib tuh orang-orang yang udah ngatain Eri, liat aja tuh," sahut Bagus sambil menunjuk ke arah Valerie yang sudah tersulut amarah, jika digambarkan ... sudah ada kobaran api yang menyelimuti gadis tangguh itu.
"Cewek lemah dia bilang," ucap Valerie, "ngumpet di ketek emak karena ketakutan. Bakalan gue bikin mereka ketakutan sambil ngumpet diketek emaknya masing-masing."
"Wah, seru nih," ucap Braga, "Blue Eagle ikutan ah."
__ADS_1
"Rajawali juga ikut." Roxy ikut menimpali. "Gue ngewakilin bos gue yang lagi asik bulan madu."
"Gester juga ikut, gue ngewakilin ketua gue. Tyan lagi jaga bininya yang lagi hamil besar," ucap Robert.
"Kalian boleh ikut, tapi awas aja kalau kalian ganggu kesenangan gue," ucap Valerie, gadis itu melotot, memperingatkan Braga, Robert dan Roxy.
Bukannya takut, ketiga pria itu malah tersipu karena wajah Valerie yang melotot terlihat imut.
"Gue kirim ke ICU satu-satu kalau kalian masih pasang tampang mesum itu!" seru Elang pada Braga, Roxy, dan Robert. Pria itu merasa tidak terima karena ketiga sahabatnya itu menatap calon istrinya dengan pandangan memuja.
"Gak nyangka kalau pria-pria konyol itu petinggi geng-geng besar di kota ini," bisik Gema pada teman-temannya, ia tidak mau ambil resiko jika para seniornya mendengar jika ia sedang mencibir mereka.
"Coba saja ganggu salah satu anggota mereka, jika mau sikap konyol mereka berubah menjadi kejam," sahut Hasan yang mendapat anggukkan dari Gema, Abdul, dan Asel.
"Tolong bawa Rama kembali kepada kami," ucap Asel, semua pandangan tertuju padanya. "Tolong bawa sahabat kami itu kembali pada kami. Gue tahu kalau dia sempat tersesat, tapi gue yakin kalau hatinya masih ada untuk Arakata.
"Jangan khawatir," sahut Valerie, gadis itu tersenyum lembut. "Kami akan membawa kembali anggota keluarga kami. Kalau gak bisa dibawa balik dengan cara halus, ya dengan cara kasar dikit gak apa-apa kali, ya?"
"Kasar banget juga gak apa-apa, Er," sahut Elang sambil terkekeh.
"Kalian semua hati-hati, ya," ujar Nia, ibu dari Asel dan Restu. Untuk beberapa saat mereka sempat terlupa jika di sana juga ada orangtua dari Asel dan Restu.
"Keselamatan nomor satu, gak boleh diganggu gugat," ucap Akbar ikut menimpali.
"Siap, Om Akbar, Tante Nia," jawab mereka bersamaan sambil memberikan hormat pada Akbar dan Nia. Kedua orang tua Asel dan Restu itu tersenyum. Mereka merasa beruntung, karena anak-anak mereka berada di lingkungan orang-orang yang tepat.
"Kami pamit dulu ya om, tante ...," pamit Valerie dan yang lain sambil mencium tangan Nia dan Akbar secara bergantian.
__ADS_1
"Kami janji akan bawa sahabat kita itu malam ini juga, Sel," janji Gema pada sahabatnya itu.
"Sip, gue percaya sama kalian," ucap Asel sambil mengacungkan jempolnya.