Arakata

Arakata
Kelahiran Walfred


__ADS_3

"Sepuluh tahun lalu, elo cari keberadaan gue?" tanya Valerie sambil menyeringai.


"El-elo ... elo siapa?" tanya Alex dengan terbata. Ia tersungkur karena tendangan dari Valerie. Kini Valerie berjongkok di hadapannya untuk menyamakan tinggi, posisi yang sama saat tadi ia memperlakukan Rama.


"Bukankah sepuluh tahun yang lalu, elo nyari gue? Panglima perang Arakata yang lo katain pengecut karena melarikan diri. Ingat? Atau perlu gue bantu buat ingat semua hal itu?" Valerie mengepalkan kembali tangannya, hendak memukul Alex. "Gue bukan orang yang bisa bersikap manis sama orang yang udah nyakitin keluarga gue. Apalagi sama pria pengecut yang meninggalkan wanita setelah mendapat semua yang ia inginkan." Valerie mencengkeram kerah baju Alex, membuat pria itu meringis kesakitan. "Lawan gue! Jangan diem aja kayak pengecut, Christo Alexander."


Alex membulatkan matanya, jarang ada yang tahu nama lengkapnya. Termasuk anggota-anggotanya di Brandalz, tapi kenapa gadis asing di hadapannya itu bisa tahu tentang hal itu.


"Elo, elo si-siapa ...."


"Elo lupa sama gue, atau sengaja elo lupain semua hal yang berhubungan dengan Gi?"


"Gi? Gi Sang Hee?" tanya Alex, wajahnya memucat. "Apa Gi yang elo maksut adalah Gi Sang Hee?"


"Iya, Gee Sang Hee, gadis Korea lugu yang lo buat cinta mati sama lo. Setelah elo dapetin kehormatannya, elo campakkan begitu aja! Elo udah ingat, kan? Gue teman Gi, lima tahun lalu Gi ngenalin cowok yang disukainya, dan itu elo. Mungkin elo dengan mudah bisa lupain keberadaan gue, tapi enggak dengan gue. Sampai kapanpun gue gak bakal lupain wajah seorang pengecut yang telah merenggut masa depan sahabat gue. Waktu pertama kali gue lihat elo tadi, gue udah bisa ngenalin elo. Dan bayangan-bayangan tentang penderitaan Gi berputar lagi di otak gue! Bangsat!" Valerie memukul wajah Alex lagi dengan tinjunya hingga babak belur.


"Berhenti, Eri. Anak orang bisa mati," cegah Valero. Valero memeluk tubuh Valerie dari belakang, agar gadis itu tidak melakukan tindakan yang nekat. Tapi percuma, gadis itu sedang dikuasai amarah hingga tenaganya bertambah berkali-kali lipat.


"Mati? Malah hal itu yang gue harepin, gue mau dia mati di tangan gue. Mungkin kematiannya bisa menebus dosa-dosa bajingan ini!" teriak Valerie sambil terbahak, sorot mata kejam itu bukan lagi sorot mata Valerie yang selalu bersikap sabar dan menggunakan akal sehat.


Hal itu membuat perhatian sahabat-sahabatnya beralih padanya. Elang langsung berlari menghampiri Valerie, begitupun dengan Braga, Bagus, dan sahabat-sahabat yang lainnya.


"Kamu kenapa, Sayang?" Elang menarik tubuh Valerie sekuat tenaga dan memeluknya.


"Lepasin gue!" bentak Valerie, ia mendorong tubuh Elang dengan sekuat tenaga. "Gak ada yang bisa lindungi dia dari gue. Berani ikut campur, gue habisin sekalian!"


"Buruan pergi dari sini! Sebelum elo mati konyol sama sahabat gue!" bentak Gandi pada Alex, Samuel, dan anggota Brutalz yang lainnya.


"Enggak," sahut Alex dengan lirih. Ia berusaha melangkah dengan sisa-sisa tenaganya, ia mendekat ke arah Valerie. "Tolong kasih tahu ke gue, gimana kabar Gi sekarang?"


"Elo tanya kabar Gi?" tanya Valerie, "lima tahun berlalu setelah kelakuan bejat lo, dan baru sekarang elo tanya kabarnya, lucu banget." Valerie terbahak kembali, ia lebih mendekat pada Alex, hingga mereka sekarang berhadapan. Gadis itu mengambil pisau lipat dari saku jaket Alex, ia membuka pisau itu. Mengarahkannya tepat di depan leher pria yang berada di hadapannya itu.


Alex tidak melawan sama sekali, hingga pisau lipat itu menggores sedikit kulit lehernya. Ia menerima rasa perih itu, seandainya rasa perih itu bisa menghapuskan semua dosa-dosa di masa lalunya.


"Percaya sama gue, setelah kejadian itu gue langsung cari dia. Tapi nihil, dia udah nikah sama orang lain," sahut Alex, wajahnya terlihat serius.


"Nikah? Elo dapat berita itu dari siapa, bangsat!" Valerie kembali menendang perut Alex, hingga pria itu tersungkur. "Setelah kepergian lo, gue sama Raja yang ngerawat Gi. Sampai ... sampai saat-saat terakhirnya." Setetes air bening mengalir di pipinya,


"Saat terakhir? Mak-maksut lo ... maksut lo, Gi udah gak ada?" Alex membulatkan matanya, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Siapa yang bilang ke elo kalau Gi udah nikah sama orang lain?"


"Sun Hee."


"Brengsek! Kan elo tahu kalau tuh cewek gatel gak suka sama Gi, dia selalu ngerecokin hubungan lo sama Gi. Terus kenapa elo masih percaya omongannya! Gue robek juga leher lo!" Valerie mengarahkan pisau lipatnya tepat di leher Alex.

__ADS_1


"Gue pinjem pisaunya dulu ya, Er ... mau ngupas mangga, entar elo gue bagi, deh!" Bagus mengambil pisau di tangan Eri dengan perlahan. Valerie menengok padanya, mata cantik itu melotot menatapnya. "Waduh, jangan melotot napa, Er? Entar lepas mata lo, susah mungutinnya." Setelah mendapatkan pisau lipat itu, Bagus memberikannya pada Andi. "Buang tuh, ngeri gue!"


"Napa malah dikasih gue, mana ada darah tuh cowok tengil," gerutu Andi, pria itu menatap jijik pada pisau yang ada ditangannya. Dasar, anak geng apa mereka? biasa berkecimpung dengan kekerasan, tapi ngelihat darah sedikit udah pada pasang tampang jijik, hahaha.


"Terus, apa alasan lo tega ngerusak Gi? Dia udah percaya banget sama elo, tapi dengan teganya elo malah mengambil kehormatan yang selalu dijaganya!"


"Gue gak tau, malam itu ada orang yang ngejebak ngue. Ada yang naruh obat perangsang di minuman gue. Gue balik ke kamar hotel, gue juga gak tahu kenapa ada Gi kamar hotel gue. Dan gue ...."


"Brengsek! Saat itu Sun Hee bilang ke Gi, kalau elo nunggu dia di kamar. Ada yang mau diomongin, dan itu hanya siasat dari wanita ular itu! Brengsek, kenapa gue gak sadar saat itu!" Valerie mengacak rambutnya kasar. "Terus, kenapa saat itu elo langsung ninggalin dia, Hah!"


"Gue gak ninggalin dia, gue pergi sebentar karena ada urusan dengan bokap gue. Gue nulis surat agar dia tetap nunggu gue di kamar hotel. Gue minta dia untuk tidak takut, karena setelah itu gue akan nikahin dia. Tapi setelah gue kembali ke kamar, dia udah gak ada di sana. Sun Hee memberikan surat, yang katanya dari Gi. Isi surat itu mengatakan bahwa Gi akan segera menikah dengan pria yang dijodohkan dengannya. Saat itu gue kecewa, dan gue memilih kembali ke Indonesia."


"Emang biang kerok tuh cewek! Gi menunjukkan surat dari elo yang dititipkan ke Sun Hee. Isi surat itu mengatakan kalau elo udah puas karena udah ngambil sesuatu yang berharga dari dia. Elo bakal kembali ke Indonesia, elo mutusin hubungan dengan Gi. Dan elo minta ke Gi untuk jangan cari tahu tentang lo lagi."


"Brengsek," umpat Alex, "kenapa saat itu gue gak tanya langsung ke Gi, kenapa gue malah melarikan kayak orang pengecut."


"Emang elo pengecut," sahut Valerie santai.


"Gi beneran udah gak ada?" tanya Alex, matanya berkaca-kaca.


Valerie mengangguk. "Setelah kepergian lo, kondisinya jadi menurun. Dia sering sakit-sakitan, ditambah kondisinya yang sedang mengandung anak kalian."


"Mengandung? Gi mengandung saat itu?"


"He'em, elo tahu sendiri kalau penyakit yang diderita Gi semakin hari semakin memburuk. Dokter menyarankan pada Gi untuk tidak meneruskan kehamilannya, tapi ia tidak setuju. Dia tetap mempertahankan kandungannya, dia bilang jika hanya anak yang dikandungnya yang menjadi kenangan yang tersisa tentang elo. Beberapa hari setelah melahirkan, kondisinya semakin memburuk. Dan akhirnya ia sudah tidak bisa bertahan lagi."


"Bunuh gue, gue gak pantas buat hidup," pinta Alex pada Valerie.


"Ide yang bagus," jawab Valerie sambil tersenyum.


"Er, aku gak mau kalau kamu jadi pembunuh," cegah Elang, pria itu merasa khawatir dengan wanitanya itu.


"Udah, diem aja," ucap Valerie enteng sambil mengecup pipi Elang. Membuat wajah Elang merona seketika.


"Anjir, lagi adegan menegangkan, nih! Muke lo jangan mupeng gitu, Lang," ucap Roxy sambil memukul lengan Elang.


Valerie mengambil ponsel di saku jaketnya, ia menghubungi seseorang. "Hallo, Sayang," sapa Valerie pada seseorang yang sedang dihubunginya. Hal itu membuat wajah Elang yang merona, langsung waspada seketika.


"Cia, habis dicium langsung bilang sayang sama yang lain," ucap Gaung dengan wajah datarnya, membuat Elang tambah jengkel.


"Sayang, ada yang mau omong sama kamu, bentar ya." Valerie memberikan ponselnya pada Alex, membuat dahi pria itu berkerut bingung. "Namanya Gio Alexander, jagoan lo dan Gi Sang Hee."


Alex melebarkan matanya, ada secercah harapan yang sinar matanya.


"Gio Alexander? Anak gue dan Gi?"

__ADS_1


"Iya, kenalin siapa diri lo, tebus kesalahan lo selama lima tahun ini. Kalau udah selesai teleponnya, balikin lagi ke gue ... jangan lo jual ponsel gue. Gue tunggu di luar, di sini engap. Gue mau ngadem dulu," ucap Valerie sambil melangkahkan kaki ke luar markas Brutalz, diikuti teman-temannya yang lain.


"Nih, kita apain ketua belagu sama antek-anteknya?" tanya Gema pada para seniornya.


Mereka duduk melingkar di pelataran markas Brutalz, dengan Samuel dan anggota-anggotanya yang lain berada di tengah.


"Tawarin mereka untuk taubat dan jadi sekutu Arakata, kalau gak mau langsung giring ke kantor polisi aja," jawab Elang dengan tegas.


"Tuh, denger sendiri, kan?" ucap Rama pada Samuel. "Gimana keputusan lo sebagai ketua, nasib anak buah lo ada di tangan lo? Silahkan teruskan ego lo kalau elo gak peduli dengan nasib anak buah lo."


Samuel hanya menunduk tanpa menjawab.


"Heleh, malah diem!" gerutu Abdul.


"Gue tadi ngeri lihat elo, Er," celetuk Bagus, "elo udah kayak psikopat tadi."


"Elo juga punya sisi alter ego sama kayak gue?" tanya Braga.


Valerie menggelengkan kepala. "Bukan, gue ngelakuin semua hal tadi dengan kesadaran penuh dari gue, bukan karena dikuasai sisi lain dari diri gue. Sesaat tadi gue bener-bener mau habisin nyawanya."


"Hih, ini malah lebih parah dari Braga sama Bryan," ucap Andi, pria itu mengusap lengannya yang merinding. Untuk sesaat tadi ia merasa takut dengan sosok Valerie. Bukan hanya Andi, tapi semua yang ada di sana juga merasa ketakutan. Valerie yang tadi bisa dengan entengnya menghilangkan nyawa seseorang, tatapan matanya seperti seorang psikopat yang akan menyiksa mangsanya.


"Selama ini kalian terlalu tinggi menilai gue. Seperti manusia pada umumnya, gue juga punya ego dan emosi yang setiap saat bisa aja tersulut. Kalian kan paham kalau gue bukan orang yang sabar jika orang-orang di sekitar gue disakiti,"


"Elo kenal sama cewek yang namanya Gi itu, Er?" tanya Robert, pertanyaan itu juga mewakili pertanyaan yang ada di otak teman-temannya yang lain.


Valerie mengangguk. "Gi Sang Hi, gadis yang udah dianggap adik kandung oleh Raja. Mereka satu panti asuhan waktu kecil, mereka diadopsi oleh keluarga yang berbeda, tapi mereka sama-sama diadopsi oleh orang Indonesia yang tinggal di sana. Gi gadis polos yang terlalu mudah percaya, ia juga mempunyai penyakit bawaan dari lahir hingga orang tua kandungnya membuangnya di depan pintu panti asuhan, kami khawatir jika dia dimanfaatkan seseorang. Suatu ketika ketakutan kami itu terjadi, dengan menangis histeris ... dia menceritakan bahwa kekasihnya telah mengambil kehormatannya dan pergi begitu saja. Semakin hari kondisinya semakin menurun, sampai kelahiran putranya, ia masih bisa bertahan beberapa hari." Valerie mengusap tetes bening yang mengalir lagi dari netra indahnya.


"Setelah kepergiannya, Gio diasuh oleh orang tua angkat Gi. Gue dan Raja selalu menjenguknya hampir setiap hari, di sela-sela kesibukan kami," lanjut Valerie, "Gio mengira jika gue dan Raja adalah orang tuanya." Valerie tersenyum mengingat hal itu.


"Raja selangkah lebih maju dari elo, Lang," bisik Bagus di dekat telinga Elang. "Mereka udah punya anak, elo nyosor dikit aja udah langsung ditampol Eri." Perkataan Bagus itu langsung mendapat tatapan tajam dari Elang.


"Sekarang Gio udah bisa berkomunikasi dengan ayah kandungnya. Sosok yang selalu ia rindukan selama ini, semoga setelah kesabarannya selama ini, si mungil Gio bisa menemukan kebahagiannya, Amiin," ucap Valerie yang diamiin'i teman-temannya.


"Gue bubarin Brutalz," ucap Alex yang baru keluar dari arah dalam markas. Pria  itu mengembalikan ponesel milik Valerie sambil mengucapka terimakasih. "Nama menunjukkan identitas geng itu sendiri. Gue gak mau anggota gue terus-terusan melakukan hal yang salah."


"Gue punya ide buat nama geng lo," ucap Valerie.


"Apa?" tanya Alex.


"Walfred, dalam bahasa Jerman berarti penguasa yang cinta damai. Setuju?"


"Gue setuju, elo gimana Sam?" tanya Alex pada Samuel.


"Gue setuju, Bang," jawab Samuel sambil mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


"Oke, mulai saat ini Walfred jadi anggota sekutu Arakata," ucap Alex kemudian, perkataan Alex mendapat anggukkan dari Samuel dan anggotanya yang lain.


__ADS_2