
Titik terendah manusia adalah saat ia merasa kalah atas semua hal yang ingin ia menangkan. Hanya orang yang benar-benar berhati kuat yang bisa bertahan, bukan malah memilih jalan pintas karena takut menghadap[i kekalahan atas dirinya sendiri.
***
Sudah lebih dari tiga puluh menit Valero duduk gelisah di ruang tunggu IGD. Beberapa waktu yang lalu, pria tersebut mendapatkan telepon kalau adik perempuannya berada di rumah sakit, dikarenakan kecelakaan. Jangan tanyakan bagimana perasaannya sekarang, kacau. Baru seminggu yang lalu ia kehilangan gadis yang ia sayangi, sekarang ia harus menghadapi kenyataan bahwa adik perempuannya tidak sadarkan diri di dalam sana.
"Bagaimana keadaan Zizah dan janinnya, Ro?" tanya Choky, begitu mendapatkan kabar dari Valero, Choky langsung bergegas ke rumah sakit.
"Belum tahu," jawab Valero sambil menggelengkan kepala. "Dokter masih menangani Azizah."
Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruang IGD, Pandangan Choky dan Valero langsung tertuju pada dokter itu.
"Keluarga Ibu Azizah Rahwana," panggil sang dokter.
"Saya, Dok," jawab Choky dan Valero bersamaan.
"Saya mau memberitahukan bahwa benturan dalam kecelakaan itu mengakibatkan janin dalam kandungan Ibu Azizah tidak bisa diselamatkan. Kami harus segera melakukan tindakan kuret, kami membutuhkan tanda tangan suami dari Ibu Azizah sebagai tanda persetujuan tindakan."
Choky dan Valero terdiam seketika, mereka bingung bagaimana nanti cara menjelaskan pada Azizah tentang kondisinya sekarang. Wanita berhijab itu pasti akan merasa sangat sedih, karena kehilangan buah hatinya.
"Biar saya yang tanda tangan, saya kakaknya," ucap Valero, kemudian mengikuti Suster untuk mengurus surat persetujuan.
Choky terduduk lagi di kursinya, dia mengusap kasar rambut lebatnya. Baru saja ia akan memulai hidup bahagia bersama Azizah dan calon anak yang dikandung perempuan itu. Namun, takdir berkata lain ... Azizah dan Choky harus kehilangan anak itu sebelum sempat merawatnya.
Setelah Azizah melewati tidakan kuret, dan kondisinya sudah stabil ... wanita itu dipindah ke ruang rawat inap. Valero dan Choky masih setia menemani.
Setelah sadar dan mendengar kabar tentang calon anaknya yang tiada, Azizah terus menangis dalam pelukan Valero.
"Adek gagal, Bang," lirih Azizah dengan sesenggukkan. "Adek gagal menjaga anak adek, adek bukan ibu yang baik."
"Ssstttt, kamu gak boleh ngomong begitu, Dek," ucap Valero sambil mengusap punggung adik perempuan yang sangat disayanginya itu..
"Azizah," panggil Choky dengan nada lirih. Anak yang dikandung Azizah memang bukanlah anaknya. Namun, rasa sakit itu tetap ada, saat anak yang dinantikannya itu tiada sebelum sempat melihat indahnya dunia.
"Abang pamit ke kantin dulu ya, Dek. Abang mau beli sesuatu," pamit Valero, pria itu ingin memberikan kesempatan untuk Choky dan Azizah berbicara berdua. Hal itu mendapat anggukkan dari Azizah.
Choky melangkahkan kaki, menghampiri calon istrinya itu, ia duduk di kursi sebelah ranjang Azizah.
__ADS_1
"Azizah, kamu yang sabar, ya. Aku tahu kalau kamu perempuan yang tegar," ucap Choky sambil menggenggam pergelangan tangan Azizah.
"Ini salah Azizah, Bang," jawab Azizah masih dengan air mata yang mengalir di pipi mulusnya. "Seharusnya Azizah gak nyeberang sembarangan."
"Stttt, kamu gak salah, ini sudah kehendak Allah. Jadi, kamu jangan terus-terusan menyalahkan dirimu sendiri. Kamu tadi kenapa di jalanan sendiri? Kalau mau pergi, kamu kan bisa hubungi aku, aku bisa antar kamu."
"Azizah gak mau ngerepotin Bang Choky terus. Azizah tadi chek-up ke dokter. Setelah di-USG, terlihat ada kelainan sama calon anak Azizah, Bang. Mungkin karena ini anak hasil dari hubungan sedarah," ucap Azizah dengan sesenggukkan.
"Semua sudah terjadi, kamu harus bisa ikhlas. Aku juga merasa sedih, karena aku sudah menganggap anak yang kamu kandung itu seperti anakku sendiri."
Choky meraih Azizah dalam dekapannya, dibelainya kepala sang calon istri yang tertutup hijab.
"Kita batalin pernikahan kita aja, Bang," ucap Azizah, membuat Choky membeku seketika. "Alasan kenapa Bang Choky mau menikahi Azizah kan sudah tidak ada, jadi mending kita batalin aja. Azizah gak mau menjadi beban abang lebih lama lagi."
Choky melepaskan pelukannya, ditatapnya mata jernih perempuan yang sebentar lagi seharusnya menjadi istrinya.
"Jadi, selama ini kamu menganggap aku ingin menikahi kamu hanya karena bayi dalam kandungan kamu?" tanya Choky dengan nada tidak percaya.
Azizah mengangguk lemah. "Dari awal kan emang Bang Choky mau menikahi Azizah karena Azizah hamil, kan?"
akan menikahimu saat kondisi kamu sedang hamil. Namun, bukan berarti aku tidak mencintaimu. Aku mencintaimu, Azizah ... sangat-sangat mencintaimu."
Wajah Azizah merona mendengar pengakuan mantan bosnya yang sebentar lagi akan berganti status menjadi suami itu.
"Maaf, jika aku tidak bisa menyatakan perasaan cinta secara gamblang. Aku bukan tipe pria yang mudah mengutarakan perasaan. Asal kamu tahu, setiap kali aku ingin mengungkapkan perasaan, bibir ini seketika terkunci. Kamu boleh menertawakanku, tapi aku sungguh merasa gemetar saat kata-kata cinta itu akan keluar dari bibirku. Aku akui, bahwa aku ini adalah pria pengecut, tapi aku mohon ... jangan hukum sikap pengecutku ini dengan cara pergi dari hidupku. Kehadiranmu sudah menjadi candu bagiku. Aku mohon dengan sangat, jangan tinggalkan aku, Azizah Rahwana."
Choky menangkupkan kedua telapak tangannya, memohon pada perempuan yang sangat ia cintai itu.
Azizah tersenyum sambil mengangguk, membuat senyum itu menular pada pria di hadapannya.
"Azizah gak akan ninggalin Bang Choky," jawab Azizah, membuat Choky bernafas lega. Hilang sudah semua ketakutannya. "Kita akan tetap menikah, Azizah juga mau punya imam yang sebaik Bang Choky. Azizah akan selalu ada di samping abang, menemani abang dalam susah dan senang, Azizah akan selalu berusaha agar nanti bisa menjadi seorang istri yang baik untuk Bang Choky."
"Terimakasih, Sayang," ucap Choky sambil mengecup tangan calon istrinya itu.
Sementara itu, Valero yang berada di kantin rumah sakit, mendapatkan telepon dari pihak kepolisian. Ia mendapatkan kabar bahwa ayah tirinya yang tidak lain adalah Ryan Rahwana telah meninggal dunia karena bunuh diri. Pria paruh baya itu gantung diri di selnya.
Pria itu terdiam, entah apa yang dirasakan oleh hatinya setelah mendapat kabar itu. Ia sendiri pun bingung, apakah ia harus bersedih karena ayah tirinya meninggal, ataukah dia harus bahagia karena orang yang menjadi penyebab kematian ayah kandungnya itu sudah tewas mengakhiri hidupnya sendiri.
__ADS_1
***
"Gue udah sehat," ucap Riki, setelah makan pagi, ia dan Valerie santai menonton televisi. Valerie membuat kentang goreng dan tahu crispy untuk camilan mereka.
"Terus?" tanya Valerie tanpa mengalihkan pandangan dari film kartun yang sedang ia tonton.
"Terimakasih, karena elo udah ngerawat gue hingga gue kembali sehat."
"Hm," jawab Valerie lagi, tangannya merayap-rayap mencari kentang goreng yang tadi ada di sebelahnya, tapi dengan iseng Riki memindahkannya. Pria itu terkekeh melihat tangan Valerie yang masih mencari-cari kentang goreng dengan pandangan yang masih lurus ke depan. Ia memegang tangan Valerie itu dan menggenggamnya. Hal itu membuat pandangan Valerie langsung berpindah padanya.
"Tapi gue tetap sama keputusan gue. Semalam gue udah ngasih lo kesempatan buat kabur, mumpung saat itu kondisi gue masih lemah. Tapi lo gak ambil kesempatan itu, lo malah ngerawat gue ... orang yang jelas-jelas udah ngehancurin hidup lo." Riki memandang lembut pada Valerie, yang dipandang malah mengerutkan dahinya, bingung dengan apa yang disampaikan Riki. "Sekarang gue udah sehat, tenaga gue udah pulih. Dan seperti apa yang gue sampaikan semalam, gue gak bakal lepasin elo dengan mudah, gue tetap akan kurung lo di rumah gue."
"Dan seperti apa yang gue katakan juga semalam, kalau gue gak bisa keluar dari rumah ini. Gue akan bawa keluarga dan teman-teman gue ke sini. Malahan, gue gak perlu keluar biaya buat makan, elo yang tanggung," sahut Valerie, ia menarik tangannya yang digenggam Riki, kemudian ia mengambil kentang goreng yang berada di sebelah pria itu. Dengan posisi yang seperti itu, Riki bisa mencium aroma rambut Valerie yang wangi, tapi Valerie tidak menyadari jika posisi mereka itu berbahaya, berbahaya buat iman Riki. Hehehe.
Baru saja ia hendak mengecup pipi Valeri, perhatiannya teralih pada layar televisi yang menampilkan berita sekilas info, yang memberitakan tentang Ryan Rahwana yang telah mengakhiri hidupnya di dalam sel penjara. Valerie pun langsung membenarkan posisi duduknya kembali, yang ikut melihat berita tersebut.
Riki terus memandang layar televisi, pria itu tidak bergerak dan hanya terdiam. Perlahan tetesan air mata membasahi pipi pria itu, hal itu tidak luput dari pandangan Valerie.
Valerie tahu, sejahat-jahatnya Ryan Rahwana, seburuk-buruk sikapnya sebagai manusia, ia tetaplah ayah dari Riki Rahwana, dan ia pun tahu bahwa Riki sangat menyayangi ayahnya itu, terlepas dari semua kebohongan yang telah diberikan oleh ayahnya itu selama ini padanya.
Valerie meraih tubuh Riki dalam pelukannya, berusaha memberikan kekuatan pada pria itu.
"Gue tahu elo kuat, elo pasti bisa," ucap Valerie sambil menepuk-nepuk punggung Riki, persis seperti menenagnkan anak kecil yang sedang menangis.
"Gue udah gak punya siapa-siapa lagi sekarang."
"Elo masih punya Tante Atika, Valero, Azizah, Bi Ratmi, dan gue. Elo gak akan sendiri, gue masih di sini."
Mendengar perkataan Valerie, membuat tangisan Riki semakin menjadi. Ia balas memeluk Valerie. Hal itu membuatnya merasa nyaman, rasa nyaman yang belum pernah ia rasakan selama ini. Pria itu sudah tidak bisa berkata-kata lagi, yang ia lakukan hanya menangis dalam pelukan seorang gadis yang sudah ia sakiti. Gadis yang sudah ia renggut kebahagiaannya, tetapi gadis itu malah menghadirkan kebahagiaan untuknya ... kebahagiaan yang selama ini berusaha ia cari. Valerie Livia Laksmono, tak akan pernah ia melupakan nama itu. Nama seseorang yang telah mengajarkan banyak hal padanya.
__ADS_1