
"Lebih baik kita lumpuhkan dulu anak buahnya, biar pertahanan Dito melemah," ucap Cakrawala.
"Jangan," sahut Valerie, "memangkas daun dan dahan hanya akan memperkuat akar. Dan memberi kesempatan pada pohon untuk tumbuh lebih subur."
"Jika mau mematikan pohon, matikan dulu akarnya," ucap Asel ikut menimpali perkataan Valerie. "Setelah sang akar tak berdaya, maka tak akan ada kesempatan lagi bagi tunas-tunas lain yang akan tumbuh."
"Otak kalian nyatu, ya? Kok bisa sinkron gitu?" tanya Gema, pertanyaan itu juga yang ada di otak Elang dan yang lainnya.
"Jangankan otak, yang lain juga udah ada yang nyatu," sahut Asel dengan muka jahilnya.
Hal itu membuat Elang dan Cakrawala langsung siaga satu.
"Wah nyari penyakit nih pucuk upil," ucap Bondan.
"Maksut gue tuh yang nyatu cara berpikir kami," sahut Asel lagi. "Pikiran kalian nih yang kotor, cuci dulu sono!"
"Mulut lo yang gue cuci entar," jawab Elang cepat dengan wajah yang masih sebal.
"Emang bener kata orang kalau pria itu makhluk dengan gengsi segede Gaban," sindir Samuel, "gayanya ninggalin ... tapi saat ada yang mau gantiin langsung posesif."
"Elo juga pria, kalau elo lupa," sahut Elang tak mau kalah.
"Gue mah masih pemuda, Bang ... belum pria. Gue masih pada fase suka-sukaan, belum ke taraf menentukan cinta untuk menjadi pendamping hidup. Dan gue pastiin, kalau gue udah jadi pria dewasa ... gue bakal jaga wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anak gue. Gak akan gue lepasin, kalaupun akhirnya kami gak bisa bersama, paling enggak gue udah berusaha menjadi pria yang pantas."
"Aaaaa, Sam idaman banget, deh," ucap Valerie sambil bertepuk tangan heboh. "Mau dong jadi calon ibu dari anak-anaknya." Valerie memiringkan kepala sembari mengedipkan mata, terlihat sangat imut dan manis.
"Bukannya ngerasa seneng, kok gue malah merinding, ya," ucap Samuel sambil mengusap tengkuknya.
"Gimana gak merinding, noh!" sahut Bondan sembari menunjuk ke arah Cakrawala, Elang, dan Valero yang sedang menatapnya tajam, seakan ingin menerkam.
"Astaga, tewas awal nih gue," ucap Samuel sambil menepuk dahinya.
"Palelo, ngapain lo tiba-tiba ada di sebelah gue? Udah kayak demit aja, tiba-tiba nongol," gerutu Elang pada Valero, yang entah sejak kapan sudah ada di sampingnya.
"Mau nengok'in jodoh gue," jawab Valero sambil menatap lekat pada Valerie.
"Jodoh apaan?" tanya Elang lagi.
"Ya jodoh, lah. Nama kami aja udah mirip, Valero dan Valerie. Tertulis di undangan pernikahan bagus, tuh," ucap Valero bangga.
"Cuma kebetulan nama yang mirip," celetuk Cakrawala ikut menimpali. "Tahu sama tahi namanya mirip tuh, tapi mereka gak berjodoh."
"Siapa, sih?" tanya Valero pada Elang, Valero menunjuk Cakrawala dengan dagunya.
"Entah, gue aja baru lihat sekarang," sahut Elang asal.
"Kalian niat ngomongin gue gak sih!" protes Cakrawala pada Elang dan Valero. "Umumnya, orang kalau ngomongin tuh suaranya pelan-pelan, eh ini malah teriak-teriak!"
Elang dan Valero hanya mengangkat kedua bahunya cuek tanpa menjawab perkataan Cakrawala.
__ADS_1
"Kami diminta ke sini hanya untuk ngelihat mereka bertiga adu mulut gak jelas, Kak?" tanya Gema, Asel dan yang lainnya ikut menganggukkan kepalanya.
"Biarin dulu aja, Ma," sahut Valerie dengan nada santai tapi menusuk. "Kalau dalam dua menit mereka masih pada ngoceh gak jelas, bakal gue lempar satu -satu dari jendela."
Mendengar perkataan Valerie, membuat Elang, Cakrawala, dan Valero langsung terdiam. Mereka membenarkan posisi duduk mereka, penampakan mereka sekarang persis seperti murid yang menunggu penjelasan dari gurunya. Hal itu membuat Gema, Asel, dan yang lainnya terkekeh.
"Katanya sangar, tapi diancam Kak Eri dikit langsung pada kicep," celetuk Abdul yang otomatis mendapat tatapan tajam dari ketiga pria itu.
"Ero, karena elo ada di sini, mau gak mau elo juga harus ikut," ucap Valerie.
"Kemanapun kamu melangkah, aku pasti ikut, Sayang," sahut Valero sok puitis.
"Wah, bagus nih," ucap Cakrawala, "gue ajak Eri naik gunung, elo kan ngikut ... begitu elo udah sampai tepi jurang, tinggal jorokin. Udah, lewat nyawa lo."
"Elo siapa, sih? Semangat bener bikin gue lewat," protes Valero sambil melotot pada Cakrawala.
"Siapapun gue, gue gak suka sama elo, titik," sahut Cakrawala cuek.
"Ye, siapa juga yang suka sama elo!" seru Valero heboh. "Gue masih normal, masih ada Neng Eri yang mau gue nikahin. Ogah gue sama elo! Waduh!" Valero berteriak karena mulutnya ditabok oleh Elang. Sang pelaku pun buang muka seolah tidak tahu apa-apa.
"Asel, bantu gue ngangkut nih orang satu-satu, mau gue lempar dari balkon," ucap Valerie byang langsung dijawab Asel dengan penuh semangat.
"Siap, Kak!" seru Asel sambil memberikan hormat pada Valerie.
***
Dengan agak panik, Valerie masih setia mengacak-acak tas kecilnya. Sekarang gadis itu sedang berada di depan kasir sebuah mini market. Ia berbelanja beberapa snack dan minuman, begitu ia sudah berada di depan kasir dan hendak membayar, ternyata dompetnya tidak ada di dalam tas yang ia bawa.
Petugas kasir yang berada di hadapan Valerie diam sejenak, setelahnya ia tersenyum dan mengangguk.
"Iya, Kak. Gak apa-apa, kok," sahut petugas kasir itu dengan ramah.
"Terimakasih," ucap Valerie. Saat hendak berbalik dan meninggalkan mini market itu ada sebuah suara yang membuatnya berhenti melangkah.
"Hitung sekalian dengan belanjaan milik mbaknya itu," ucap sebuah suara bariton. Pria itu meletakkan sebuah air mineral dan rokok di meja kasir.
"Anu, gak usah Mas," tolak Valerie sambil menggelengkan kepalanya. "Belanjaan saya banyak."
"Gak apa-apa, belanjaan cuma sekantong begini gak bakal bikin dompet saya jadi kempes," jawab sang pria sambil tersenyum. "Ini belanjaan kamu." Pria itu memberikan belanjaan milik Valerie yang sudah dihiting oleh sang petugas kasir.
"Tapi Mas ... saya jadi bener-bener ngerasa gak enak," sahut Valerie, ia masih ragu menerima belanjaan yang telah dibayar oleh pria yang tidak dikenalnya itu.
"Dikasih micin aja biar enak," sahut sang pria sambil terkekeh. "Ini buruan diambil, gak mungkin buat saya karena saya gak minum beginian." Pria itu menunjuk sebotol kiranti yang ada di dalam plastik belanjaan milik Valerie.
"Ah, iya," sahut Valerie, ia langsung mengambil plastik belanjaan yang masih dipegang sang pria asing. "Maaf, saya lupa kalau beli itu." Wajah Valerie memerah karena menahan malu.
"Hahahaha, kamu lucu," ucap sang pria sambil terkekeh. "Kamu pulang naik apa?" Pria itu bertanya begitu mereka sudah berada di luar mini market.
"Saya tadi naik ojek online," sahut Valerie, ia meringis karena masih merasakan nyeri di kakinya.
__ADS_1
"Kaki kamu sakit?"
"Sedikit, karena kecelakaan kecil," sahut Valerie.
"Saya antar pulang, gak baik wanita pulang sendirian malam-malam begini."
"Ah, gak usah. Saya bisa pesan taxi online," tolak Valerie.
"Bukannya kamu gak bawa dompet?"
"Saya bisa bayar begitu sampai di rumah."
"Iya juga sih, tapi saya tetap gak bisa membiarkan seorang wanita cantik naik taxi sendirian malam-malam begini. Ayo saya antar." Pria itu menggandeng tangan Valerie dan menuntun gadis itu menuju mobilnya.
Dengan patuh, Valerie duduk di kursi penumpang di sebelah sang pria yang baru saja ia kenal itu. Mereka saling mengobrol hingga tidak terasa sudah sampai di depan rumah Valerie.
"Terimakasih atas tumpangan dan traktirannya," ucap Valerie sambil memperlihatkan kantong belanjaannya.
"Kembali kasih," sahut sang pria sambil tersenyum. "Ngomong-ngomong, dari tadi kita ngobrol ngalor-kidul tapi kita belum tahu nama masing-masing. Saya Dito, nama kamu siapa?"
"Valerie, pangggil saja Eri," jawab Valerie sambil menerima uluran tangan dari Dito.
"Eri, karena kita udah saling kenal ... jangan formal lagi ya. Elo udah simpan nomer gue, kan? Kapan-kapan kita bisa ketemuan lagi dong."
"Bisa," jawab Valerie sambil menganggukkan kepalanya. "Gue masuk rumah dulu, sekali terimaksih."
"Sama-sama," jawab Dito sambil melambaikan tangannya. "Target sudah masuk perangkap, ternyata begitu mudah menjerat seorang Valerie Livia Laksmono." Dito tersenyum miring sambil memperhatikan punggung Valerie yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya.
Dengan perlahan Valerie masuk ke dalam rumahnya, sesekali ia mengaduh karena rasa nyeri di kakinya. Begitu sampai di ruang tamu, gadis itu melemparkan kantong belanjaannya pada segerombolan pemuda yang ada di sana.
"Cemilan buat kalian," ucap Valerie yang membuat pemuda-pemuda itu tersenyum senang. "Ini spesial buat lo." Valerie melemparkan sebuah flashdisk kepada Asel. "Gue udah salin file-file penting di sana. Tugas lo ... cari hal yang sekiranya bisa bantu kita buat bongkar kejahatannya."
Saat sampai di sebuah taman dekat mini market, Valerie meminta tolong pada Dito untuk membelikannya beberapa jajanan yang ada di sana. Saat Dito sedang menunggu makanan, Valerie buru-buru meretas file-file penting yang ada di laptop milik Dito dan menyalinnya di flashdisk yang ia bawa. Dito meletakkan laptop itu di kursi belakang, Valerie dengan mudah bisa membuka paswordnya atas bantuan dari Cakrawala lewat chat.
"Untuk sementara kalau ada hal yang penting, kalian chat gue lewat nomer Elang aja. Soalnya ponsel gue juga di-hack sama dia, dikira gue gak tahu kalau dia ngeretas ponsel gue waktu nyimpen nomernya tadi. Gue pura-pura gak tahu aja," ucap Valerie sambil terkekeh. "Kita ikuti permainannya, kita pura-pura terperangkap aja. Begitu dia udah merasa di atas awan, kita langsung hempaskan dia sampai di dasar bumi."
Semua yang ada di sana mengangguk sambil tersenyum. Semuanya memang sudah mereka atur, begitu pula dengan keberadaan Valerie yang berada di mini market langganan Dito. Valerie sengaja tidak membawa dompetnya saat Dito berada di sana.
Rencana awal mereka berhasil, Dito mengira ia sudah bisa menjerat Valerie. Padahal, dia sendiri yang sudah terjerat oleh siasat Valerie dan teman-temannya.
"Huek! Minuman apaan nih, rasanya gak jelas banget!" seru Abdul sambil mengusap mulutnya.
"Elo minum itu?" tanya Valerie sambil menunjuk botol minuman yang dipegang Abdullah.
"Ho'oh, minuman apaan sih ini, Kak? Gak enak banget," jawab Abdul, wajahnya sudah memerah karena menahan rasa tidak enak di tenggorokan dan lidahnya.
"Kiranti, minuman buat cewek pas datang bulan."
Jawaban dari Valerie membuat Abdul menganga.
__ADS_1
"Huahahaha! Mampus, nasib lo kayak Bagus dulu ... minum begituan. Hahahaha." Elang terbahak sampai memukul mukul bantal sofa.
"Cie, Abdul minum kiranti, aduin ke Starla ah, biar abis lo diledekin," ucap Hasan sambil terbahak, begitu pula dengan teman-temannya yang lain. Abdul hanya bisa menganga tanpa bisa berbuat apa-apa.