Arakata

Arakata
Hilang Akal


__ADS_3

Bagaimana aku bisa mempercayaimu, jika kau pun sering meragukanku.


***


"Dek, semalam Oma Lusi telepon. Beliau minta kamu untuk kuliah di sana, sekalian menemani beliau dan Opa Arga." ujar Laksmono saat mereka baru selesai sarapan pagi.


"Korea? Jangan, Dek," cegah Gerry, "entar gak ađa kamu, abang kesepian. Bosen abang kalau di rumah isinya cowok semua. Abang merasa gak nyaman, berasa berada di sarang penyamun." Gerry memeluk tubuhnya sendiri, mendramatisir keadaan. Membuatnya langsung mendapat tatapan tajam dari ķeempat pria lainnya di sana.


"Kalau gitu, elo aja yang kita kirim ke Korea, gantiin Eri," ujar Pratama.


"Kirim? Emangnya gue barang, Bang? Kalaupun barang, gue ini barang mewah," protes Gerry.


"Semewah apapun, elo tetap hanya sebuah barang. Yang tidak lebih berharga dari manusia," sahut Reyhan dengan seringaiannya, membuat Gerry berdecak sebal.


"Eyang gak mungkin mau jika Eri dibarter sama Gerry. Nyusahin, malah bikin eyang darah tinggi tiap hari," cerca Bayu, membuat Gerry tambah sebal karena tidak ada yang membela. Dia memandang ayahnya meminta bantuan. Namun, sang ayah hanya mengedikkan bahunya cuek. Membuat Gerry tambah merana.


"Nanti Eri pikirin lagi, Yah," jawab Eri, "sebenarnya Eri enggak keberatan jika harus kuliah di Korea. Eri juga udah kangen sama Oma Lusi dan Opa Arga. Tapi, Eri juga gak rela jauh dari ayah dan abang. Selama ini Eri gak pernah sekalipun tinggal jauh dari kalian." Eri tersenyum. Namun, ada kesedihan di binar matanya.


"Iya, Sayang," jawab Laksmono sambil mengusap lembut rambut sang putri. "Masih ada beberapa bulan sebelum kelulusan kamu. Jadi, masih banyak waktu untuk kamu memutuskan. Lagipula ayah sama abang-abang kamu bisa sering jenguk kamu di sana."


"Tapi, tetep aja Eri bakalan jauh dari kita, Yah," sela Gerry dengan tidak rela.


"Sudah, kamu jangan bikin adik kamu tambah bimbang, Ger. Semua keputusan ada di tangan Eri. Kamu berangkat sekolah bareng siapa, Er?" tanya Laksmono.


"Di jemput Gaung, Yah." Eri menyalami ayah dan abang-abangnya. "Eri berangkat dulu, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam," jawab kelima pria itu bersamaan.


Begitu membuka pagar, Valerie disuguhi pemandangan dua pria yang sedang adu pandang. Entah apa yang terjadi kepada dua pria itu sebelum kehadiran Valerie. Wajah kedua pria itu terlihat tegang.


Kedua pria itu adalah Elang dan Gaung. Begitu Valerie datang, Elang langsung menstater motornya dan pergi dari sana.


"Kalian kenapa? Kok mukanya tegang banget, kayak lagi nahan eek."


Gaung hanya tersenyum mendengar pertanyaan Valerie. Pemuda itu memakaikan helm pada Valerie.


"Buruan naik, entar kita telat."


"Ish," gerutu Valerie sambil naik motor vespa Gaung. "Tumben elo naik cipluk?" cipluk adalah nama vespa kesayangan Gaung.


"Gue lagi pengen yang klasik, biar romantis boncengan sama elo." Gaung mengedipkan sebelah matanya, terlihat ganteng maksimal. Valerie pun mengakuinya. Namun, entah mengapa Valerie tidak bisa membalas perasaan sahabatnya itu. Perasaannya masih terkunci oleh satu nama, Elang Rayan Garindra.


"Heleh, gombal gembel lo," Valerie duduk miring di boncengan motor Gaung. Tangannya sebelah kanan memeluk pinggang Gaung dan kepalanya bersandar di punggung pria itu. Jika dilihat, mereka seperti sepasang kekasih.


***


Elang pov


Pagi ini mood-ku berantakan. Tadinya aku berniat menjemput Eri untuk berangkat bersama kesekolah. Sekalian aku mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi akhir-akhir ini. Tapi ibunya Amelia menelepon, memintaku untuk menjemput anaknya.


Jujur, aku sudah merasa lelah dan jengah dengan sikap Amelia. Gadis manja yang cerewet dan banyak maunya. Berbeda dengan Eri yang mandiri, pintar, tangguh, berani,baik, sopan, jago masak. Hah, Bisa habis waktu seharian untuk menjabarkan apa saja kelebihan Eri. Gadis itu tidak akan bisa tergantikan sampai kapanpun.


Andai saja Amelia tidak menderita penyakit leukimia, aku tidak perlu menjaga gadis itu terus-terusan. Aku pun tidak akan lebih memilih menjaga Amelia ketimbang gadis yang jelas-jelas aku cintai, jika ibunya Amelia tidak memaksa ku untuk melakukannya.


Sebenarnya aku agak ragu dengan kondisi Amelia. Gadis itu tidak terlihat pucat ataupun lemah. Memang, aku sering melihat Amelia meminum obat. Namun, setiap kali aku menawarkan diri untuk mengantarkannya ke Rumah Sakit, dia selalu menolak dengan berbagai macam alasan. Mungkin aki harus mengecek obat apa yang selama ini Amelia minum.


Dan pagi ini lebih diperburuk dengan adanya sesosok lelaki yang duduk manis pada vespa klasiknya. Gaung, sahabat ku itu pasti sedang menunggu Eri untuk berangkat bersama. Seharusnya, aku yang berada di posisinya.

__ADS_1


Aku mengendarai motorku ke arah Gaung. Aku mematikan mesin motor, ketika sampai di hadapannya.


"Ngapain, Ga?"


"Menggantikan tugas seorang pengecut," jawab Gaung dengan wajah datar. "Tapi kelihatannya gue harus ngucapin terimakasih sama elo. Berkat lo, gue jadi bisa lebih dekat sama Eri. Elo tahu kan kalau gue gak bakal ngijinin sembarangan cewek ngebonceng cipluk? Dan jika ada yang gue ajak naik cipluk, bisa gue pastiin kalau cewek itu bakal jadi masa depan gue." Gaung tersenyum seakan meremehkanku.


Tanganku terkepal, aku tidak rela jika Eri menjadi milik orang lain, sekalipun sahabat ku sendiri.


"Gue bukan elo yang gebonceng cewek sembarangan. Bahkan elo rela jadi kacung seorang cewek yang terlihat ...," Gaung menjeda perkataannya. "Maaf, Mu-ra-han."


Emosi ku naik seketika, bukan karena Gaung menyebut Amelia cewek murahan. Kalau itu, aku sependapat dengannya. Aku marah karena Gaung akan mengambil Valerie dari sisi ku.


Aku hendak turun dan menghampirinya. Tapi gerbang rumah Eri terbuka. Gadis yang membuat aku tergila-gila itu keluar dari sana. Eri memandang kami berdua dengan wajah yang terlihat bingung.


Dengan segera, aku menstater motor dan melajukannya meninggalkan Eri dan Gaung. Aku tidak ingin melihat lebih lanjut kedekatan mereka berdua, aku cemburu. Tap aku tidak berhak untuk itu. Aku hanya sahabatnya, tidak lebih.


Di perjalanan, aku menulikan telinga dengan semua ocehan Amelia yang sama sekali tidak berfaedah. Di parkiran sekolah, aku melihat Gaung masih duduk di motornya dengan Eri yang masih bersandar di punggungnya. Setelah ku lihat, ternyata Valerie tertidur. Jadi, sepanjang perjalanan tadi gadis itu tertidur.


Aki tersenyum, teringat saat Eri masih berangkat bersama denganku. Dia juga sering tertidur di punggungku seperti itu. Jika terkena angin, Eri memang sering mengantuk.Seperti anak-anak.


Senyumku pudar ketika Gaung memiringkan badannya. Dia memeluk tubuh Eri dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya melepaskan helm yang dikenakan Eri. Seharusnya aku yang melakukannya, seharusnya aku yang berada di posisi itu.


Mataku membelalak ketika dengan sengaja, Gaung mengecup puncak kepala Eri. Setelah itu ia mengusap kepala Eri untuk membangunkannya.


Aku langsung berlalu dari parkiran. Tidak mau melihat lebih jauh kemesraan mereka. Apakah Eri sudah bisa menerima Gaung, dan melupakanku? Membayangkannya membuatku tidak terima. Eri hanya milikku.


"Elang, jangan cepat-cepat jalannya. Aku capek," rengek Amelia manja.


Tak ku hiraukan jeritan makhluk astral itu. Aku sedang dalam mood yang jelek, setelah melihat pemandangan tadi. Dan aku sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun.


***


"Elo gak papa?" tanya Elang, memeriksa seluruh badan Amelia apakah ada yang terluka.


"Gu-gue takut Lang," jawab Amelia sambil memeluk Elang.


"Kok bisa pot bunga jatuh dari sana?" tanya Elang sambil melihat ke atas.


"Eri, gue tadi lihat dia di atas. Cewek gila itu tersenyum setelah menjatuhkan pot bunga itu, Lang."


Perkataan Amelia membuat semua yang ada di sana tercengang. Memang Valerie tidak terlihat berada di antara mereka sekarang.


"Jangan ngaco lo!" bentak Gandi, "Gak mungkin Eri melakukan itu."


"Eri itu suka sama Elang, dia gak suka gue jadian sama Elang. Makanya dia mau nyelakain gue."


"Kalau lo fitnah Eri lagi, gue gak akan segan buat hajar lo!" Bagus menatap tajam Amelia.


"Kalau gitu, kemana Eri sekarang? Gak ada kan dia?! Itu karena dia ada di atas." bentak Amelia tidak mau kalah.


"Eri sedang ada keperluan sama guru," bela Gaung, "tadi dia pamit ke gue."


Emosi Elang mulai naik ketika mendengar suara Gaung. Dia jadi teringat kejadian tadi pagi, ketika gadisnya disentuh oleh pemuda itu.


"Ada apa ini?" tanya Valerie dari balik kerumunan siswa Garindra.


"Itu dia Lang orangnya." Amelia menunjuk Valerie. "Dia pasti pura-pura tidak tahu."

__ADS_1


"Dari mana elo, Er?" tanya Elang dengan nada sinis. Akal sehatnya sudah tertutup amarah, karena teringat kejadian tadi pagi di parkiran.


"Gue habis dari ruang guru," jawab Valerie, "tadi Amelia bilang, gue di panggil pak Arman di ruang guru. Tapi begitu gue samperin, pak Arman-nya gak ada di sana." Valerie masih bingung dengan apa yang terjadi.


"Tuh kan Lang, dia malah ngambing hitam'in gue!"


Elang berjalan mendekati Valerie. "Elo yang udah nyelakain Lia?" tanya elang, matanya tertutup kabut amarah.


"Apaan sih, Lang?" jawab Valerie masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Gak usah sok polos lo!" bentak Amelia, "elo gak terima kan karena gue jadian sama Elang? Makanya elo mau nyelakain gue. Elo emang cewek maruk! Tadi pagi elo mesra-mesraan sama Gaung, tapi masih saja mau deketin Elang," ujar Amelia, sengaja memanas-manasi Elang.


Perkataan Amelia yang mencatut kata 'bermesraan sama Gaung' sukses membuat emosi Elang memuncak.


"Eh cabe busuk, mulut lo enteng banget kalau nuduh orang!" Emosi Valerie ikut terpancing karena dituduh yang macam-macam. "Kalau lo mau Elang ambil aja, bukan urusan gue." Perkataan Valerie membuat hati Elang terluka. "Mau gue bermesraan sama siapa aja, itu bukan urusan elo!"


PLAKK!


Valerie memegang pipi kanannya yang terkena tamparan dari Elang. Tamparan itu cukup keras, sehingga membuat ujung bibir Valerie terluka.


"Lang," lirih Valerie, air matanya lolos seketika. Diusapnya ujung bibirnya yang berdarah.


Elang menegang seketika. Pria itu tersadar dari emosinya. Dia menyesal telah menampar Valerie. Namun, semuanya telah terjadi. Karena emosi, dia malah melukai gadis yang sangat di sayanginya.


"Er," panggil Elang, suaranya bergetar. Ia hendak memegang pipi Valerie, tapi ditepis oleh gadis itu.


"Sebegitu percayanya elo sama dia, Lang?" Valerie memandang Elang dengan tatapan matanya yang terluka.


"Eri, gue ...."


"Cukup," sela Valerie, "elo, elo kenal gue dari kecil, Lang. Seharusnya ... seharusnya elo tahu kalau gue gak mungkin ngelakuin itu ...." Isak Valerie sambil mengusap air matanya kasar.


"Gue kira elo paham tentang gue melebihi siapapun," lanjut Valerie, dengan air mata yang terus membasahi pipinya. "Hari ini, hari ini membuktikan betapa asingnya kita berdua, gue udah gak kenal elo lagi, Elang Rayan Garindra." Gadis itu langsung berlari dari hadapan Elang. Hancur dan berantakan, itulah yang dirasakan oleh hatinya sekarang.


Bughhh!


"Bangsat lo, Lang!" Bagus memukul Elang membabi buta. Gaung dan Gandi berusaha menahannya. "Elo udah kenal Eri dari kecil. Seharusnya elo tahu, kalau cewek cabe lo bohong. Elo tahu kan kalau Eri trauma sama ketinggian, setelah kematian bundanya. Jadi, gak mungkin Valerie berdiri di balkon lantai empat terus ngejatuhin pot bunga!" teriak Bagus histeris. "Elo kenal Eri lebih lama dari gue dan temen-temen lainnya Lang, seharusnya elo tahu itu. Atau elo lupa? Karena saking sibuknya elo sama pacar baru lo itu. Lo berdua emang cocok, sama-sama bangsat! Cuh ...." Bagus meludah di hadapan Elang.


"Udah," cegah Gaung, "lebih baik sekarang kita cari Eri daripada ngurusin dua makhluk sampah itu. Gue takut terjadi apa-apa sama Eri."


"Gue sama anak-anak lainnya juga akan bantu cari Eri," ucap Lukman.


"Urusan lo sama gue belum selesai!" Bagus melirik tajam pada Elang.


Elang menunduk, pria itu hanya mematung setelah kepergian teman-temannya. Ia menyesal, karena cemburu, ia dibutakan amarah. Dan karena amarah, ia melukai hati dan fisik perempuan yang paling ingin ia lindungi.


"Ya ampun, Lang. Muka lo lebam-lebam." Amelia berseru heboh. "Temen-temen lo emang keterlaluan." Amelia hendak menyentuh wajah Elang namun ditepis kasar oleh pemuda itu.


"Jangan sentuh gue!" bentak Elang, "mulai sekarang, elo jauh-jauh dari gue, jangan berani-berani ngedeketin gue.."


"Tapi Lang, mamah gue udah minta ke elo buat jagain gue."


"Gue udah gak peduli sekarang." Elang menatap tajam Amelia. "Mau elo sakit atau mati sekalipun, itu bukan urusan gue. Paham ...."


Setelah mengatakan itu, Elang bergegas pergi mencari Valerie. Meninggalkan Amelia yang bengong sendiri dengan wajah bodohnya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2