
"Kenapa elo gak beli ice cream yang udah jadi,sih Er," tanya Valero saat mereka ada di swalayan. Valero mengekori Valerie yang berbelanja bahan-bahan untuk membuat kue dan ice cream.
"Kalau beli jadi itu gak ada prosesnya, Ro," jawab Valerie, "gue mau bagi ice cream ini buat anak-anak di panti asuhan Rajawali. Dengan buat sendiri pasti akan ada proses-proses dari bahan mentah hingga menjadi sesuatu yang bisa dimakan, kan? Dan proses itu yang gue nantikan, dengan gue buat sendiri ... gue juga bisa mastiin jika bahan-bahan yang dipakai itu aman untuk mereka. Jika kita memberikan sesuatu entah itu barang atau makanan, dan pemberian itu adalah hasil buatan sendiri, pasti ada kepuasan tersendiri buat kita."
"Tapi ribet, Er. Kalau beli kan tinggal ngasih uang ... udah deh jadi."
"Kalau mau yang serba instan gak masalah. Tapi gue gak bisa, apapun pasti membutuhkan proses. Dan buat gue, dengan menyiapkan semuanya sendiri ... itu termasuk wujud sayang gue ke mereka."
Valero terdiam sejenak, kemudian ia tersenyum. Ia merasa puas dengan jalan pikiran gadis itu.
"Elang bodoh, yang begini malah dilepas," batin Valero dalam hati.
Setelah mendapatkan semua barang yang dibutuhkan, Valerie dan Valero antri di kasir. Valerie sudah meminta Valero untuk menunggu di luar, tapi pria itu menolak.
"Setelah ini temenin gue cari baju, ya," pinta Valero.
Valerie menganggukkan kepala sebagai jawabannya. Setelah selesai membayar, mereka masuk ke sebuah butik khusus pakaian wanita. Hal itu membuat dahi Valerie berkerut.
"Gila, sekarang selera pakaian lo berubah?" Valerie memicingkan mata, menatap penuh curiga pada Valero.
"Sembarangan," elak Valero, "gue mau elo milih gaun di sini."
"Kenapa jadi gue? Kan elo yang mau belanja, buat apaan coba?"
"Gue mau minta elo nemenin gue buat acara besok malam."
"Hah? Acara apaan?"
"Biasa, pesta para pembisnis gitu."
"Ish, Ero ... elo kan tahu kalau gue gak suka sama pesta-pesta gitu. Kenapa malah ajak gue, sih?"
"Karena elo gak suka pesta, makanya gue ajak," sahut Valero santai. "Gue juga gak suka pesta, kita datang hanya sekedar formalitas. Setor muka aja, setelah itu pulang. Ya Eri, ya ... bantu gue, ya."
"Ogah," sahut Valerie cepat. "Elo untung, guenya buntung."
"Ayolah, Er. Entar gue beliin tas branded," rayu Valero, pria itu menangkupkan kedua telapak tangannya ... memohon pada Valerie.
"Sejak kapan gue minat sama tas branded? Hah ...," Valerie memiringkan wajahnya, ia tersenyum miring.
"Entar gue traktir makan, deh."
"Gue bisa masak sendiri," sahut Valerie lagi.
"Entar gue ajak jalan-jalan, deh."
"Gue punya kaki, bisa jalan sendiri."
Valero mulai merasa kesal karena semua bujukannya tidak ada satupun yang berhasil. Valerie melirik pada Valero, pria itu terlihat sudah menyerah dalam membujuknya. Kemudian ia tersenyum, bagaimana mungkin ia tega menolak ajakan dari pria yang selama ini selalu ada untuknya, bahkan saat ia berada di titik terendah.
"Iya udah, gue mau ikut lo besok malam."
Ucapan Valerie tersebut bagaikan mantra sihir yang langsung membuat Valero bahagia. Wajah pria itu berser-seri, persis seperti anak kecil yang mendapat permen.
"Wah, elo emang bisa gue andelin, Er," ucap Valero riang. "Ayo kita ambil pesanan gaunnya." Valero menarik pergelangan Valerie, menuntunnya menuju ruangan khusus yang ada di sana.
"Hah? Pesanan gaun? Emang elo udah pesen gaun yang mau gue pakai?" tanya Valerie heran.
Valero menganggukkan kepala. "Gue udah pesen gaun buat elo, warnanya sama dengan jas yang bakalan gue pakai."
"Percaya diri banget lo kalau gue mau nerima ajakan lo."
"Gue tahu kalau elo gak mungkin tega ngebiarin gue yang tampan ini jadi santapan cewek-cewek menor di pesta," ucap Valero percaya diri, ia menepuk dadanya bangga. Membuat Valerie berdecak.
Setelah mencoba gaun yang dipilihkan Valero, dan ternyata gaun itu sangat cocok dan pas untuk Valerie ... mereka langsung keluar dari butik itu.
"Lha baju buat elo mana?"
"Udah ada di rumah, tinggal ambil yang punya elo." Valero menunjukkan paper bag yang berisi gaun milik Valerie.
"Hanya untuk pesta beberapa jam aja, seharusnya kita tidak perlu membeli baju baru, Ro. Itu namanya mubazir," ucap Valerie. Mereka duduk di sebuah food court, melepas lelah setelah berkeliling sembari mengisi perut.
"Sekali-sekali sih, Er."
"Sekali-sekali bisa jadi kebiasaan. Jangan suka menumpuk baju, apalagi jika tidak pernah dipakai. Allah paling tidak menyukai hal yang mubazir."
"Iya, Eri. Gue paham, hanya untuk kali ini ... gue pengen pakai baju couple sama elo."
Valerie menganggukkan kepalanya.
Tepat pukul sebelas malam, mereka sampai di rumah. Valerie kewalahan membawa boneka beruang besar yang dibelikan oleh Valero. Untuk belanjaan dan yang lainnya, mereka sudah meminta tolong bantuan taksi online untuk membawakan. Dan Valero tidak mengijinkan jika boneka itu ikut dibawa taksi online, pria itu mau Valerie sendiri yang membawanya.
__ADS_1
"Bonekanya gede banget, udah kayak bocah gedenya," dumel Valerie sambil turun dari boncengan motor Valero. "Menuh-menuhin tempat."
"Salah sendiri, tadi perginya minta naik motor aja," sahut Valero, ia membantu Valerie melepaskan helmnya. "Padahal kan tadi gue udah mau bawa mobil."
"Ish, kan nih boneka bisa naik taksi aja. Kenapa harus gue yang bawa, sih?"
"Gak boleh, gue beliin tuh boneka bukan buat abang taksinya, itu buat lo ... jadi harus elo yang bawa."
"Ish, rempong."
"Udah, jangan banyak ngedumel. Ayo buruan masuk, udah malam banget ini." Valero menggandeng tangan Valerie, menuntunnya masuk ke dalam rumah.
Semua hal itu tidak lepas dari pandangan Elang, pria itu berdiri di balkon kamarnya. Tangannya mencengkeram pagar balkon. Sakit, ia merasakan sakit di hatinya, saat gadis yang dicintainya pergi bersama pria lain. Tapi mau bagaimana lagi, sekarang ia berada di posisi yang tidak berdaya.
Semua hal ini ia lakukan demi melindungi gadis yang sangat dicintainya itu. Sampai kapanpun, ia tidak bisa mengganti posisi Valerie dengan wanita lain. Karena hatinya sudah terkunci, dan hanya Valerie yang bisa membukanya.
"Aku tak menyangka, karena kesalahan masa laluku ... aku harus kehilanganmu." Elang memukulkan tangannya pada terali besi pembatas balkon, hingga tangannya memerah.
***
Valerie memperhatikan seorang bocah laki-laki yang kesusahan membawa barang belanjaan. Ia melangkahkan kaki, menghampiri bocah itu.
"Wah, barang belanjaan kamu banyak sekali," ucap Valerie, ia menundukkan badannya memandang bocah yang berusia sekitar sepuluh tahun itu. "Kamu sendirian?"
"Tadi bareng abang, tapi abang pergi karena ada urusan," sahut bocah itu.
"Terus kamu pulangnya gimana?"
"Nunggu taksi lewat, Kak."
"Kakak anterin mau?"
Bocah laki-laki itu terdiam, merasa ragu dengan ajakan Valerie.
"Tenang, kakak bukan orang jahat, kok. Kakak cuma mau nganterin kamu, gak ada maksut lain. Daripada nunggu taksi kelamaan, nanti ada orang jahat, gimana?"
Bocah itu terlihat sedang berpikir, kemudian ia mengangguk.
"Sini, kakak bawain barang belanjaannya." Bocah itu memberikan kantong belanjaannya pada Valerie. "Kita kenalan dulu, yuk. Nama Kakak ... Valerie, panggil Kak Eri aja. Nama kamu siapa?" Valerie mengulurkan tangannya.
"Teo." Bocah itu menyambut uluran tangan Valerie, dan menjabatnya.
"Wah, nama yang bagus," puji Valerie, "ayo ikut Kak Eri ke mobil." Valerie menggandeng tangan Teo, dan mengajak bocah itu masuk ke mobilnya.
"Asaalamu'alaikum," sapa Teo dan Valerie.
"Wa'alaikumsallam," sahut semua anak-anak itu.
"Siapa itu, Teo?" tanya salah satu anak, yang mungkin juga mewakili pertanyaan semua anak yang ada di sana.
"Kak Eri," jawab Teo, "Kak Eri, kenalin ... ini semua teman sekaligus keluargaku." Teo memperkenalkan semua teman-temannya, sekitar ada delapan anak dengan Teo.
"Hai, Sayang ... kenalin, nama kakak Valerie, panggil Kak Eri aja," ucap Valerie memperkenalkan diri. Gadis itu melambaikan tangannya, kemudian satu-persatu anak-anak itu memperkenalkan diri.
Valerie mudah akrab dengan Teo dan teman-temannya, mereka bermain bersama tanpa rasa canggung.
"Teo, aku lapar," ucap Shakila, salah satu teman Teo. Gadis itu memegangi perutnya.
"Bentar, Kila. Bang Cakra belum pulang," sahut Teo pada Shakila.
"Em, kalian punya bahan masakan?" Teo dan teman-temannya mengangguk. "Kak Eri masakin, ya?" Lagi-lagi mereka mengangguk dengan semangat.
"Teo, tolong tunjukin ke Kak Eri letak dapurnya," pinta Valerie.
"Ayo, Kak." Teo menarik pergelangan tangan Valerie menuju dapur rumah mereka.
Seperti biasa, dengan cekatan Valerie mengolah bahan masakan. Teo dan Shakila membantu gadis itu menyiapkan makanan yang sudah matang.
"Em, Teo ... tadi Teo bilang Bang Cakra, dia siapa?" tanya Valerie.
"Bang Cakra itu udah seperti malaikat, Kak. Dia pahlawan kami," sahut Teo sambil berbinar.
Valerie mulai tertarik dengan cerita Teo tentang sosok pria yang bernama Cakra itu. Bagaimana ia bisa tahu bahwa sosok itu pria? Ya karena tadi bocil-bocil itu manggil dengan sebutan bang, kalau mbak sudah tentu cewek. Sudah, lupakan ... malah bahas cewek dan cowok, hahahaha.
"Pahlawan gimana maksutnya?" tanya Valerie lagi.
"Kalau gak ada Bang Cakra, kami masih jadi anak jalanan, Kak," sahut Teo, "Bang Cakra memberikan kami tempat tinggal, makanan, pendidikan, bahkan kasih sayang yang tidak pernah kami dapatkan."
"Orang tua kalian bagaimana?"
"Diantara kami ada yang sudah yatim piatu, ada yang masih punya orang tua tapi tidak mengurus kami dengan baik." Pandangan Teo menerawang, ada rasa sedih dan bercampur kecewa dalam bola matanya. "Bang Cakra sudah seperti orang tua bagi kami, dan kami sangat menyayanginya."
__ADS_1
Valerie terdiam sejenak, kemudian ia tersenyum. Ia merasa senang karena di jaman sekarang ini masih ada yang bersikap mulia seperti itu.
"Panggil teman-teman kalian, kita makan bersama," pinta Valerie pada Shakila. Gadis kecil itu mengangguk dan langsung berlari ke arah depan untuk memanggil teman-temannya.
"Kak Eri cantik, cocok kalau jadi pacar Bang Cakra," celetuk Teo.
Perkataan Teo membuat Valerie tersedak air putih yang sedang ia minum.
"Anak kecil kok ngomong pacaran-pacaran," ucap Valerie yang dijawab cengiran oleh Teo.
Setelah anak-anak itu berkumpul, mereka makan bersama. Dengan lahap mereka makan masakan Valerie.
"Masakan Kak Eri enak," puji Shakila sambil mengacungkan jempolnya.
"Terimakasih, Sayang."
"Assalamu'alaikum," salam sebuah suara bariton dari arah luar, kemudian terdengar langkah kaki yang semakin mendekati ruang makan mereka.
"Wa'alaikumsallam," jawab mereka bersamaan.
Sesaat kemudian muncul sosok pria kekar dan bertubuh tinggi. Rambut gondrong pria itu dikuncir kuda. Tatto di lehernya menambah kesan gaharnya. Namun, begitu bertemu dengan anak-anak yang diasuhnya, sosok gahar itu langsung menjadi hangat dan penuh senyum.
"Maaf, ya abang pulang telat," ucap pria itu penuh sesal, Valerie menatap sosok pria yang belum menyadari kehadirannya. "Lho, kalian udah makan?"
"Udah, Bang. Kak Eri yang masakin," sahut Teo.
"Kak Eri?" Dahi pria itu berkerut bingung.
"Tuh," jawab Teo sambil menunjuk Valerie yang sedang mengacungkan jarinya ke atas, seperti seorang murid yang sedang diabsen gurunya.
Lagi-lagi pria itu mengerutkan dahinya, bingung karena ada seorang perempuan cantik di rumahnya, perempuan yang sama sekali tidak dikenalnya.
Teo yang menyadari kebingungan Cakra, mencoba menjelaskan.
"Tadi sewaktu aku nunggu taksi, aku ditawari Kak Eri buat diantar pulang, Bang," cerita Teo, "Kak Eri juga yang sudah masak buat kami."
Valerie bangkit dari duduknya, ia mengulurkan tangan pada pria tegap di hadapannya itu.
"Valerie, panggil aja Eri," ucap Valerie memperkenalkan diri.
"Cakrawala, panggil aja Cakra," sahut Cakrawala menyambut uluran tangan Valerie. "Terimakasih karena sudah mengantar Teo pulang dan sudah memasak untuk anak-anak."
"Kembali kasih," jawab Valerie sambil tersenyum tulus, terlihat sangat manis. "Elo makan sekalian aja, kita makan bareng-bareng."
Cakrawala menganggukkan kepala, kemudian menyendokkan nasi dan lauk ke dalam piringnya. Pria itu memasukkan sesuap nasi ke mulutnya. Ia terdiam sejenak, kemudian melanjutkan makannya lagi dengan lahap.
Setelah kegiatan makan bersama, dilanjutkan dengan kegiatan mencuci piring bersama.
"Kak Eri, besok kesini lagi,ya," pinta Disti, gadis berusia enam tahun, anak yang paling muda di antara mereka.
"Maaf, Disti. Besok Kak Eri ada urusan, jadi gak bisa main kesini," jawab Valerie penuh sesal.
Hal itu membuat Disti kecewa, gadis kecil itu cemberut sambil bersedekap. Valerie membungkukkan badannya agar sejajar dengan tinggi Disti, ia mengusap rambut panjang Disti yang dikuncir dua.
"Sayang, besok Kak Eri sudah ada janji buat ketemu sama anak-anak yang lain?"
"Anak-anak?" tanya Disti, gadis mungil itu menatap wajah Valerie.
Valerie menganggukkan kepala. "Kak Eri juga punya keluarga besar seperti kalian. Kebetulan, besok diantara mereka ada yang berulang tahun, jadi Kak Eri harus ada di sana. Ah ...," Valerie menjentikkan jarinya. "Bagaimana kalau kalian juga ikut datang. Cakra, mereka boleh ikut ke acara gue, kan?"
Cakrawala terdiam sejenak, ia memandang wajah anak-anak asuhnya yang juga memandangnya dengan tatapan penuh harap. Ia tersenyum, kemudian mengangguk, membuat kesepuluh anak itu bersorak gembira.
"Memang acaranya di mana?" tanya Cakrawala.
"Besok gue share lokasi, ya."
"Emang beneran gak papa kalau kami datang ke acara elo?"
"Gak apa-apa, Cakra. Mereka pasti akan seneng kalau dapat teman baru."
"Emang mereka yang elo maksut itu siapa?"
"Besok elo juga bakal tahu sendiri, kok." Valerie mengedipkan sebelah matanya, terlihat sangat imut, membuat Cakrawala tersenyum.
"Cie, Bang Cakra senyum-senyum," bisik Teo di dekat telinga Cakrawala. Membuat wajah pria yang terlihat garang itu menjadi merah karena tersipu. "Kak Eri cantik, kan? Teo mau kok kalau Kak Eri jadi kakak iparnya Teo."
"Anak kecil gak usah mikir aneh-aneh," ucap Cakrawala sambil mencubit hidung bangir Teo.
Pandangan Cakrawala kembali tertuju pada Valerie yang sedang bermain bersama anak-anak asuhnya. Selama ini, jika ada wanita yang mendekatinya, pasti akan mundur saat tahu jika dirinya memiliki anak-anak asuh. Tidak ada yang mau berkomitmen, dengan alasan tidak mau terbebani.
Namun, gadis manis di hadapannya itu berbeda. Gadis itu terlihat seperti menikmati kebersamaan denganĀ Teo dan teman-temannya. Dan perhatian yang gadis itu berikan bukan sejenis perhatian yang ada maunya, melainkan perhatian yang tulus.
__ADS_1
Tanpa sadar pria itu tersenyum, seperti menemukan sesuatu yang selama ini ia cari.