
"Masih sakit?" tanya Cakrawala pada Valerie. Pria sedang mengobati luka di pipi Valerie. Cakrawala rempong sendiri dengan rasa khawatirnya, padahal Valerie tidak mengeluk sakit sama sekali.
"Udah berapa kali harus gue bilang kalau ini gak sakit sama sekali, Kra," sahut Valerie dengan nada santai, berbanding terbalik dengan Cakrawala yang kentara khawatirnya.
"Gimana gak sakit, luka elo lumayan dalam, Er. Gue yakin pasti bakal berbekas buat sementara waktu."
"Gak apa-apa, anggep aja tatto temporer, kan?" Valerie mengedipkan sebelah matanya.
"Tatto muke, Lo!" Cakrawala menyentil dahi Valerie, membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Awh," lirih Valerie, ia menyentuh dahinya. Hal itu membuat Cakrawala menegang seketika, ia merasa menyesal. Ia tidak menyangka apa yang ia lakukan membuat Valerie kesakitan.
"Maaf, Er. Maaf, gue gak maksut buat elo jadi kesakitan. Tadi kelihatannya gue nyentilnya pelan," ucap Cakrawala penuh sesal. Pria itu menyandarkan kepala Valerie pada dada bidangnya.
Bahu Valerie bergetar, membuat Cakrawala tambah kebingungan. Ia mengira jika Valerie menangis, tapi sesaat kemudian suara tawa Valerie membuat ia melongo.
"Hahahahaha, muka elo lu, Kra," ucap Valerie sambil terbahak, gadis itu memegangi perut sakit gelinya.
"Elo cuma pura-pura?" tanya Cakrwala.
Valerie menganggukkan kepalanya. "Habis elo, sih. Udah dibilang gak sakit, masih nanya terus. Luka sekecil ini udah biasa gue alamin, Kra. Luka yang lebih parah dari ini juga gue sering dapat. Jadi, elo gak usah khawatir, sekali lagi gue bilang ... gue gak apa-apa." Valerie tersenyum manis, membuat Cakrawala terdiam sejenak.
"Elo sering luka gini?" tanya Cakrawala dengan nada tidak percaya.
Lagi-lagi Valerie menganggukkan kepala.
"Karena?"
__ADS_1
"Kra, banyak hal yang elo gak tahu dari gue, termasuk hal ini," sahut Valerie, senyum manis setia bertengger di bibirnya yang mungil.
"Dan apakah gue boleh tahu tentang hal-hal yang gak gue tahu itu?" tanya Cakrawala.
"Kenapa elo pengen tahu?" Bukannya menjawab, Valerie malah gantian bertanya pada Cakrawala.
Cakrawala menggelengkan kepala. "Entah, gue cuma pengen tahu semua hal tentang elo."
"Nanti elo juga bakal tahu sendiri," sahut Valerie, "lagian gak ada hal menarik dari hidup gue."
"Elo salah, elo punya daya tarik yang membuat gue pengen mengenal semua tentang elo, Valerie," ucap Cakrawala dalam hati.
"Mbak Eri," panggil Siti. Setelah kejadian di rumah Siti, Valerie mengajak wanita itu ke panti miliknya dan Rajawali. "Maaf, gara-gara Siti, Mbak Eri jadi luka." Siti menundukkan kepala, merasa menyesal.
Valerie tersenyum, ia menepuk kursi di sebelahya, meminta Siti untuk duduk di sana.
"Gak ada yang perlu dimaafkan, Siti. Siti gak salah sama sekali," jawab Valerie pada wanita muda berusia delapan belas tahun itu.
"Siapa yang mengharuskan, hm?" tanya Valerie, "bukannya sebagai manusia, kita sudah seharusnya saling menolong?"
"Suami saya orangnya nekat. saya takut jika nanti dia bakal nyakitin Mbak Eri lagi.
Valerie terkekeh, kemudian ia memegang kedua pundak Siti. "Siti, kamu gak usah khawatir. Saya janji bakal jaga diri baik-baik, lagian saya punya orang-orang yang bakal jaga saya. Ini salah satunya." Valerie menunjuk Cakrawala dengan dagunya membuat Cakrawala tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. "Kamu menikah muda?"
Siti menganggukkan kepalanya. "Saya menikah dua tahun yang lalu, saat usia saya enam belas tahun," jawab Siti, perempuan itu tersenyum getir.
Valerie mengerutkan dahinya. "Kamu putus sekolah?"
__ADS_1
Siti kembali menganggukkan kepalanya. "Saat ayah saya meninggal, ibu menyuruh saya untuk putus sekolah. Tidak lama setelahnya, ibu mengenalkan saya dengan seorang pria dan menyuruh saya untuk menikah dengannya. Saya menurut, karena setelah kematian ayah, saya tidak mempunyai hak berpendapat lagi. Ibu selalu melakukan apa yang beliau mau, tanpa mendengar keputusan dari saya. Dari awal pernikahan, suami saya suka melakukan tindakan kekerasa, saya adukan hal itu pada ibu. Namun, ibu sama sekali tidak peduli, ia selalu membela suami saya dan menutupi kesalahannya."
Siti menjeda ucapannya, ia menyeka air mata yang mulai jatuh dari netranya. Valerie mengambil saputangan di sakunya dan memberikannya pada Siti.
"Belakangan ini saya tahu jika suami dan ibu saya mempunyai hubungan terlarang. Hubungan mereka sudah terjalin jauh sebelum ayah saya meninggal. Dan ternyata ... ibu menikahkan saya untuk menutupi hubungan terlarang mereka. Dengan begitu orang-orang di sekitar kami tidak akan mencurigai hubungan mereka, dan mereka bisa bebas meneruskan hubungan mereka di rumah. Dan hal seperti tadi, bukan pertama kalinya saya melihat. Saat saya ada di rumah pun, mereka juga sering melakukannya."
Wajah Valerie mulai mengeras, ia tidak habis pikir ada seorang ibu yang tega melakukan hal itu kepada anak kandungnya. Sosok ibu yang seharusnya menyayangi dan melindungi putrinya, malah tega berbuat hal yang tidak manusiawi.
"Suami kamu tidak bekerja?"
"Ibu tidak mengijinkannya," jawab Siti, ia menggelengkan kepalanya. "Waktu pagi sampai siang, saya bekerja di warung makan, siang sampai malam saya bekerja di toko dekat rumah. Saya sampai rumah pukul sebelas malam, begitu sampai rumah, saya masih harus beberes dan membersihkan rumah. Sebelum berangkat kerja pun, saya harus menyediakan makanan untuk mereka. Jika saya pulang tidak membawa uang, mereka akan sangat marah."
"Saat ayah kamu masih ada, ibu kamu juga sudah memperlakukan kamu secara kasar?"
"Iya, Mbak. Tapi ayah selalu membela saya, jika ayah saya tidak memberikan uang pada ibu, ibu akan memukul saya. Jadi, sebisa mungkin ayah bekerja keras untuk memenuhi semua keinginan ibu. Bahkan, ayah bekerja hampir dua puluh empat jam, hal itu yang membuat ayah menjadi sering sakit dan akhirnya meninggal dunia."
"Kenapa ibu kamu tega melakukan hal itu padamu dan ayahmua?"
"Dulu, ayah dan ibu menikah karena perjodohan. Sifat ibu yang bebas membuatnya menolak perjodohan itu, tapi kakek tetap memaksanya. Hingga ayah dan ibu tetap menikah, tapi sifat bebas ibu tidak hilang. Bahkan setelah menikah dengan ayah, ibu masih sering pulang malam diantar pria-pria lain. Ayah selalu memberikan maaf pada ibu, tapi ibu selalu mengulanginya."
"Setelah apa yang dilakukan ibu kamu, kamu masih bertahan dengannya? Bukankah kamu bisa melarikan diri, kamu masih muda, bisa bekerja. Kamu bisa memenuhi kebutuhan kamu dan anakmu sendiri. Tapi kenapa kamu masih tetap memilih tinggal bersama mereka?" Kini giliran Cakrawala yang bertanya.
Pertanyaan Cakrawal membuat Siti tersenyum.
"Apa yang bisa seorang anak lakukan selain tetap tinggal dan menjaga ibunya? Saya hanya punya ibu sebagai orang tua. Jadi, saya harus tetap tinggal untuk menjaga beliau. Saya tidak mau jika suami saya bersikap kasar dengan ibu."
"Kamu masih bisa bersikap baik setelah apa yang ibu kamu lakukan terhadap kamu selama ini?" tanya Cakrawala lagi, Valerie masih terdiam, ia paham dengan jalan pikiran Siti. Jika ia berada di posisi Siti pun, ia akan melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Memang apalagi yang bisa saya lakukan? Beliau ibu saya, orang yang melahirkan saya, orang yang sudah mempertaruhkan nyawa demi memberikan saya kesempatan untuk melihat dunia. Dan yang bisa saya lakukan untuk membalasnya adalah untuk tetap tinggal dan menjaga ibu."
"Gue udah gak bisa berkomentar lagi," ucap Cakrawala, ia mengusap wajahnya kasar. "Gue gak habis pikir dengan jalan pikiran kaum wanita. Selama ini gue menganggap jika wanita itu adalah kaum lemah yang harus selalu dijaga. Tapi setelah bertemu dengan kalian berdua, cara berpikir gue berubah. Kalian adalah sosok tangguh yang selalu melihat dunia dari sisi yang berbeda. Setelah disakiti sedemikian rupa, kalian masih bisa berpikir untuk berbuat baik. Terimakasih ... terimakasih karena kalian telah menunjukkan sisi yang berbeda dari seorang wanita. Karena kalian, gue jadi tahu jika kaum kalian adalah kaum yang kuat, dan mungkin melebihi kuatnya kaum kami."