
Jhon menghela nafas beratnya, lalu ia melirik jam mewah yang melingkar di tangan kirinya, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 wib, waktunya untuk pulang. Namun sayang, sepertinya ia harus lembur karena masih ada beberapa berkas yang harus ia periksa dan tanda tangani saat itu juga.
Jhon mengusap wajahnya kasar, kemudian ia mengambil ponsel miliknya yang ia simpan di atas meja. Jhon langsung mencari kontak seseorang yang spesial bagi dirinya, siapa lagi kalau bukan Mentari pujaan hatinya itu.
Jhon segera menghubungi Mentari, ia terlihat tidak sabar untuk mendengar suara indah pujaan hatinya itu.
Beberapa detik kemudian, panggilan telponnya pun di jawab oleh pujaan hatinya itu. "Ada apa?" Tanya Mentari terdengar begitu merdu di telinga Jhon, laki-laki yang sebentar lagi akan mendapatkan julukkan raja bucin itu.
Jhon nampak tersenyum, lalu ia mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman lagi. "Kangen kamu, sayang." Jawabnya dengan nada suaranya yang selalu lembut seperti biasanya.
"Selalu begitu jawabannya hmm." Ucap Mentari membuat Jhon terkekeh dengan pelan.
"Aku serius, Jhon. Ada apa kamu menghubungiku?" Mentari kembali bertanya dengan suara sedikit kesal, namun masih tetap terdengar merdu di telinga raja bucin itu.
"Aku juga serius sayang, aku kangen sama kamu. Rasanya aku tidak bisa jauh darimu walau hanya satu detik saja." Jhon mulai mengeluarkan kata-kata manisnya seperti dulu lagi, Mentari hanya terkekeh di seberang telpon sana. Mungkin jika Jhon ada di hadapannya sekarang, sudah pasti Mentari akan mencubit hidung mancungnya itu sama seperti dulu.
"Bagaimana keadaanmu, sayang? Sudah baikkan?" Tanya Jhon masih begitu lembut dan halus.
__ADS_1
"Hmm, aku sudah tidak apa-apa, Jhon. Lagian aku cuma pingsan saja, jadi tidak ada yang serius." Jawab Mentari membuat Jhon menghela nafas lega.
"Syukurlah, sayang. Aku lega mendengarnya." Ucap Jhon sembari menatap langit-langit ruangannya.
"Kamu sudah makan?" Tanya Jhon sambil beranjak dari kursi kebesarannya, lalu berjalan menuju jendela yang berada di dalam ruangannya.
"Mmm aku belum lapar, mungkin sebentar lagi." Jawab Mentari lembut.
"Dari pagi belum makan?" Tanya Jhon sembari mengernyitkan keningnya.
"Sarapan apa, sayang?" Tanya Jhon membuat Mentari harus menghela nafasnya di seberang telpon sana.
"Roti sama susu." Jawab Mentari masih dengan santai, kayak di pantai.
Jhon menghela nafas beratnya, lalu berkata. "Hanya itu?"
"Ya. Memangnya apalagi?" Ucap Mentari sambil mengerutkan kening di seberang telpon sana.
__ADS_1
"Kamu hanya mengisi perutmu dengan roti dan susu sampai sekarang?" Seru Jhon mulai cerewet seperti emak-emak yang mengintrogasi anaknya untuk makan.
"Tidak! Aku tadi minum air putih juga, Jhon. Terus makan cemilan juga."
"Tapi itu tidak bagus, sayang. Kamu harus makan nasi, bukan hanya cemilan saja. Nanti kalau kamu sakit bagaimana?" Ucap Jhon dengan wajah yang kesal, namun nada suaranya tidak pernah berubah, tetap halus dan lembut.
"Tapi aku belum laper, Jhon. Nanti saja makannya." Jawab Mentari di iringi dengan helaan nafas beratnya.
"Sayang. Kamu jangan nakal, ya. Dengerin aku, makan sekarang atau aku yang akan memakanmu." Tegas Jhon membuat Mentari tersedak air liurnya sendiri.
"Dasar mesum." Gumam Mentari namun masih terdengar jelas di telinga Jhonatan.
Jhon terkekeh pelan, ah sepertinya tubuhnya mulai menginginkan sesuatu yang akan membuat dirinya terbang melayang bersama ribuan kupu-kupu. ****, sadar Jhon, sadar. Mentari belum menjadi milikmu sepenuhnya, hilangkan otak mesummu itu. Jhon bergelut dengan pikirannya sendiri. Ia juga mengusap wajahnya kasar, ntah mengapa tiba-tiba saja tubuhnya terasa panas, padahal jelas-jelas AC di ruangan itu menyala seperti biasanya.
Author: Makannya Jhon jangan menggoda Mentari, kamu sendiri kan yang kena imbasnya. Rasain.
Bersambung.
__ADS_1