
"Sayang kamu baru pulang, nak?"
Mama Natalia bertanya sembari menatap putrinya yang saat ini tengah berjalan ke arahnya.
"Iya, mah." Jawab Mentari lesu.
"Baguslah kalau begitu, jadi Jhon tidak perlu menunggu lama, kasihan dia." Ucap mama Natalia sembari mengusap pundak putrinya.
"Kalau begitu mama tinggal dulu, ya."
Mama Natalia menatap Jhon yang sedari tadi hanya fokus dengan perempuan cantik yang ada di hadapannya. "Ekhmm.. Tante pergi dulu ya, Jhon." Ucapnya membuat Jhon seketika mengalihkan pandangannya.
"Iya, tante." Jawab Jhon sangat sopan.
Setelah itu mama Natalia pun pergi melangkahkan kakinya meninggalkan kedua manusia berbeda jenis kelamin itu dalam perasaan yang berbeda.
"Untuk kamu datang kemari?" Tanya Mentari setelah kepergian mamanya.
__ADS_1
"Tentu saja untuk bertemu denganmu." Jawab Jhon dengan nada suaranya yang terdengar begitu lembut dan halus.
"Aku serius, Jhon."
"Aku juga serius, baby." Jhon menjawab sambil memberikan tatapannya yang hangat. "Aku sangat merindukanmu." Ucap Jhon sedikit meninggikan volume suaranya membuat Mentari seketika membolakan kedua bola matanya.
Mentari langsung beranjak dari tempat duduknya, ia tidak ingin siapapun mendengar ucapan Jhon barusan. Dan jika dia terus berada di ruangan itu, tidak menutup kemungkinan bagi Jhon untuk terus mengucapkan kata-kata yang akan membuat orang lain salah paham. Jadi, Mentari memutuskan mengajak Jhon untuk pergi ke taman yang berada di samping rumahnya.
"Sebaiknya kita mengobrol di taman saja." Ucapnya sambil berjalan melewati Jhon.
Jhon tersenyum senang, ini adalah kesempatan bagi dirinya untuk meluapkan rasa rindunya yang selama ini terpendam.
Taman samping.
Mentari dan juga Jhon sudah berada di taman belakang. Keduanya nampak terdiam dengan pikirannya masing-masing. Hingga akhirnya Mentari membuka suaranya dan menatap Jhon yang sedari tadi menatap dirinya.
"Ada apa kamu datang kesini?" Tanya Mentari selalu dengan nadanya yang terkesan dingin.
__ADS_1
"Bukankah sudah ku bilang kalau aku sangat merindukanmu." Jawab Jhon masih dengan nada suaranya yang lembut dan halus.
Mentari membuang nafasnya kasar, ia tidak suka mendengar jawaban yang tidak masuk akal itu.
"Jangan becanda, Jhon. Ini tidak lucu sama sekali." Seru Mentari sambil menatap kesal ke arah Jhon.
Perlahan Jhon berjalan mendekati Mentari seketika membuat Mentari mundur beberapa langkah dengan hati yang gelisah. "Ka,,, kamu mau ngapain? Jangan, macam-macam, ini adalah rumahku." Ucap Mentari sedikit gugup membuat Jhon gemas.
"Mentari aku sangat merindukanmu." Bisik Jhon ketika tubuh Mentari sudah menabrak tembok.
"Apa kamu tahu, selama ini aku selalu bersabar dan berusaha untuk menahan diriku agar aku tidak pergi menemuimu. Apa kamu tahu seberapa gilanya aku jika aku tidak bisa bertemu denganmu lagi. Mentari, jangan buat aku semakin tersiksa seperti ini. Aku sudah sangat bersabar menantimu beberapa bulan ini, dan kamu sudah berjanji, jika kamu sudah lepas dari bajingan itu, aku bebas untuk menemuimu. Tetapi, mengapa kamu selalu menolak permintaanku untuk bertemu denganmu? Apakah kamu sengaja ingin menguji kesabaranku? Ataukah kamu sengaja ingin menjauhiku?"
Jhon semakin merapatkan tubuhnya dengan Mentari, hingga membuat Mentari tidak dapat bergerak sama sekali, bahkan untuk bernafaspun rasanya sangat sesak. Di tambah lagi wajah Jhon yang begitu dekat dengan wajahnya, semakin membuat Mentari tidak nyaman.
"Me,,, menjauhlah dariku, Jhon. Kita bisa bicarakan ini baik-baik sambil duduk, ok." Ucap Mentari sambil berusaha untuk mendorong tubuh yang beraroma menyegarkan itu. "Ini gila, kenapa dia seperti ini? Dan kenapa jantungku jadi berdebar sangat kencang?" Batin Mentari sembari berusaha untuk menormalkan detak jatungnya.
Jhon tersenyum, satu tangannya meraih kedua tangan Mentari lalu mengangkat dan menekannya di tembok, sementara satu tangannya lagi memeluk pinggang ramping sang pujaan hatinya itu. "Aku lebih suka dengan posisi seperti ini, baby." Bisiknya membuat Mentari harus menelan salivanya dengan kasar.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Mentari. Sangat-sangat mencintaimu. Cintaku tidak akan pernah berubah. Bahkan cintaku jauh lebih besar di bandingkan dengan dulu. Mentari, aku bersumpah, aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi dariku. Aku akan membuatmu kembali menjadi milikku lagi." Bisik Jhon terdengar begitu berat membuat Mentari seketika terdiam dengan detak jantungnya yang berpacu semakin cepat.
Bersambung.