
Jhon menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan, kemudian ia berkata dengan nada seperti biasanya, halus dan lembut.
"Tidak sayang. Dia tidak pernah lagi menemuiku setelah kejadian di cafe itu. Mmm mungkin saja dia pergi ke rumah temannya terus dia lupa bawa ponselnya."
"Hmm Mungkin saja. Yasudah nanti aku akan bicara lagi sama tante Monic, biar tante Monic tenang." Ucap Mentari membuat Jhon dapat bernafas dengan lega. "Aku tutup dulu telponnya ya. Sepertinya mama memanggilku." Sambung Mentari yang mendengar sang mama memanggil dirinya.
"Baiklah, nanti malam aku telpon kamu lagi ya. Salam buat calon mertua dari calon mantunya yang tampan ini" Ucap Jhon membuat Mentari terkekeh pelan.
"Iya-iya, yasudah aku tutup dulu."
Setelah mengatakan hal itu, Mentari pun langsung memutuskan sambungannya, sementara Jhon nampak menghela nafas beratnya sambil menatap ponselnya.
__ADS_1
"Belum aku minta kiss, sudah di matikan." Ucapnya lalu menaruh ponselnya di atas meja kerjanya.
Jhon mulai meraih berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya, ia berniat untuk memeriksanya, namun niatnya terhenti ketika ia mendengar suara deheman yang berasal dari asisten datarnya itu.
Jhon seketika mengangkat kepalanya, ia menatap asisten datarnya dengan kesal. "Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke ruanganku?" Seru Jhon yang merasa sedikit terkejut dengan kehadiran Egi yang seperti jelangkung itu.
"Bos, anda terlalu sibuk dengan dunia anda sendiri. Saya sudah berkali-kali mengetuk pintu, tapi anda sama sekali tidak mendengarnya. Bahkan saya sudah berdiri sedari tadi di sini, anda sama sekali tidak menyadarinya." Jawab Egi tetap memperlihatkan wajahnya yang datar membuat Jhon semakin kesal.
"Kau saja yang seperti jelangkung." Dengus Jhon sambil meraih berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya itu.
"Aku masih bisa mendengarnya, Eg. Kau ingin aku memotong gajimu itu hah!" Seru Jhon semakin kesal.
__ADS_1
"Tidak, bos." Jawab Egi seadanya. "Oh iya saya ada informasi tentang pak Geri, bos."
"Calon mertuaku?" Tanya Jhon yang mendapat anggukkan kepala dari Egi. "Ada informasi apa?"
"Pak Geri saat ini sedang berada di Thailand, ..."
"Aku tahu itu, Eg. Bukankah pak Geri memang sudah pergi dari beberapa hari yang lalu?" Sela Jhon berpikir bahwa informasi Egi tidaklah penting. Lagian dia juga sudah tahu jika pak Geri pergi ke Thailand, jadi untuk apa Egi memberitahunya lagi. Apa Egi tidak ada kerjaan? Pikir Jhon sambil memijit keningnya.
"Tapi anda tidak tahu kalau sebenarnya pak Geri itu pergi ke Thailand bukan untuk mengurus anak perusahaannya. Dan pak Geri sama sekai tidak memiliki perusahaan di sana." Ucap Egi masih dengan wajahnya yang datar, padahal ia merasa kesal karena bosnya itu menyela ucapannya yang belum selesai.
"Maksudmu pak Geri berbohong?" Tanya Jhon yang mendapat anggukkan kepala dari Egi. "Lalu untuk apa dia pergi ke Thailand? Apakah dia pergi untuk berlibur? Ah atau jangan-jangan dia mempunyai seorang simpanan, terus dia mengajak simpanannya pergi berlibur ke Thailand, terus dia berbohong dengan alesan mengurus anak perusahaan di sana, agar Mentari tidak mencurigainya." Tebak Jhon yang mendapat gelengan kepala dari Egi.
__ADS_1
Imajinasi bosnya itu terlalu berlebihan. Apakah bosnya itu sering menonton drama ikan terbang? Kenapa pula bosnya bisa berpikir sampai sejauh itu? jika Mentari tahu calon suami bucinnya itu menuduh papanya yang tidak-tidak, dapat di pastikan, cap lima jari akan menempel indah di kedua belah pipinya.
Bersambung.