
Jhon segera menghubungi Mentari, ia tidak sabar untuk mendengar suara indah sang pujaan hatinya.
"Ada apa kamu menelponku?" Tanya Mentari setelah ia mengangkat panggilan dari Jhon. Nada suaranya masih terdengar dingin, namun bagi Jhon suaranya terdengar begitu indah di indera pendengarannya.
"Kangen kamu." Jawab Jhon sejujur-jujurnya. "Kamu sedang apa? Apakah kamu sudah makan? Apa kamu sedang memikirkan aku?" Tanya Jhon dengan nada yang begitu lembut dan halus. Bahkan senyumannya terus mengembang di wajah tampannya
"Aku sedang duduk, aku sudah makan, dan aku sedang tidak memikirkanmu." Jawab Mentari dengan ketus.
"Oh benarkah? Tapi aku sangat yakin kalau kamu sedang memikirkan aku." Ucap Jhon dengan rasa percaya dirinya yang tinggi.
"Terlalu percaya diri itu tidak baik."
"Terlalu percaya diri sama kamu itu sangat baik, baby. Karena aku sangat yakin sebentar lagi kamu akan menjadi milikku lagi," seru Jhon membuat Mentari mendengus di seberang telpon sana.
"Ck... Jangan terlalu banyak bermimpi, nanti jatuhnya sakit." Ucap Mentari yang mendapat kekehan pelan dari Jhon.
__ADS_1
"Kalau jatuhnya di pelukanmu tidak akan sakit, sayang." Jawab Jhon masih dengan nadanya yang sama halus dan lembut.
"Berhenti becanda, tidak lucu sama sekali." Dengus Mentari yang merasakan detak jantungnya berdegup dengan sangat cepat ketika mendengar Jhon memanggilnya dengan sebutan sayang. "Dan jangan panggil aku dengan sebutan sayang, ataupun baby lagi. Mengerti." Tegas Mentari membuat Jhon mengerutkan keningnya tidak suka.
"Tidak. Aku akan terus memanggilmu baby, atau pun sayang, sampai kamu menyukai panggilanku." Jawab Jhon membuat Mentari harus menghela nafasnya kasar.
"Terserah kamu, karena sampai kapan pun aku tetap tidak akan menyukainya."
"Tapi aku sangat yakin jika suatu saat nanti kamu akan menyukainya." Ucap Jhon dengan sangat amat yakin.
"Jangan, sayang. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama kamu."
"Katakanlah." Pinta Mentari terdengar tidak sabaran membuat senyuman di wajah Jhon tersungging kembali.
"Aku sangat mencintaimu, dan aku sangat merindukanmu, aku ingin bertemu denganmu, aku ingin memelukmu, menciummu dan aku ingin ....." Ucapan Jhon tercekat di tenggorokkan ketika Mentari memutuskan sambungannya secara sepihak. "Sayang.... Astaga malah di matikan, padahal aku belum menyelesaikan ucapanku." Gerutu Jhon sambil menatap layar ponselnya dengan kesal.
__ADS_1
*Aku ingin memilikimu seutuhnya, dan aku akan melindungimu seumur hidupku. Aku tidak akan pernah menyakitimu, aku akan mencintaimu sampai maut memisahkan kita.*
Akhirnya Jhon meneruskan ucapannya melalui pesan singkat, Jhon segera mengirimkan pesan itu kepada Mentari kemudian ia menaruh ponselnya di atas meja kerjanya. Jhon kembali menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda, ia berharap saat pekerjaannya selesai, Mentari sudah membalas pesannya itu.
Dua jam kemudian...
Jhon sudah menyelesaikan pekerjaannya, ia meregangkan otot-otot di tangannya, kemudian meraih kembali ponsel miliknya berharap pujaan hatinya itu sudah membalas pesannya tadi.
Jhon menghela nafasnya berat saat melihat pesannya tidak di balas oleh pujaan hatinya itu, pesannya hanya di baca seperti koran saja. "Kenapa dia tidak membalas pesanku? Apa dia pikir pesanku hanya sebatas koran saja?" Gerutu Jhon kesal.
*Sayang, kamu kemana? Kenapa pesanku tidak di balas padahal kamu sudah membacanya hmmm.*
Jhon kembali mengirimkan pesan itu kepada Mentari, lalu setelah itu ia menaruh ponselnya ke dalam saku jasnya. Jhon berdiri dari kursi kebesarannya, ia mulai melangkahkan kedua kakinya meninggalkan ruangannya.
__ADS_1
Bersambung.