Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Gangguan jiwa


__ADS_3

Rumah Sakit Jiwa.


"Aaaarghhhh... Aku tidak ingin melihatnya."


Teriakan itu berasal dari seorang perempuan muda yang mengalami gangguan kejiwaan. Sedari tadi ia terus berteriak histeris ketakutan, ntah apa yang terjadi pada perempuan muda itu, hingga membuat dirinya menjadi seperti ini.


Suster segera bergegas memberikan obat penenang, agar perempuan muda itu tidak lagi berteriak histeris.


Perempuan muda itu memberontak sambil berteriak kembali. "Penjahat! Pergi dari hadapanku, jangan sentuh aku."


"Nona! Tenanglah, kami tidak akan menyakitimu." Ucap salah satu suster berusaha untuk menenangkan perempuan muda itu.


"Lepaskan aku! Biarkan aku pergi dari sini. Aaaargh aku tidak ingin melihatnya, tidak... Tidak, jangan ku mohon." Lagi, perempuan muda itu berteriak ketakutan.

__ADS_1


Ketiga suster itu berhasil menyuntikkan obat penenang di tangan perempuan muda itu, suara teriakannya sudah tidak ada lagi, perempuan muda itu nampak melemah tidak bertenaga.


"Kenapa dia bisa seperti ini? Sungguh kasihan sekali dia, masih muda tapi sudah mengalami gangguan jiwa." Salah satu suster berkata sambil menatap perempuan itu iba.


"Mungkin dia mengalami hal yang paling menakutkan, atau mungkin dia pernah melakukan kesalahan selama ia masih menjadi manusia yang waras?" Ucap suster satunya lagi.


"Ntahlah, itu bukan urusan kita. Sebaiknya kita pergi dari sini." Timpal salah satu suster yang sudah selesai mengikat tangan perempuan muda itu agar tidak memgamuk lagi.


"Ya Tuhan.... Lisaaaaa kenapa kamu menjadi seperti ini, sayang? Apa yang terjadi sama kamu, Lisa?" Ucap wanita paru baya itu yang tak lain adalah tante Monic, mama kandung Lisa.


Ya! Perempuan muda itu adalah Lisa, yang beberapa hari di kirim ke rumah sakit jiwa oleh seseorang.


"Ya Tuhan, kenapa putri kami menjadi seperti ini? Apa yang sudah terjadi sama putriku? Siapa yang sudah membuat dirinya menjadi seperti ini?" Kini om Doni mulai bersuara, wajahnya nampak tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.

__ADS_1


Putri satu-satunya, terbaring dengan tangan terikat, keadaannya sangatlah kacau, rambut berantakkan, wajahnya tidak lagi glowing, bibirnya pucat kering, matanya tertutup, mungkin akibat obat penenang yang di berikan oleh ketiga suster tadi


Kedua orangtua itu menangis, ia tidak tega melihat keadaan putrinya yang seperti itu, sungguh sangat menyedihkan.


"Pa! Kenapa putri kita menjadi seperti ini? Siapa yang sudah tega melakukannya, pah?" tante Monic menatap putrinya dengan sendu, air matanya terus saja terjatuh membasahi wajah cantiknya yang sudah mulai keriput itu.


Om Doni mengusap punggung istrinya dengan lembut, berusaha untuk memberikan ketenangan, meskipun dirinya sendiri merasa tidak tenang dan mengkhawatirkan keadaan putrinya itu.


"Ntahlah, mah. Papa tidak tahu siapa orang yang sudah membuat putri kita menjadi gila seperti ini. Apalagi selama ini papa selalu pergi keluar kota, papa sama sekali tidak mengetahui apa yang sudah terjadi dengan Lisa." Jawab om Doni terlihat merasa bersalah karena selama ini ia sama sekali jarang bertemu dengan Lisa. Selama ini ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, hingga dirinya tidak dapat melindungi putrinya dengan baik.


Tante Monic nampak terdiam, tangannya terus menggenggam tangan Lisa dengan erat, air matanya masih terjatuh tidak mau berhenti. "Lisa, siapa yang sudah membuatmu seperti ini, nak?" Lirihnya sambil menatap sendu putri satu-satunya itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2