
"Sayang kalau tidak ada lagi yang ingin kamu katakan, aku tutup dulu ya telponnya. Aku mau menyelesaikan kerjaanku dulu, biar aku bisa cepat pulang." Mentari kembali berbicara, nada suaranya selalu terdengar merdu dan menggoda.
"Baiklah sayang, nanti kamu hubungi aku kalau udah selesai, ya." Jawab begitu lembut dan halus.
"Tari, ada apa? Apakah ada yang sakit? Kenapa wajahmu pucat?" Terdengar suara cemas Rega dari ujung telpon sana membuat langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Aku tidak apa-apa, Ga. Mungkin ini hanya masuk angin saja."
"Tidak apa-apa bagaimana, wajahmu saja terlihat pucat. Sudahlah sebaiknya aku bawa kamu ke rumah sakit."
"Aku tidak apa-apa, Rega. Sungguh."
Percakapan antara istri dan asisten mertuanya membuat Jhon khawatir sekaligus cemburu, nada suara Rega begitu perhatian, namun bukan itu masalahnya sekarang.
"Sayang, kamu kenapa? Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Jhon terlihat sangat khawatir.
"Aku baik-baik saja, sayang. Rega nya saja yang terlalu berlebih,,,, han." Jawab Mentari terdengar seperti menahan rasa ingin muntah.
__ADS_1
"Sayang, aku akan kesana sekarang." Ucap Jhon sembari menyambar jasnya lalu memakainya secepat kilat.
"Sayang, kamu tidak,,,," Ucapan Mentari tercekat di tenggorokkan ketika rasa mual tiba-tiba datang lagi.
"Halo, sayang...." Jhon nampak semakin panik dan khawatir, ia segera melangkahkan kedua kakinya keluar dari dalam ruangannya.
"Saya akan membawa istri anda ke rumah sakit. Nanti alamat rumah sakitnya akan saya kirim kepada anda." Ucap Rega mengambil alih ponsel putri bosnya itu.
Setelah mengatakan hal itu, Rega pun langsung memutuskan sambungannya membuat Jhon mendengus kesal.
"Sialan. Dasar tidak sopan berani sekali dia mengambil ponsel istriku dan memutuskan panggilanku? Dia pikir dia siapa? Awas saja, gue pasti akan membuatnya seperti perkedel." Gerutu Jhon sembari mempercepat langkah kakinya meninggalkan perusahaannya.
Rumah sakit.
Setelah tiba di rumah sakit, Rega langsung memanggil dokter dan meminta dokter itu untuk segera memeriksa kesehatan putri bosnya tersebut. Wajah Rega terlihat cemas, ia takut jika putri bosnya itu kenapa-kenapa.
Sementara itu, dokter yang ia panggil pun langsung memeriksa keadaan Mentari saat ini. Dokter itu nampak sangat fokus, ia tidak ingin melakukan kesalahan sedikitpun atau ia akan menjadi sasaran amuk si asisten Rega yang selalu memperhatikannya dengan wajah yang menurut dokter itu sangat menyeramkan.
__ADS_1
Setelah selesai melakukan pemeriksaan, dokter itu pun tersenyum kepada Mentari dan juga Rega.
"Selamat ya bu, pak, sebentar lagi kalian akan menjadi ibu dan ayah." Ucap dokter itu membuat Rega salah tingkah. Kenapa pula dokter itu bisa salah paham kepadanya? Apakah karena dirinya yang terlihat begitu mengkhawatirkan keadaan putri bosnya tersebut?
"Apakah benar dok? Saya akan menjadi seorang ibu?" Tanya Mentari terlihat begitu antusas.
"Benar, bu. Jika ibu dan bapak tidak percaya, bapak boleh membawa istri bapak untuk memeriksanya langsung kepada dokter kandungan." Jawab dokter itu ramah.
"Ekhmm, maaf saya bukan suaminya. Dia putri bos saya." Seru Rega sambil memberikan tatapan dinginnya kepada dokter itu.
"Ah maafkan saya, pak. Saya pikir anda suaminya." Ucap si dokter itu sedikit takut mendapat tatapan dingin dari Rega.
"Tidak apa-apa." Jawab Rega singkat.
Dokter itu tersenyum canggung.
"Tapi anda terlihat seperti suaminya... "
__ADS_1
"Apa yang anda katakkan dokter! Siapa yang anda bilang terlihat seperti suami istri saya? Apakah anda sudah tidak memerlukan lidah anda lagi?" Seru seorang laki-laki yang tak lain adalah Jhon yang baru saja memasuki ruangan itu. Wajah Jhon nampak memerah, tatapan matanya begitu tajam membuat si dokter itu harus menelan salivanya susah payah.
Bersambung.