
Dokter segera datang dan memeriksa keadaan Alex, sungguh sebuah keajaiban yang besar bahwa pasiennya itu dapat tersadar dalam waktu yang singkat. Padahal jelas-jelas pasiennya itu mengalami pendarahan yang cukup hebat di kepalanya.
"Bagaimana dok, apakah putra saya sudah membaik?" Tanya bu Widia yang sedari tadi berdiri di belakang dokter itu.
"Keadaannya masih sangat lemah, jadi ibu harus terus berdoa untuk kesembuhannya." Ucap si dokter itu di iringi dengan helaan nafas beratnya.
"Baik, dok. Terima kasih."
"Sa... " Ucapan dokter itu tercekat di tenggorokkan saat Alex bersuara dengan lirih.
"Men,,,, ta,, ri." Lirih Alex terdengar berat.
"Mentari, siapa bu? Mungkin ibu bisa menyuruh perempuan bernama Mentari itu datang kemari." Ucap si dokter yang mendapat helaan nafas berat dari dari Widia.
"Mentari itu mantan menantu saya, dok. " Jawab bu Widia pelan.
"Sebaiknya ibu segera memintanya untuk datang kemari, mungkin ada hal yang ingin putra ibu katakkan kepadanya." Saran dokter itu. "Kalau begitu saya permisi dulu, bu." Pamitnya yang mendapat anggukkan kepala dari bu Widia. Setelah itu, dokter itu pun langsung bergegas melangkahkan kedua kakinya keluar dari ruangan pasien itu.
__ADS_1
Bu Widia kembali menghampiri putranya, ia menatap sang putra dengan sendu, kemudian ia berkata. "Apakah kamu ingin hanya ingat dengan Mentari, Alex? Kenapa di saat kamu sadar, hanya nama dia yang kamu panggil?"
"M,,, mah,, a,,, aku,, aku ingin ber,,, bertemu de,,, dengan Men,,, tari, mah. A,,, aku, mohon." Ucap Alex sangat lemah.
Bu Widia nampak menghela nafasnya panjang, ia tersenyum sambil mengusap pucuk kepala putra semata wayangnya itu.
"Baiklah, asal kamu senang dan segera sembuh, mama akan menghubungi Mentari dan memintanya untuk datang kesini. Walaupun mama harus memohon kepadanya, demi kamu, mama rela melakukannya." Jawab sang mama kembali meneteskan air matanya. Ntahlah, perasaan dia sangat cemas, padahal putranya sudah siuman, namun ntah mengapa rasa takut itu tiba-tiba muncul dalam dirinya.
Alex tersenyum, senyumannya terlihat sendu membuat bu Widia merasakan takut yang luar biasa. Seakan-akan ia tidak akan lagi melihat senyuman dari putranya itu.
Beberapa detik ia menunggu, akhirnya mantan menantunya itu pun mengangkat panggilan dari dirinya.
"Iya, ada apa tante menghubungiku?" Tanya Mentari terdengar lembut dari seberang telpon sana.
"Mentari, bisakah tante minta tolong sama kamu, tolong datang ke rumah sakit Medistra sekarang, tante mohon." Seru bu Widia membuat Mentari khawatir. Bagaimana pun juga, baik buruknya bu Widia, ia tetap pernah menjadi mertuanya Mentari.
"Memangnya siapa yang masuk rumah sakit?" Tanya Mentari terdengar sedikit panik.
__ADS_1
"Alex, Mentari. Dia,, dia kecelakaan, dan dia baru saja siuman, dia ingin bertemu denganmu sekarang. Tante mohon, tolong temuin Alex, Tari. Dia sangat ingin bertemu denganmu." Ucap bu Widia membuat Mentari terkejut.
"Alex kecelakaan tante? Bagaimana kondisinya sekarang? Kenapa dia ingin bertemu denganku? Apakah kondisinya sangat parah?" Tanya Mentari terdengar sedikit khawatir, karena meskipun dia sudah tidak mencintai Alex, dan bahkan sudah tidak ingin bertemu lagi dengan Alex, namun bukan berarti ia merasa senang ketika mendengar mantan suaminya itu kecelakaan. Bagaimana pun juga, Mentari masih memiliki hati nurani.
"Sangat lemah, Tari. Makannya tante minta tolong sama kamu, tolong datang dan temui Alex sekarang, tante mohon, Mentari." Ucap bu Widia di iringi dengan isak tangisnya membuat Mentari merasa tidak tega untuk menolak permintaannya.
"Baiklah, aku akan kesana sekarang." Jawab Mentari membuat bu Widia tersenyum lega.
"Terima kasih Mentari, terima kasih. Maafkan atas semua kesalahan-kesalahan tante, karena tante sudah membuatmu kecewa dan sakit hati. Sekali lagi maafkan tante Mentari."
"Aku sudah melupakannya tante, semuanya biarlah menjadi masalalu. Tante tidak perlu meminta maaf kepadaku, karena setiap manusia pasti memiliki kesalahannya masing-masing. Yasudah sekarang aku mau siap-siap dulu, aku matikan dulu ya telponnya tante." Seru Mentari membuat hati bu Widia tersentuh dengan ucapannya. Bagaimana mungkin ia bisa menyakiti hati menantu yang berhati malaikat seperti Mentari? Mungkin jika menantu lain, sudah pasti mereka tidak akan sudi memaafkan kesalahan atas ucapannya yang sangat keterlaluan itu. Namun Mentari, justru ia memaafkannya dengan begitu mudah. Sungguh luar biasa.
Mentari langsung memutuskan sambungannya, sementara bu Widia kembali menjatuhkan air matanya.
"Pantas saja putraku begitu mencintainya, dia memang wanita berhati malaikat." Batin bu Widia sembari menaruh kembali ponselnya ke salam tas kecil miliknya.
Bersambung.
__ADS_1