Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Harus berubah


__ADS_3

Kediaman Alex.


Bu Widia menatap putranya dengan nanar, wujud Alex yang sekarang sangat berbeda jauh dengan Alex yang dulu. Jika dulu Alex selalu terlihat tampan dan rapi, tetapi sekarang justru sebaliknya. Alex terlihat sangat berantakkan, rambutnya tidak ia urus, dagunya mulai di tumbuhi oleh bulu-bulu halus, tubuhnya pun terlihat sangat kurus akibat jarang makan.


"Alex, apa kamu akan terus tetap seperti ini, nak?" Tanya bu Widia sembari berjalan menghampiri putra satu-satunya itu.


Alex bergeming dengan tatapan mata lurus ke depan, ia sama sekali tidak memperdulikan pertanyaan sang mama, meskipun ia mendengarnya.


"Alex, berhentilah menyiksa dirimu sendiri, lupakan semua masa lalumu, bukalah lembaran barumu, Alex." Bu Widia mengusap pundak putra semata wayangnya itu, wajahnya terlihat sangat sedih melihat keadaan Alex seperti saat ini.


"Mah, apa aku bisa mengulang waktu lagi?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Alex.


Bu Widia nampak menghela nafas beratnya, lalu berkata. "Waktu tidak akan pernah bisa di ulang, Alex. Jadi, berhentilah menyakiti dirimu sendiri. Lupakan mantan istrimu itu, carilah kebahagiaan untuk dirimu sendiri."

__ADS_1


"Ini hukuman atas dosa yang sudah aku perbuat terhadap Mentari. Aku tidak bisa melupakan kesalahanku, dan aku sama sekali tidak bisa melupakannya, mah." Lirih Alex membuat bu Widia semakin kasihan.


"Seberapa pun aku berusaha untuk melupakannya, tetap saja aku tidak bisa mah, aku selalu di hantui oleh rasa bersalahku terhadapnya." Ucap Alex sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Alex benar-benar tidak dapat melupakan kesalahan yang sudah ia perbuat kepada mantan istrinya itu. Semakin ia melupakannya, semakin jelas pula bayangan mantan istrinya yang sedang menangis karena pengkhianatannya.


"Alex! Jika kamu ingin mendapatkannya kembali, maka kamu harus berubah, jangan seperti ini. Jika keadaanmu seperti ini, jangankan Mentari, perempuan lain pun pasti tidak akan sudi melihatmu." Seru bu Widia membuat Alex langsung terdiam.


"Papamu sudah memaafkan kesalahanmu, Alex. Dan perusahaan butuh kamu, apa kamu tidak ingin menjabat lagi sebagai CEO?" Tanya bu Widia berusaha untuk membujuk putranya itu.


"Mama pergi dulu, ingat! Ucapan mama barusan." Tegas bu Widia sembari menepuk pundak putra semata wayangnya itu. Lalu setelah itu, bu Widia pun langsung pergi melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Alex sendirian.


"Benar kata mama, jika aku seperti ini, jangan Mentari, perempuan lain pun tidak akan sudi melihatku. Aku harus berubah seperti dulu lagi." Batin Alex di iringi dengan helaan nafas beratnya.


***

__ADS_1


Mentari menghembuskan nafas beratnya, hari ini ia benar-benar di sibukan oleh beberapa pekerjaannya yang tertunda. Rega yang selalu membantu dalam mengurus pekerjaan Mentari pun tersenyum saat melihat putri bosnya itu menghela nafasnya.


"Istirahatlah dulu, jangan terlalu memaksakan dirimu sendiri." Ucap Rega sambil menatap putri bosnya tersebut.


"Emm tidak bisa, pekerjaan ini harus selesai sekarang." Jawab Mentari kembali memeriksa berkas-berkasnya.


"Aku sudah bilang, kalau aku akan membantumu. Ini perintah dari papamu, Tari."


"Emm tapi, kamu sendiri lagi sibuk, Rega. Lagian sore ini kamu harus pergi untuk menemui klien kita, bukan?" Ucap Mentari tanpa menatap lawan bicaranya.



"Klien kita meminta untuk bertemu dengan putri pemilik perusahaan ini langsung, Tari. Kalau tidak! Dia akan membatalkan kerja samanya dengan perusahaan kita dan bergabung dengan perusahaan lawan." Jelas Rega sembari menatap putri bosnya yang tengah sibuk dengan berkas-berkasnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2