
Kediaman Tante Monic.
"Mah, papa kemana?" Tanya Lisa sambil menatap tante Monic yang saat ini sedang menyiapkan makan malam, karena kebetulan pelayan di kediamannya sedang pulang ke kampung halamannya.
"Papamu sedang dinas keluar kota, sayang. Kemungkinan papamu pulang minggu depan." Jawab tante Monic sambil menarik kursi untuk dirinya.
"Papa selalu sibuk. Dia sangat jarang sekali memberikan waktunya untuk mama." Ucap Lisa di iringi dengan helaan nafas beratnya.
"Dia sibuk demi kita juga." Jawab tante Monic sembari mengambil piring dan menyendokkan nasi untuk putrinya itu. "Sebaiknya kita makan dulu, ya. Nanti lagi ngobrolnya." Ucapnya yang mendapat anggukkan kepala dari Lisa.
__ADS_1
Lalu setelah itu keduanya pun mulai menyantap makan malamnya dengan tenang.
"Mah, ada hal yang harus aku beritahukan sama mama." Ucap Lisa setelah ia menyelesaikan makan malamnya.
Tante Monic tersenyum, kemudian berkata. "Katakanlah sayang."
"Mah, sebenarnya aku,,, aku adalah seorang penajahat, aku sudah mencelakai Mentari di masa lalu, dan aku sudah membuat Mentari amnesia. Aku juga yang menyebabkan Mentari berpisah dengan Jhon dulu." Lisa nampak tertunduk, kini penyesalannya semakin mendalam ketika ia kembali mengingat perbuatan jahatnya kepada sahabatnya itu.
"Lima tahun kemudian, aku yang menghancurkan rumah tangga dia, lalu aku menyuruh seseorang untuk membunuhnya seperti lima tahun yang lalu." Lisa kembali berucap di iringi dengan isak tangisnya. Sementara tante Monic semakin terkejut mendengar pengakuan putrinya itu.
__ADS_1
"Mah, aku ingin menyerahkan diriku kepada polisi, tapi sebelum itu, aku ingin menemui Mentari dan meminta maaf kepdanya. Aku sadar perbuatanku tidak akan pernah termaafkan, tetapi, aku akan tetap meminta maaf kepada Mentari. Aku,,,, aku tidak ingin hidup dengan penuh penyesalan, aku,,,, aku ingin menebus semua kesalahanku terhadap Mentari." Tangis Lisa pecah seketika. Ia benar-benar menyesal dengan apa yang sudah ia perbuat dulu.
Lisa bertekad akan menyerahkan dirinya kepada polisi setelah ia bertemu dan meminta maaf kepada Mentari. Ia bersungguh-sungguh ingin menebus semua perbuatan jahatnya terhadap sahabatnya itu.
"Lisa,,,, kenapa kamu bisa se jahat itu sama Mentari? Apa sebenarnya salah dia sama kamu, Lisa?" Ucap tante Monic di iringi dengan derai air matanya. Kecewa, marah, sedih, dan hancur bercampur aduk dalam dirinya. Di satu sisi ia tidak ingin melihat putrinya itu masuk penjara, namun di sisi lain, ia juga tidak ingin putrinya itu lepas dari tanggung jawabnya. Tante Monic benar-benar merasa dilema. Detak jantungnya tiba-tiba saja berdegup dengan sangat cepat. Sakit, itulah yang ia rasakannya saat ini.
"Aku,,, aku yang selalu iri terhadapnya, mah. Aku selalu merasa bahwa aku selalu hidup dalam bayangannya. Aku selalu kalah dari dirinya. Aku,,,, aku yang salah, aku yang memiliki hati jahat, mah. Mentari sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun terhadapku. Aku,, aku hanya benci saat semua orang menatapnya penuh kagum, aku benci saat laki-laki yang ku sukai justru menyukainya. Aku benci saat mama membicarakan dia dengan penuh kekaguman."
"Aku benci semua tentang dia, mah. Aku benci dia yang polos, aku benci kehidupan dia yang bahagia itu, aku juga ingin seperti dia, mah. Tapi pada kenyataannya, aku hanyalah seorang sampah yang sama sekali tidak ada apa-apa nya jika di bandingkan dengan dia."
__ADS_1
Lisa menghapus air matanya, ia menatap mamanya dengan nanar. "Tapi sekarang aku menyesal, mah. Aku sangat menyesal karena sudah mencelakai dia, aku menyesal karena sudah membuat rumah tangganya hancur berantakkan. Aku sungguh sangat menyesal, mah." Lirihnya di iringi dengan air matanya yang kembali jatuh membasahi wajahnya.
Bersambung.