Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Calon istri


__ADS_3

Jhon kembali mengelus pucuk kepala Mentari, lalu setelah itu ia pun beranjak dari tempat duduknya. "Kamu ingin sarapan apa? Biar aku belikan." Ucapnya sembari memperlihatkan senyumannya yang manis.


"Emm aku.... " Ucapan Mentari tercekat di tenggorokkan saat pintu ruangan itu terbuka.


Mama Natalia berjalan masuk sambil membawa tiga kotak sedang yang berisi makanan untuu putrinya itu.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?" Tanya mama Natalia sembari meletakan kotak yang berisikan makanan itu di atas meja kecil yang berada di dalam ruangan tersebut.


"Aku sudah tidak apa-apa, mah." Jawab Mentari selalu menampilkan senyumannya yang manis.


"Ah syukurlah, sayang. Mama jadi lega mendengarnya." Ucap mama Natalia sambil mengusap lembut pucuk kepala putrinya itu.


Mama Natalia mengalihkan pandangannya ke arah Jhon, ia tersenyum kemudian berkata. "Terima kasih sudah menjaga anak tante, Jhon."


Jhon tersenyum sembari menganggukkan kepalanya pelan. "Tante tidak perlu berterima kasih, ini memang sudah menjadi tugasku untuk menjaga calon istriku." Jawab Jhon membuat Mentari tersedak air liurnya sendiri.


"Sejak kapan aku menjadi calon istrimu hmm?" Seru Mentari sembari menatap Jhon.

__ADS_1


"Sejak aku mencintaimu, dan kamu mencintaiku." Jawab Jhon tanpa rasa malunya membuat mama Natalia terkekeh dengan pelan.


"Aku.... "


"Sudah-sudah, jangan di teruskan lagi. Sayang, sebaiknya kamu sarapan dulu, ya. Mama bawain makanan favorit kamu nih." Sela mama Natalia sembari membuka kotak makanan yang ia bawa tadi.


"Oh iya Jhon, kamu juga sekalian sarapan ya. Tante sengaja bawa banyak makanannya untuk kamu dan Mentari." Ucapnya kepada Jhon.


Jhon melirik jam tangan mewah di tangan kirinya, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 07.35 pagi. Jhon menghela nafas beratnya, sejujurnya ia sangat ingin sarapan bersama Mentari pagi ini. Akan tetapi ia juga harus berangkat ke kantor, karena pagi ini ia ada rapat penting di perusahaannya.


"Tidak apa-apa, Jhon. Lain kali kamu masih bisa sarapan bersama Mentari, dan mencicipi makanan buatan tante yang enak ini." Ujar mama Natalia membuat senyuman di wajah Jhon mengembang seketika.


"Terima kasih tante, tante tau aja kalau aku ingin mencicipi makanan tante yang enak itu." Kekeh Jhon sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kalau begitu aku permisi dulu ya tante." Pamit Jhon yang mendapat anggukkan kepala dari mama Natalia.


"Sayang, aku berangkat dulu ya. Hari ini kamu istirahat aja ya, jangan memikirkan tentang pekerjaanmu, pikirkan saja aku calon suamimu ini. Kalau kamu merindukanku, kamu telpon saja aku, ok." Ucap Jhon sambil mengelus pucuk kepala pujaan hatinya itu.


Mentari yang mendengar ucapannya pun hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan, laki-laki ini, benar-benar memiliki kepercayaan diri yang tinggi, melebihi tingginya monas. Bahkan di hadapan sang mama pun, Jhon sama sekali tidak malu.

__ADS_1


"Kamu terlalu percaya diri, Jhon. Yasudah kamu berangkat sana, hati-hati di jalan."


Jhon hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, lalu setelah itu, ia pun bergegas melangkahkan kakinya keluar dari ruang pasien tersebut.


"Sepertinya dia sangat mencintaimu, Tari." Ucap mama Natalia setelah kepergian Jhon.


"Mama... "


"Mama setuju jika suatu saat nantikamu menikah dengannya. Dia terlihat sangat tulus sama kamu, Tari." Sela sang mama sembari memberikan kotak makanan itu kepada Mentari.


"Perceraianku dengan Alex saja belum 4 bulan, mah. Tapi mama sudah membahas pernikahan lagi." Ucap Mentari di iringi dengan helaan nafas beratnya.


"Memangnya kenapa, sayang? Mama kan hanya bilang suatu saat nanti kalau kamu menikah dengannya, mama pasti menyetujuinya."


Mentari hanya terdiam sambil mengunyah makanannya, ia tidak lagi menanggapi ucapan sang mama, ia memilih fokus dengan sarapannya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2