
Jhon melepaskan pelukannya, lalu ia membalikkan tubuh Mentari, agar gadis itu berhadapan langsung dengannya. Jhon mengelus lembut wajah cantik pujaan hatinya, tatapan matanya begitu dalam, senyumannya terukir indah membuat detak jantung Mentari berdegup semakin cepat. "Aku tidak mungkin meninggalkanmu, sayang. Karena apa? Karena hatiku hanya milikmu, dan di dalam hatiku hanya terukir namamu, jadi tidak mungkin perempuan lain dapat masuk ke dalam hatiku."
"Kamu adalah wanita paling berharga dalam hidupku, Mentari. Aku bersumpah, aku akan mencintaimu sampai aku menutup mata." Ucap Jhon terlihat begitu tulus. Tidak ada tanda-tanda kebohongan dari dalam dirinya membuat Mentari seketika memeluk tubuh Jhon meluapkan segala rasa yang ada dalam dirinya.
Braaaak...
Seketika Jhon kembali ke alam sadarnya saat suara gebrakkan meja masuk ke dalam indera pendengarannya. Jhon langsung menatap kesal seseorang yang sudah mengganggunya mengenang masa-masa indah bersama kekasih hatinya itu. Sementara itu yang di tatap justru menampilkan wajah tanpa dosanya dan duduk di kursi seperti orang yang tidak memiliki kesalahan.
__ADS_1
"Sialan! Apa lo udah bosan hidup hah!" Seru Jhon sambil melempar sebuah map yang ada di atas mejanya tepat mengenai sasarannya.
Laki-laki tampan itu mendengus kesal, ia kembali menaruh map itu di atas meja kerja, Jhon. "Ckk... Gue masih mau hidup, Tan. Lagian lo dari tadi melamun aja kayak orang tidak punya pekerjaan." Ucap laki-laki itu yang tak lain adalah Rey, sepupu Jhonatan.
"Lo tidak punya sopan santun, masuk ke ruangan gue seenaknya saja. Dan untuk apa lo datang kemari?" Tanya Jhon dengan nadanya suaranyayang masih terdengar kesal.
"Gue udah ketuk pintu ruangan lo ampe tiga kali, Bambang! Lo nya aja yang budeg dan sibuk melamun seperti orang susah aja, lo." Seru Rey sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya. "Gue datang kemari karena gue mau ngajak lo pergi ke tempat tongkrongan kita dulu."
__ADS_1
"Sialan! Lo yang tua bangka. Umur gue baru dua puluh sembilan tahun, Bambang!" Geram Rey sambil menatap kesal Jhonatan. "Dahlah males gue ngajakkin cecunguk kayak, lo. Bikin darah gue tinggi." Ucapnya sambil beranjak dari tempat duduknya. Rey benar-benar merasa sangat kesal, tadinya dia berpikir dengan mengajak Jhon pergi ke tempat tongkrongannya dulu, Jhon akan lansgung menyetujuinya, karena Rey sangat tahu jika tempat itu adalah tempat favorit Jhon dan juga dirinya. Namun, siapa sangka Jhon langsung menolaknya dan mengatakan bahwa dirinya sudah tua bangka. Benar-benar bikin orang kesal saja.
Jhon tidak menanggapi ucapan sepupunya itu, ia malah mengambil berkas yang ada di atas mejanya dan mulai memeriksanya kembali.
Rey berjalan menuju jendela yang ada di ruangan itu, lalu ia berdiri dan menatap gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Rey mendesah pelan, besok adalah hari pertamanya ia menginjakkan kaki di perusahaan ayahnya. "Sangat menyebalkan." Gumamnya di iringi dengan helaan nafas beratnya.
Rey memang tidak berniat untuk meneruskan perusahaan sang ayah, jika ia bisa memilih, ia pastinya akan memilih menjadi seorang photographer. Ya Rey memang memiliki cita-cita sebagai photographer yang hebat. Namun sayangnya ia tidak bisa mewujudkan impiannya, dan terpaksa ia harus menggantikan sang ayah untuk meneruskan perusahaannya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Rey teringat pada pertemuannya dengan gadis cantik yang menarik perhatiannya beberapa hari yang lalu. "Bagaimana kabar gadis itu? Kapan gue bisa bertemu lagi dengannya?" Batin Rey sambil mengukir senyumannya yang sangat manis.
Bersambung.