
"Mama jangan berpikiran jauh seperti itu. Aku tidak mungkin merusak calon istriku sendiri. Apalagi dia adalah perempuan paling aku cintai dan aku sayangi, aku harus menjaga dan melindunginya." Ucap Jhon terlihat begitu serius.
"Baiklah, anggap saja mama yang berpikiran sempit sama kamu, Jhon. Tapi mama sangat penasaran, sebenarnya apa alasan kamu ingin menikahi Mentari secepatnya? Apakah kamu takut Mentari akan di ambil oleh orang lain? Atau kamu memang kebelet pengen nikah aja?" Tanya mama Celine sembari menatap putra semata wayangnya itu penasaran, begitu pula dengan pak Calvin. Ia sangat penasaran, mengapa putranya itu tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya ingin menikahi Mentari secepatnya.
Jhon menarik nafasnya dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan. Ia menatap sang mama dan juga papanya secara brrgantian, lalu ia berkata.
"Mah, pah. Sebenarnya om Geri itu mengidap penyakit kanker stadium akhir, saat ini beliau sedang berada di Thailand untuk mengobati penyakitnya itu. Mama dan papa tahu, berapa persen orang yang bisa sembuh dari penyakit itu, bukan?" Ucap Jhon membuat kedua orangtuanya terkejut. Mereka tidak percaya jika om Geri yang terlihat baik-baik saja mengidap penyakit yang mematikan itu.
"Ya, Tuhan. Mama tidak menyangka jika calon mertuamu mengidap penyakit itu, Jhon."
"Papa juga tidak menyangka, Geri mengidap penyakit itu, mah. Padahal saat dulu papa bertemu sama dia, dia terlihat sehat-sehat saja. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia memiliki penyakit yang mematikan itu." Timpal pak Calvin sambil mengingat pertemuan pertamanya dengan pak Geri, calon besannya itu.
__ADS_1
"Lalu, apa hubungannya sama kamu yang ingin menikah cepat-cepat dengan Mentari?" Tanya sang mama masih belum menangkap maskud dari ucapan putranya itu.
"Ya Tuhan, mah. Kenapa mama ini lemot sekali sih?"
"Loh kok papa malah bilang mama lemot sih? Mama kan bertanya apa hubungannya penyakit pak Geri sama Jhon yang ingin mempercepat pernikahannya dengan Mentari." Seru mama Celine sembari menatap kesal suaminya.
"Ya tentu saja itu atas permintaan pak Geri, mah. Jhon kan sudah bilang, kalau pak Geri itu mengidap penyakit kanker stadium akhir. Bagi orang yang memiliki penyakit mematikan seperti pak Geri, otomatis ia akan berpikir, jika hidupnya sudah tidak akan lama lagi, dan biasanya mereka akan meminta sesuatu yang akan membuat mereka bahagia sebelum mereka meninggal." Jelas pak Calvin panjang lebar, membuat mama Celine mulai paham.
"Mama mengertikan sekarang?" Tanya pak Calvin yang mendapat anggukkan kepala dari mama Celine.
"Tapi, jika pak Geri meninggal, Mentari pasti akan sangat bersedih. Mama tidak bisa membayangkan gimana sedihnya Mentari kehilangan papa yang paling di sayanginya selama ini." Lirih mama Celine dengan raut wajah yang terlihat sendu.
__ADS_1
"Mama tenang saja, aku sudah menyuruh seseorang untuk memindahkan pak Geri ke rumah sakit Thonburi. Di sana ada dokter Pairoj Sinlarat, seorang ahli Onkologi medis. Kita berdoa saja, semoga penyakit om Geri dapat di sembuhkan melalui dirinya. Karena aku tidak akan sanggup jika melihat wanita yang aku cintai harus kehilangan sosok yang paling berharga dalam hidupnya." Ucap Jhon terlihat sangat yakin jika penyakit om Geri dapat di sembuhkan lagi.
"Ya. Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk pak Geri." Timpal pak Calvin di iringi dengan helaan nafas beratnya.
"Yasudah, kalau begitu aku berangkat dulu, mah, pah." Pamit Jhon sembari menyambar tas kerjanya. Pak Calvin hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil memakan sarapannya.
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut bawa mobilnya, Jhon." Ucap sang mama yang mendapat anggukkan kepala dari putranya itu.
Setelah berpamitan, Jhon pun langsung pergi melangkahkan kedua kakinya meninggalkan pak Calvin dan juga mama Celine yang nampak menghela nafasnya secara bersamaan.
Bersambung.
__ADS_1