
Suara tangisan bayi memenuhi ruang bersalin yang di tempati oleh Mentari. Jhon terlihat sangat bahagia ketika melihat baby pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki lahir, lalu lima menit kemudian baby keduanya yang berjenis perempuan pun keluar dari rahim sang istri.
Wajah Mentari nampak pucat, namun ia masih sadarkan diri meskipun ia baru saja melahirkan dua bayi kembar yang berbeda jenis kelamin itu. Wajah Jhon terlihat sangat bahagia, akhirnya penantiannya selama ini di kabulkan oleh Tuhan.
Jhon langsung mengecup kening istrinya, mengusap pucuk kepala sang istri dengan lembut, ia tidak perduli dengan lengan yang terluka akibat cakaran istri tercintanya tadi. "Sayang, bayi kembar kita sudah lahir dengan selamat, terima kasih kamu sudah berjuang untuk baby kita, sayang. Kamu adalah wanita terhebat. Terima kasih sayang." Ucap Jhon kembali mendaratkan kecupannya di kening sang istri.
Mentari tersenyum, tentu saja ia akan berjuang demi baby twins yang lucu itu, meskipun nyawa taruhannya, Mentari akan tetap berjuang. "Syukurlah, aku merasa lega." Jawab Mentari masih lemah.
Dokter segera menyuruh para perawat untuk membersihkan baby twins itu, lalu ia berjalan dan mengambil jarum jahit untuk menjahit area sensitif Mentari.
Jhon yang melihat hal itu pun seketika terkejut, ia langsung menatap dokter itu dengan tajam. "Apa yang akan anda lakukan, dokter? Ke,, kenapa anda membawa jarum jahit sebesar itu? Mau anda apakan istri saya?" Seru Jhon lantang membuat si dokter itu terkejut, bahkan Mentari pun merasa sangat terkejut.
"Mohon maaf, pak. Saya akan menjahit bagian sensitif istri anda..."
"Di ja,, jahit? Ke,, kenapa harus di jahit dokter" Seru Jhon gugup sekaligus takut, padahal yang mau di jahit adalah istrinya, kenapa pula dia yang gugup dan takut seperti itu?
Dokter itu menghela nafasnya panjang, kemudian ia berkata. "Saat seorang wanita melahirkan normal, bagian mis v nya akan robek, dan itu perlu di jahit, pak. Jadi, saya akan menjahit mis v istri bapak yang robek itu. Jadi, saya harap bapak diam dulu, biarkan saya konsentrasi dengan jarum jahit saya."
__ADS_1
"Ta,,, tpi,, itu akan sangat menyakitkan dokter. Saya... "
"Sayang, diamlah. Jangan bersuara lagi. Biarkan dokter itu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Ok." Sela Mentari dengan suara yang masih sangat lemah. Kalau Mentari sudah berbicara si raja bucin itu tentunya akan langsung menutup mulutnya seklaigus matanya, ia tidak tega melihat bagian sensitif yang istri di jahit dengan jarum yang menurutnya sangat besar itu. Tetapi ia juga tidak ingin meninggalkan sang istri di ruangan itu. Ia ingin selalu menemani sang istri, hingga sang istri sehat.
***
Setelah selesai, Mentari langsung di pindahkan ke ruangan khusus sesuai dengan permintaan si raja bucin itu.
Kini semuanya sudah berkumpul di dalam ruangan itu, menunggu baby twins yang sebentar lagi akan segera tiba di ruangan itu.
"Aku baik-baik saja, mah." Jawab Mentari masih terdengar lemah.
"Syukurlah sayang, kita semua sangat mengkhawatirkanmu tadi, tapi kita semua lega karena kamu dan baby twinsnya lahir dengan selamat." Ucap mama Celine menggeser tempat berdiri putrany, Jhon.
"Iya, mah. Terima kasih atas doa kalian." Seru Mentari sambil memperlihatkan senyuman manisnya.
"Mama, ini kayak emak-emak lagi antri beras, nerobos seenaknya saja." Gerutu Jhon sambil berjalan dan berdiri di samping kiri istri tercintanya.
__ADS_1
Semua yang ada di dalam ruangan itu terkekeh pelan, si raja bucin itu benar-benar tidak bisa di jauhkan walau hanya satu detik pun dari istri tercintanya.
Tidak lama kemudian, dokter yang membantu persalinan Mentari pun masuk bersama dua perawat, sambil mendorong baby box dan berjalan menghampiri Mentari.
Semua yang ada di dalam ruangan itu pun sangat antusias ingin melihat bayi-bayi mungil itu.
"Selamat, bu, pak. Atas kelahiran bayi kembarnya.
"Terima kasih dokter." Ucap Mentari di iringi dengan senyuman yang mengembang dari sudut bibirnya.
"Sudah kewajiban saya untuk membantu pasien saya melahirkan." Jawab dokter itu sambil membalas senyuman Mentari. " Kalau begitu saya permisi dulu, bu, pak." Pamit dokter itu yang mendapat anggukkan kepala dari semuanya.
Setelah itu dokter dan dua perawat itu pun keluar dari ruangan tersebut sementara mama Celine dan mama Natalia langsung bergerak menghampiri baby twins cucu pertama mereka.
Bersambung.
__ADS_1