
Mentari terdiam beberapa detik, saat ia mulai kembali ke alam sadarnya, ia pun langsung melepaskan genggaman Jhon dan memalingkan wajahnya ke arah lain. "Jangan menggenggam tanganku sembarangan lagi. Ingat! Saat ini aku masih istri Alex." Ucap Mentari tanpa menatap lawan bicaranya.
Jhon mendengus kesal saat mendengar nama Alex keluar dari bibir manis sang pujaan hatinya. "Tapi, sebentar lagi kamu bukan lagi istri si bajingan itu, Mentari." Serunya sambil menatap lekat wajah cantik Mentari.
"Bagaimana kamu bisa tahu? Apakah kamu menyelidiku?" Tanya Mentari sambil menatap Jhon penuh selidik.
Jhon tersenyum sambil mengedikkan kedua bahunya. "Semua tentangmu aku pasti tahu, Mentari. Jadi kamu tidak perlu terkejut seperti itu." Jawab Jhon di iringi dengan senyumannya yang manis semanis madu.
Mentari menatap tidak percaya ke arah Jhon, bagaimana bisa ada laki-laki seperti Jhon di dunia ini? Sudah menyelidiki tentang dirinya, tapi dia bertindak seolah-olah ia tidak melakukan sesuatu hal yang sangat menyebalkan bagi Mentari.
"Berhenti menyelidiki tentangku, atau aku akan melaporkanmu sebagai penguntit." Seru Mentari dengan tegas.
Jhon terkekeh dengan pelan, ntah mengapa saat melihat wajah Mentari yang tegas dan ucapannya yang dingin membuat dirinya gemas dan ingin mencium pipinya itu. Namun sayangnya, Jhon tidak bisa melakukan apa yang ia inginkan atau dia akan menerima tato lima jari di pipinya yang mulus itu.
Obrolan mereka terjeda saat pelayan cafe datang dengan sebuah nampan yang berisikan minuman yang di pesan oleh dua manusia berbeda jenis kelamin itu. Dengan hati-hati pelayan itu menaruh minumannya di atas meja. "Silahkan di nikmati, mas, mbak." Ucap si pelayan itu dengan ramah.
"Terima kasih, mbak." Jawab Mentari sambil memperlihatkan senyumannya yang tidak pernah Jhon lihat lagi setelah perpisahan lima tahun lamanya.
Pelayan itu hanya menganggukkan kepalanya dan memperlihatkan senyumannya, kemudian pelayan itu pun berpamitan dsn pergi melangkahkan kedua kakinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu menatapku seperti itu lagi? Apa kamu tidak mendengar ucapanku tadi?" Seru Mentari saat Jhon kembali menatapnya dengan tatapan yang sama persis seperti tadi membuat dirinya salah tingkah.
"Aku menyukainya, wajahmu sangat indah dan menenangkan, sangat sayang jika aku tidak memandangnya walau hanya sedetik saja." Jawab Jhon sembari meraih minumannya.
Jhon mulai meneguk minuman itu, kemudian ia kembali meletakkannya di atas meja. "Mentari, aku bisa mempercepat proses perceraianmu dengan Alex." Ucap Jhon dengan tiba-tiba membuat Mentari mengerutkan keningnya.
"Benarkah?" Tanya Mentari yang mendapat anggukkan kepala dari Jhon.
Mentari meraih minumannya, dan meneguknya secara perlahan. "Urusan pribadiku, orang lain tidak perlu ikut campur." Ucap Mentari sambil meletakkan kembali minumannya di atas meja. "Aku tidak suka jika orang lain ikut campur dalam urusan pribadiku, apakah kamu mengerti." Serunya sambil bersidekap menatap lurus ke arah Jhon.
"Aku hanya tidak ingin kamu berubah pikiran dan memaafkan si bajingan itu, Mentari."
"Aku harus pulang sekarang." Ucap Mentari kemudian memanggil pelayan tadi, untuk membayar minumannya.
"Biar aku yang bayar." Jhon mulai mengeluarkankan dompetnya berniat untuk membayar minumannya dan juga minuman yang di pesan oleh Mentari.
"Tidak perlu! Aku bisa membayarnya sendiri," tegas Mentari sambil memberikan uangnya kepada si pelayan itu. "Sekalian punya dia juga ya, mbak." Ucap Mentari kepada si pelayan itu.
Jhon menghela nafasnya kasar, bukannya ia yang ingin mentraktir Mentari? Lalu kenapa dia yang jadi di bayarin sama Mentari?
__ADS_1
"Aku pergi dulu." Pamit Mentari sambil beranjak dari kursinya.
"Biar ku antar." Jhon pun beranjak dari kursinya.
"Tidak perlu! Ada supirku yang mengantarku pulang."
"Baiklah." Jhon kembali menghela nafasnya dengan kasar, sejujurnya ia tidak rela membiarkan Mentari pergi begitu saja, namun ia juga tidak bisa menahannya. "Besok malam apakah ada waktu?" Tanya Jhon sambil berjalan mengikuti Mentari.
"Memangnya kenapa?" Mentari berbalik nanya tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Aku ingin mengajakmu keluar, sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah mentraktirku tadi." Ucap Jhon dengan modus barunya.
"Aku rasa Meskipun aku tidak mentraktirmu, kamu tetap akan mengajakku keluar." Mentari menghentikan langkah kakinya ketika dirinya sudah tiba di depan pintu mobilnya.
Jhon terkekeh dengan pelan, ucapan Mentari memang benar, meskipun Mentari tidak mentraktirnya tadi, ia akan tetap mengajak Mentari keluar, meskipun Mentari menolaknya, ia tetap tidak akan menyerah. "Jadi apa kamu punya waktu besok malam? Aku ingin membawamu ke suatu tempat yang terkahir kita kunjungi beberapa tahun yang lalu." Ucap Jhon sambil meletakkan tangannya di pintu mobil Mentari.
Mentari menghela nafasnya kasar, percuma juga jika dia menolak ajakkan Jhon, karena ia sangat yakin, Jhon akan tetap memaksanya dengan caranya sendiri. Jadi mau tidak mau Mentari harus menerima ajakkan Jhon itu. "Baiklah, sekarang biarkan aku pulang dan singkirkan tanganmu dari pintu mobilku." Mentari mendorong tubuh Jhon yang begitu dekat dengan dirinya, jantungnya mulai tidak sehat saat ia mencium aroma yang keluar dari tubuh si laki-laki tampan itu.
Bersambung.
__ADS_1