
Bu Widia terlihat menahan amarahnya, raut wajahnya pun berubah menjadi masam. Ia tidak menyangka bahwa menantunya itu benar-benar sangat keras kepala tidak seperti yang ia pikirkan. "Jangan berlagak, Mentari. Alex sudah meminta maaf padamu, dan Alex sudah berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya itu, apa susahnya untuk kamu memaafkan dia dan memberikan kesempatan untuk dia memperbaiki kesalahannya itu? Kamu ini hanya manusia biasa, Tuhan aja maha pemaaf, kenapa kamu tidak!"
"Manusia itu tidak luput dari kesalahan, mama harap kamu memaafkannya dan kamu mau memberikan Alex kesempatan untuk memperbaiki dirinya. Itu aja, Mentari." Ucap bu Widia sambil menatap menantunya itu.
"Ya. Mama memang benar, aku hanyalah manusia biasa. Oleh karena itu, aku tidak bisa memaafkan kesalahan yang sudah Alex perbuat terhadapku. Karena bagiku, pengkhianat tidak pantas untuk di maafkan, jadi, keputusanku tidak akan pernah berubah. Aku harap mama mengerti." Jawab Mentari dengan tegas membuat bu Widia semakin kesal.
"Kamu ini sangat keras kepala sekali, Alex benar-benar buta karena sudah mau menikahi gadis keras kepala sepertimu. Seharusnya kamu itu beruntung memiliki suami seperti anak saya. Dia hanya melakukan kesalahan yang wajar, tetapi kamu sudah menggugat cerai dia. Sangat berlebihan." Seru bu Widia berapi-api.
"Seharusnya saya yang buta karena saya sudah mau menerima putra anda yang bajingan itu sebagai suami saya. Dan bagi saya kesalahan putra anda tidaklah wajar, putra anda sudah mengingkari janji suci yang dia ucapkan sendiri di depan semua orang, termasuk orangtua saya. Dan putra anda sudah berselingkuh dan bercinta dengan sahabat saya di dalam rumahnya sendiri. Apa itu wajar?"
__ADS_1
"Bagaimana perasaan anda kalau suami anda berselingkuh dan bercinta dengan sahabat anda sendiri? Apakah anda yakin akan memaafkannya? Atau anda akan berpikir semua itu adalah hal wajar?" Mentari menatap bu Widia, sementara itu bu Widia hanya dapat terdiam dengan satu tangan ia kepal dengan kuat.
"Kalau tidak ada lagi yang ingin anda bicarakan! Saya permisi dulu." Ucap Mentari sambil meraih tas kecil miliknya. Mentari langsung berdiri, kemudian ia segera melangkahkan kedua kakinya meninggalkan bu Widia yang masih saja terdiam dengan tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
***
Kediaman Alfarizzy.
"Ada apa dengan wajahmu, Jhon? Kok lesu begitu?" Tanya mama Celine sambil menghampiri putranya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, mah." Jawab Jhon sambil menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
"Ada masalah di kantor?" Mama Celine masih penasaran, ia tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh putranya itu.
"Tidak ada, mah."Jawab Jhon sambil memejamkan kedua bola matanya. "Adanya masalah hati, mah. Hatiku sakit karena Mentari mengabaikan pesan dan telponku. Padahal aku sangat merindukannya. Tidak mungkin aku datang kerumahnya sekarang, bisa-bisa aku di sambit sama calon papa mertua." Batin Jhon frustasi.
"Kalau tidak ada apa-apa kenapa wajahmu kusut seperti baju belum di setrika? Apa kamu sedang memikirkan seseorang?" Mama Celine kembali bertanya, pertanyaannya sangat tepat sasaran sehingga membuat Jhon lagsung membuka kedua bola matanya.
"Mama sok tahu. Sudahlah aku mau istirahat dulu." Jhon langsung bangkit dari tempat duduknya, kemudian ia berjalan menuju anak tangga. Mama Celine hanya tersenyum sambil menatap putra semata wayangnya itu, ia sangat yakin jika putranya itu sedang memikirkan seseorang, dan ia sangat yakin jika seseorang itu adalah Mentari.
__ADS_1
Bersambung.