Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Apa kamu yakin?


__ADS_3

Beberapa menit pasangan itu berpelukan, hingga akhirnya Mentari melepaskan pelukan calon suaminya, ketika hatinya sudah di rasa mulai tenang.


Jhon tersenyum, sambi menatap lekat wajah cantik calon istrintmya itu, lalu mengecup keningnya dengan lembut penuh perasaan, kemudian ia berkata. "Sudah tenang, sayang?" Tanyanya begitu lembut.


Mentari mengangguk sembari membalas tatapan calon suaminya itu.


"Terima kasih, aku sudah merasa baikan sekarang." Jawabnya dengan nada suara yang masih terdengar serak.


Jhon mengacak rambut pujaan hatinya itu, tak lupa ia juga mengelus wajah cantik itu dengan lembut. "Tidak perlu berterima kasih, sayang. Itu memang sudah menjadi kewajibanku untuk menghibur dan mengobati kesedihanmu." Ucapnya tanpa mengubah nada suaranya yang lembut dan halus.


"Sekarang kita masuk dulu, ya. Tidak baik angin malam untuk kesehatanmu, sayang." Ajak Jhon sembari menggenggam hangat kedua tangan cslon istrinya itu.


"Lima menit lagi ya. Aku masih ingin di sini." Pinta Mentari yang mendapat helaan nafas berat dari calon suaminya itu.


"Kenapa? Apa kamu tidak akan mengizinkanku?" Tanya Mentari ketika ia mendengar helaan nafas calon suaminya itu.

__ADS_1


"Asal kamu bahagia, aku pasti akan mengizinkanmu." Jawab Jhon sembari membawa Mentari duduk di kursi taman itu.


"Tapi ingat! Hanya lima menit, tidak lebih. Mengerti." Tegas Jhon membuat Mentari tertawa pelan.


"Kenapa malah tertawa, sayang?" Jhon mencubit gemas hidung mancung calon istrinya itu, tatapan matanya begitu hangat dan dalam.


"Kamu seperti ibu-ibu yang mengasuh anaknya." Jawab Mentari yang mendapat ciuman hangat di bibirnya.


"Hukuman untukmu karena sudah mengataiku ibu-ibu hmm." Ucap Jhon tanpa merasa bersalah karena sudah membuat Mentari terkejut.


Jhon terkekeh dengan pelan, rasanya ia ingin mengecup bibir itu lagi, bahkan buka hanya mengecupnya, ia juga ingin **********, dan bermain-main di dalam sana. Namun ketika ia mengingat keadaan Mentari saat ini, rasanya ia tidak pantas untuk melakukannya.


Jhon mulai menghilangkan keinginannya itu, ia juga harus meredakan sesuatu yang mulai berdiri di bawah sana karena kesalahannya sendiri. Siapa suruh dia mulai berimajinasi sesuatu yang akan membangkitkan tongkat saktinya itu, sudah tahu tongkat saktinya sensitif. Dasar raja bucin.


"Sayang, ada hal yang harus aku bicarakan sama kamu." Ucap Jhon membuat Mentari langsung menatapnya penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Sejujurnya aku sudah mengetahui tentang penyakit papamu, dari dua minggu yang lalu. Tapi, papamu memintaku untuk merahasiakannya darimu. Alesannya, karena papamu tidak ingin kamu terluka dan berlarut dalam kesedihanmu. Papamu tidak ingin mengganggu konsentrasimu dalam mengelola perusahaan. Dan papamu ingin melihat kita berdua menikah." Jelas Jhon sembari menatap lekat wajah calon istrinya itu.


Mentari tersenyum sendu, sepertinya air matanya akan turun lagi membasahi wajah cantiknya itu.


Mentari menarik nafasnya dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan.


"Lalu! Apa kamu menyetujui permintaan papa?" Tanya Mentari pelan.


"Aku tidak mungkin meyetujuinya tanpa persetujuan dari kamu, sayang. Karena aku tidak ingin memaksakan kehendakku sendiri, meskipun itu permintaan om Geri, tapi tetap saja aku harus mendapat persetujuanmu dulu." Jawab Jhon sambil menghapus air mata yang terjatuh membasahi wajah cantik calon istrinya itu.


"Asalkan papa bahagia, aku pasti akan menyetujuinya." Ucap Mentari di iringi dengan senyuman manisnya.


"Sayang! Apa kamu yakin dengan keputusanmu? Jika kamu belum siap, kita bisa menikah hingga kamu benar-benar siap untuk menikah denganku. Aku tidak ingin kamu menikah hanya karena permintaan papamu, sementara kamu sendiri sama sekali belum siap menjadi calon istriku." Jhon berkata sembari menatap dalam kedua bola mata calon istrinya. Ia tidak ingin calon istrinya menikah dengannya hanya karena permintaan papanya saja, sementara Mentari sendiri masih belum siap untuk menikah dengannya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2