Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Ribet sendiri


__ADS_3

Setelah bergulat seharian dengan pekerjaannya, akhirnya Mentari memutuskan untuk pergi ke salah satu cafe yang berjarak hanya dua kilo meter saja dari perusahaannya. Di cafe itu Aurel teman yang kini menjadi sahabatnya sudah menunggu dirinya dari setengah jam yang lalu.


Di tengah perjalanan si pak supir itu mendapat panggilan telpon dari istrinya , pak supir itu melirik ke arah Mentari, meminta izin untuk menjawab panggilan dari istrinya itu. Mentari tersenyum dan memberikan izin si pak supir untuk menjawab panggilan itu.


Dengan segera si pak supir itu pun menjawab panggilan telpon dari istrinya tersebut.


"Assalamualaikum.. Iya bu, aya naon (ada apa) ?" Tanyanya sembari tetap fokus dengan setir kemudinya.


"Waalaikumsalam.. Bapak, iye Ina (bapak ini Ina) . Ibu lebet rumah sakit (Ibu masuk rumah sakit), bapak datang ke rumah sakit sekarang." Seru Ina yang tak lain adalah putri si pak supir itu.


"Astagfirullahaladzim, kenapa ibu bisa masuk rumah sakit atuh neng? Ya Allah Gusti." si pak Supir itu terlihat sangat khawatir sekaligus terkejut ketika mendengar sang istri masuk rumah sakit.


"Panjang ceritana, pak. Bapak datang aja ke rumah sakit sekarang, minta izin sama bos bapak." Jawab Ina masih menggunakan bahasa khas sundanya.


"Iya atuh, yasudah kamu jagain ibu dulu, bapak nanti akan pergi ke rumah sakit setelah dapat izin dari bos bapak." Ucap si pak supir berusaha untuk tenang.


"Yasudah atuh, assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


Setelah itu si pak supir menaruh kembali ponselnya.


"Ada apa, pak?" Tanya Mentari sangat penasaran karena tadi si pak supir itu menggunakan bahasa sunda ketika mengobrol dengan putrinya Ina.


"Begini, non. Istri saya masuk rumah sakit, saya di suruh pergi ke rumah sakit sekarang. Jadi, saya mau minta izin menjenguk istri saya, setelah saya mengantar non Mentari." Ucap si pak supir sedikit gugup.


"Ya Tuhan, semoga istri bapak tidak apa-apa, ya." Ucap Mentari merasa kasihan. "Yasudah kalau begitu bapak pergi saja ke rumah sakit, biar aku turun di sini saja."


"Pak, saya tidak apa-apa turun di sini. Lagian istri bapak lebih penting daripada bapak mengantar saya. Saya bisa manggil taxi di sini jadi bapak bawa aja mobil ini supaya bapak cepat sampai di rumah sakit." Ucap Mentari menyela perkataan si pak supir itu.


"Tapi, non..."


"Tidak ada tapi-tapian, sebaiknya bapak pinggirin dulu mobilnya, turunkan saya di sini, sekarang." Tegas Mentari kembali menyela ucapan si pak supir itu.


Dengan perasaan tidak enak, si pak supir itu pun menuruti perintah putri majikannya itu, ia membawa mobilnya ke pinggir jalan. Setelah tiba di pinggir jalan itu, Mentari pun langsung meraih pintu mobilnya dan turun. Namun sebelum ia turun dari dalam mobilnya ia mengambil dompet dari dalam tasnya.

__ADS_1


"Bapak pergi aja sekarang, ini uang buat bapak dan semoga istri bapak tidak kenapa-kenapa,ya." Ucap Mentari sembari menyodorkan beberapa uang berwarna merah kepada si pak supir itu.


"Tidak perlu, non. Saya.... "


"Cepat ambil pak, jangan menolak nanti saya marah." Lagi-lagi Mentari menyela ucapan si pak supir itu dengan nada yang terkesan tegas dan tak terbantahkan mebuat si pak supir itu harus menerima uang pemberian putri majikannya itu.


"Terima kasih banyak, non. Semoga Allah membalas kebaikan non Mentari."


Mentari hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, lalu setelah itu ia pun turun dari dalam mobilnya. Si pak supir itu langsung melajukan kendaraannya menuju rumah sakit dimana istrinya di rawat saat ini.


Mentari menghela nafasnya, ia menengok ke kiri dan ke kanan, di lihatnya hanya ada beberapa mobil yang lewat, dan tidak ada tanda-tanda akan munculnya taxi di sekitar situ. Alhasil Mentari pun langsung merogoh ponselnya, ia mulai membuka tempat pengunduh aplikasi dan mulai mencari aplikasi yang dapat memesan ojeg ataupun mobil yang sering di pakai oleh sebagian orang ketika mereka ingin berpergian.


"Huft.. Kenapa gak dari dulu aja gue download nih aplikasi. Jadi gue gak ribet kan sekarang." Gerutu Mentari sembari fokus dengan layar ponselnya sehingga ia tidak menyadari, jika ada sebuah mobil yang sedari tadi memantau dirinya dari jarak yang cukup jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


Bersambung.


Note: Untuk yang tidak suka dengan cerita ini, Silahkan tinggalkan, ya. Dan terima kasih buat kalian yang sudah mensuport aku. Mohon maaf karena tidak bisa membalas komentar satu persatu.😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2