
Jhon sudah menyelesaikan pekerjaannya, ia melirik jam yang melingkar di tangan kirinya, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul lima sore saatnya untuk pulang. "Aku pikir sudah pukul enam sore, ternyata baru pukul lima." Gumam Jhon di iringi dengan helaan nafasnya.
"Astaga... Kenapa waktu terasa begitu lama? Apakah jam tanganku eror, ah sebaiknya aku melihat di ponselku saja, siapa tahu jam tanganku memang sedang eror atau mungkin rusak?" Jhon kembali bergumam sembari mengambil ponselnya dan melihat jam yang ada di layar ponselnya itu.
"Ternyata sama." Ucapnya sembari menaruh ponselnya ke dalam saku celananya. Jhon kembali menghela nafasnya, kemudian ia memakai jasnya dan bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya. Namun saat ia hendak melangkahkan kakinya, matanya tak sengaja menangkap sosok sepupunya yang masih setia berdiri di dekat jendela ruangannya.
"Apa lo akan terus berdiri di situ?" Tanyanya membuat Rey langsung menoleh ke arahnya.
"Lo sudah mau pulang? Kerjaan lo udah selesai?" Rey berbalik nanya sambil berjalan menghampiri Jhon.
"Kalau gue udah rapi, itu berarti gue mau pulang dan kerjaan gue udah selesai!" Jawab Jhon sembari melangkahkan kedua kakinya menuju pintu ruangannya.
"Gue ikut ke rumah, lo." Ucap Rey sambil berjalan mengikuti sepupunya itu.
"Terserah." Jawab Jhon tanpa menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
Lalu setelah itu keduanya pun berjalan tanpa mengeluarkan suaranya.
***
Mama Natalia menatap putrinya yang sudah cantik dengan riasannya yang natural, juga dress model casual berwarna hitam yang sangat cocok untuk kulitnya yang putih nan mulus itu.
"Sayang, kamu mau pergi kemana?" Tanya sang mama sambil menatap putrinya yang kini sedang berjalan ke arahnya dengan senyuman manis yang menghiasi wajah cantiknya.
"Aku mau pergi sebentar, mah." Jawab Mentari selalu bernada lembut jika ia berbicara dengan sang mama atau pun papanya.
"Kamu ingin pergi dengan siapa sayang? Apakah seorang laki-laki?" Tanya mama Natalia penasaran.
"Laki-laki?" Tanya mam Natalia semakin penasaran karena Mentari hanya menyebutkan teman saja.
Mentari terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum canggung. "Emm iya, mah. Ini terakhir kalinya aku menemuinya, mah. Dan mama tenang aja, dia benar-benar hanya sebatas teman saja kok, tidak lebih." Jawab Mentari membuat sang mama tersenyum sambil mengelus pundaknya.
__ADS_1
"Mama tidak akan melarangmu untuk berteman dengan siapa pun, sayang. Tapi kamu harus ingat! Status kamu saat ini masih istri orang. Jangan sampai orang lain salah paham dan malah menuduhmu sebagai penyebab hancurnya rumah tanggamu dengan suamimu itu. Kamu tahu, jaman sekarang itu banyak mata yang selalu mengawasi kita. Apalagi banyak orang yang sudah mengetahui pernikahanmu dengan Alex, tidak menutup kemungkinan mereka akan langsung mengenalimu jika mereka tidak sengaja bertemu denganmu di luar. Apalagi jika kamu bersama seorang laki-laki, mereka pasti akan langsung menyebar gosip tanpa tahu kebenarannya, dulu."
"Iya mah aku mengerti, mama tidak perlu menjelaskannya." Ucap Mentari sambil memperlihatkan senyumannya yang manis.
"Kalau begitu aku pamit dulu, mah." Mentari mencium pipi kanan dan juga kiri sang mama, lalu setelah itu, ia pun bergegas melangkahkan kedua kakinya meninggalkan sang mama yang hanya tersenyum sambil menatap kepergiannya.
***
Khayangan Restaurant.
Kahyangan bukan hanya sebuah restoran Jepang yang sangat baik di Jakarta, ini adalah sebuah institusi. Tempat ini sangat dikenal karena layanannya yang luar biasa, pemandangan kota yang menakjubkan, dan pengalaman Shabu-Shabu dan Teppanyaki yang tiada banding.
Nama yang tepat untuk restoran ikonik ini, Kahyangan berarti "alam surgawi" dalam bahasa Indonesia.
Menyediakan daging premium berkualitas tinggi - impor Wagyu, US Rib Eye, daging sapi Kobe, dan daging sapi Omi Hime - serta ikan segar. Saus Ponzu mereka yang terkenal adalah favorit yang tajam di kalangan pengunjung tetap dan mungkin salah satu rahasia terbaik yang disimpan di kota.
__ADS_1
Jhon sudah tiba di restauran mewah itu. Ia sengaja meminta Pirvate Room kepada pihak restauran tersebut, agar pertemuannya dengan Mentari tidak di ketahui oleh siapa pun.
Bersambung.