
Egi menghela nafasnya kasar, ia menatap sang bos yang juga tengah menatap dirinya, dengan kedua tangan di lipat di dada.
"Anda salah, bos. Pak Geri sama sekali tidak memiliki simpanan, ia pergi ke Thaliand untuk berobat." Ucap Geri masih dengan nada dan juga wajah datarnya.
"Berobat?" Tanya Jhon yang mendapat anggukkan kepala dari Egi.
"Bukankah selama ini dia baik-baik saja?" Seru Jhon tidak percaya karena waktu ia bertemu dengan pak Geri, pak Geri nampak baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda ia memiliki penyakit.
"Saya juga tidak tahu, bos. Tapi yang saya denger pak Geri pergi ke Thailand untuk berobat. Dan kemungkinan penyakitnya itu parah. Karena jika tidak parah, pak Geri tidak mungkin pergi ke sana untuk berobat. " Ucap Egi tanpa mengubah ekpresi di wajahnya yang datar.
Jhon menghela nafasnya panjang, kemudian ia berkata. "Baiklah, cari tahu dimana pak Geri tinggal, besok lusa aku akan pergi ke Thailand untuk mengunjunginya." Perintah Jhon dengan serius.
"Baik, bos. Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Egi bersiap untuk melangkahkan kedua kakinya.
"Tunggu dulu, Eg. Ada yang ingin aku tanyakan sama kamu." Seru Jhon menghentikan niat Egi.
__ADS_1
"Silahkan, bos."
"Kau membawa Lisa kemana?" Tanya Jhon membuat Egi seketika mengerurkan kening.
"Ke tempat yang tidak ada seorangpun yang tahu, kecuali saya bos." Jawab Egi dengan ekpresi yang sedikit berubah.
"Kenapa anda menanyakan perempuan iblis itu? Bukankah anda yang meminta saya untuk membawanya dan menghilangkan dia dari muka bumi ini? " Egi kembali berucap sambil menatap datar ke arah bosnya itu.
"Apa dia sudah mati?" Tanya Jhon penasaran.
"Pelajaran kecil? Pelajaran seperti apa yang kau maksud, Eg?" Tanya Jhon sangat penasaran.
"Anda tidak perlu tahu, bos. Yang terpenting sekarang adalah dia akan hidup di selimuti dengan rasa takut yang akan mengikatnya seumur hidup dia. Ah tidak, mungkin sebentar lagi dia akan kehilangan nyawanya." Ucap Egi dengan seringai yang menyeramkan layaknya seorang penjahat.
"Terserah kau saja." Dengus Jhon sambil menatap asistennya. "Jangan bunuh dia, lepaskan dia dan bawa dia kembali pulang ke rumah orangtuanya." Perintah Jhon yang membuat kening Egi kembali berkerut.
__ADS_1
"Kenapa? Apa anda menyesal dengan apa yang anda perintahkan kepada saya? Atau anda memiliki simpati terhadap perempuan iblis itu?" Tanya Egi penasaran.
Jhon menghela nafas beratnya, sejujurnya ia ingin Lisa selamanya menghilang dari muka bumi ini, akan tetapi ketika ia mengingat ucapan calon istrinya tadi, ia pun sedikit berubah pikiran dan meminta Egi untuk melepaskan Lisa dan mengirim Lisa ke tempat orangtuanya.
"Kau tidak perlu tahu alasannya. Lakukan saja perintahku." Jawab Jhon dengan nada suaranya yang terkesan dingin.
"Baiklah, tapi kemungkinan dia tidak akan pulang ke rumahnya dengan keadaan baik-baik saja." Ucap Egi di iringi dengan helaan nafasnya.
Jhon hanya terdiam, ia sama sekali tidak perduli dengan keadaan wanita iblis itu, toh ia membiarkan perempuan iblis itu hidup hanya karena calon istrinya saja. Andai jika Mentari tidak menanyakan soal wanita iblis itu tadi, mungkin saja Jhon akan meminta Egi untuk melenyapkannya langsung tanpa menunggu hari esok ataupun lusa.
Melihat bosnya yang hanya terdiam, akhirnya Egi pun memutuskan untuk kembali ke ruangannya. Jhon hanya menanggapinya dengan anggukkan kepala saja, lalu setelah itu Egi pun melangkahkan kedua kakinya.
"Argh aku sudah tidak bisa memberi pelajaran perempuan iblis itu lagi. Padahal aku sangat senang melihatnya ketakutan setengah mati saat dia menyaksikan aku menguliti para manusia-manusia brengsek yang meresahkan warga itu. Sungguh wanita iblis yang beruntung." Batin Egi sambil mempercepat langkah kakinya keluar dari ruangan bos dinginnya itu.
Bersambung.
__ADS_1