Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Minta izin


__ADS_3

Setelah menutup panggilan dari bu Widia, Mentari langsung menghubungi suaminya yang saat ini masih berada di kantornya ia berniat untuk meminta izin kepada sang suami untuk menemui Alex di rumah sakit.


Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Jhon untuk mengangkat panggilan dari istri kesayangannya itu.


"Ada apa, sayang? Tumben sekali kamu menghubungiku di jam segini? Apakah kamu ingin makan sesuatu? Atau kamu merindukanku? Kalau kamu merindukanku, aku bisa pulang sekarang, sayang." Ucap Jhon terdengar penuh semangat mendapat panggilan telpon dari istri tercintanya.


"Sayang, aku memang merindukanmu, tapi, aku menelponmu karena ada hal yang harus aku beri tahu sama kamu." Seru Mentari membuat Jhon mengernyitkan kening di seberang telpon sana.


"Apa sayang? Apakah sangat penting?" Tanya Jhon sangat penasaran.


"Sayang, Alex mengalami kecelakaan, tadi tante Widia telpon aku, dia memintaku untuk menemui Alex di rumah sakit. Apa aku boleh pergi? Kalau kamu tidak mengizinkan aku, aku tidak akan pergi." Ucap Mentari dengan sangat amat lembut.


Jhon mendengus di seberang telpon sana, mendengar nama Alex saja sudah membuatnya cemburu, apalagi kalau membiarkan istrinya untuk menemuinya. Bisa-bisa di telinganya keluar asap dan di kepalanya keluar tanduk. Sangat menyeramkan.


"Apakah kecelakaannya parah? Untuk apa tante Widia memintamu untuk menemui bajingan itu?" Seru Jhon masih dengan nada suaranya yang lembut meskipun hatinya merasa kesal.


"Tidak tahu, sayang. Yang jelas tante Widia memintaku untuk menemui putranya di rumah sakit. Jika kamu tidak mengizinkan, aku tidak akan pergi." Ucap Mentari sambil berjalan melangkahkan kedua kakinya menuju sofa.

__ADS_1


Jhon terdengar menghela nafasnya panjang, kemudian ia berkata. "Baiklah, tapi aku akan ikut denganmu. Aku tidak akan mengizinkanmu, kalau kamu pergi sendirian, bagaimana, sayang?"


"Baiklah, terserah kamu saja. Kamu kan suamiku, jadi, aku harus mendengarkan dan mengikuti perintah dari suamiku." Jawab Mentari membuat Jhon tersenyum senang di seberang telpon sana.


"Kamu tunggu sebentar, ya. Aku akan segera menjemputmu sekarang."


"Ok, honey. See you. Mmmuaaaach... " Ucap Mentari membuat si raja bucin itu semakin senang.


"Mmmuaaach, see you baby. I love you." Jawab Jhon terdengar berat menahan rindu seperti biasanya.


Setelah mengatakan hal itu, Mentari pun langsung memutuskan sambungannya. Kemudian ia menaruh ponselnya di atas meja, lalu mengambil jus alpukat yang sudah di siapkan oleh si bibi tadi. Mentari mulai menikmati jus alpukat itu sambil menunggu sang suami datang menjemputnya.


***


Perusahaan J-A Group.


Setelah sang istri memutuskan sambungannya, Jhon pun langsung menaruh ponselnya ke dalam saku celananya. Kemudian ia beranjak dari kursi kebesarannya, tak lupa ia juga mengenakan kembali jasnya terlebih dahulu.

__ADS_1


Egi yang sedari tadi mendengar pembicaraan bos dan istrinya itu pun sangat yakin, bahwa saat ini pekerjaan sang bos pasti akan di serahkan kepada dirinya.


"Eg, kau urus semuanya, jika ada berkas-berkas yang harus aku tanda tangani, kau bawa saja ke rumahku. Mengerti." Perintah Jhon seperti dugaan si asisten datar itu.


"Mengerti, bos." Jawab Egi di iringi dengan helaan nafasnya membuat Jhon langsung mengerutkan keningnya.


"Kenapa kau menghela nafas? Apa kau tidak suka jika aku menyuruhmu untuk menghandle pekerjaanku?" Tanya Jhon sambil menatap asistennya dengan kedua tangan di silangkan di dada bidangnya.


"Tentu tidak, bos." Jawab Egi cepat. Bisa berabe urusannya jika dia mengatakan yang sejujurnya kepada si bos bucinnya itu.


"Baguslah, kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Jhon yang mendapat anggukkan kepala dari si asisten datar itu.


Setelah itu, Jhon pun langsung berjalan melangkahkan kedua kakinya keluar dari ruangannya. Setelah kepergiang sang bos, Egi kembali menghela nafasnya kasar, sepertinya ia harus lembur lagi malam ini.



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2