Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Aku kerumahmu sekarang


__ADS_3

Jhon memutuskan untuk menghubungi calon istrinya, Mentari. Ntah mengapa malam ini ia begitu merindukan calon istrinya itu. Padahal tadi siang ia sudah menemui calon istrinya itu, namun tetap saja rasa rindunya tidak prrnah pudar dari dirinya.


"Ada apa, Jho?" Tanya Mentari terdengar serak, seperti habis menangis.


"Sayang, kamu habis menangis? Kenapa? Apa kamu sedang ada masalah? Cerita sama aku." Jhon berbalik nanya dengan nadanya yang lembut namun raut wajahnya terlihat sangat khawatir.


"Aku,, aku tidak apa-apa, Jhon." Jawab Mentari namun terdengar sendu, seolah-olah ia sedang memiliki masalah.


"Jangan Berbohong, sayang! Aku tahu kamu habis menangis. Katakan sama aku, kenapa kamu menangis? Apa yang terjadi sama kamu?" Tanya Jhon tidak percaya dengan jawaban yang di berikan oleh calon istrinya itu.


Mentari menarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan, kemudian ia berkata nada suara yang masih sama. "Papa sudah bohongin aku, Jho. Ternyata dia pergi ke Thailand bukan untuk mengurus perusahaannya. Dan dia sama sekali tidak memiliki perusahaan di sana, Jho. Ternyata papa pergi ke sana untuk berobat, kenapa papa harus menyembunyikan penyakitnya dari aku?" Mentari mulai terisak, hatinya kembali sakit ketika mengingat bahwa papa tercintanya sedang berjuang melawan penyakitnya di negara orang.


"Sayang, tenanglah. Papamu pasti memiliki alesan tersendiri, kenapa dia menyembunyikan penyakitnya darimu." Ucap Jhon masih dengan nada suaranya yang lembut berusaha untuk menenangkan hati calon istrinya. Namun percayalah, jauh dari dalam lubuk hati Jhon, ia begitu menderita ketika perempuan yang sangat di cintainya itu menangis.

__ADS_1


Mentari tidak menyahut, ia masih menangisi dan mengkhawatirkan keadaan papanya yang saat ini ia sendiri tidak tahu bagaimana keadaannya di sana.


"Sayang, aku akan ke rumahmu sekarang, kamu tunggu aku ya." Jhon kembali berkata dengan lembut. Kemudian ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.


"Jangan, Jhon. Ini sudah malam, sebaiknya kamu istirahat saja."


"Tidak apa-apa, sayang. Ini baru jam setengah sembilan. Yasudah aku tutup dulu telponnya ya. Sampai jumpa sayang, i love you."


Setelah mengatakan hal itu, Jhon langsung memutuskan sambungannya, ia menaruh ponselnya ke dalam saku celananya. Jhon terus berjalan menuju pintu kamarnya, lalu keluar dan menuruni anak tangganya satu persatu dengan langkah kaki yang cepat membuat sang mama yang masih berada di ruang tengah menatapnya heran.


"Aku mau ke rumah Mentari, mah." Jawab Jhon sambil membuka laci itu dan mengambil kunci mobilnya.


"Yasudah kamu hati-hati, ya. Ingat! Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya." Ucap sang mama yang mendapat anggukkan kepala dari putra semata wayangnya itu.

__ADS_1


"Aku pergi dulu, mah." Pamit Jhon sembari mengecup sekilas pipi kanan sang mama.


"Iya, sayang. Hati-hati, salam untuk Mentari sama tante Natalia ya." Ucap sang mama sedikit berteriak karena putranya sudah melangkahkan kedua kakinya dengan terburu-buru.


"Dasar anak jaman sekarang, mau pergi ke rumah pacarnya aja buru-buru seperti itu, kayak kelinci yang lomba lari aja." Gumam mama Celine sembari menatap kepergian putra semata wayangnya itu.


"Jhon bukan anak jaman sekarang, mah. Dia anak jaman dulu, tapi tingkat kebucinannya sama seperti anak jaman sekarang, malah dia lebih parah lagi." Sahut pak Calvin dari belakang.


"Itukan turunan dari kamu, pah. Emang papa gak ingat, dulu papa itu bucinnya minta ampun, mama jalan sama sepupu mama saja, papa langsung menghajarnya."


"Is mama ini, itukan hanya kesalahpahaman saja, mah."


"Papa ini ngeles aja kayak bajay. Sudahlah mama mau istirahat saja, malas mama ngomong sama papa." Ucap mama Celine sembari melangkah pergi melewati suaminya yang terkekeh dengan pelan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2