
Hallo semuanya. Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga semuanya dalam keadaan sehat walafiat. Aamiin ya Allah.
Kali ini author bukan up ya, sayang. Ini hanya promosi novel author saja. Jika kalian berkenan, Silahkan mampir, dan buat kalian yang tidak berkenan, Silahkan skip saja ya, sayang.
Ini kisah tentang seorang istri yang di sia-siakan oleh suaminya, hingga suatu hari mantan kekasihnya datang kembali dalam kehidupannya. Novel ini banyak mengandung bawang merah, jadi sebelum baca, siapkan tisu ya, sayang. 😘😘😘
Judul. Mengejar Cinta Mantan Istriku
Cuplikan bab.
Taman rumah sakit.
Taman yang indah di hiasi berbagai macam bunga, udara yang sejuk mampu menenangkan pikiran setiap pasien yang berada di rumah sakit tersebut.
"Ternyata rumah sakit ini memiliki taman yang begitu indah, dan juga sangat menenangkan." Ujar Vino dengan suara sedikit pelan. "Duduklah sayang, kenapa kamu masih berdiri di belakangku." Vino kembali bersuara.
Amelia duduk di kursi taman tersebut, sementara Vino duduk di kursi rodanya." Apakah kamu bahagia? taman ini memang sangat indah, biar aku ambilkan bunga itu untukmu" Ujar Amelia sambil berdiri dan berjalan ke arah bunga-bunga yang bermekaran.
"Hey .. Harusnya aku yang memberikanmu bunga sayang." Vino berkata diiringi dengan kekehannya.
"Tunggu saat kamu sembuh, baru kamu berikan bunga yang banyak untukku, ini terimalah."
"Terima kasih sayang." Vino menatap Amelia dalam." Amel aku sangat bahagia sekarang, terima kasih sudah menemaniku sepanjang waktu, terima kasih sudah merawatku, terima kasih atas semua cinta yang telah kamu berikan untukku, aku sangat beruntung, andai saja aku di berikan kesempatan untuk hidup lebih lama lagi, aku tidak akan pernah membuatmu menderita, aku akan membahagiakanmu seumur hidupku."
Suara Vino semakin melemah, akan tetapi Amelia dapat mendengar setiap ucapan yang di keluarkannya." Berjanjilah Amel, jangan pernah menangisi kepergianku, hiduplah dengan bahagia, aku yakin kamu pasti akan mendapatkan laki-laki yang lebih baik dariku, laki-laki yang bisa menemanimu seumur hidupmu, tersenyumlah sayang."
__ADS_1
Deg....
Jantung Amelia seakan berhenti berdetak, matanya menatap nanar Vino yang terlihat pucat namun masih memberikan senyuman di wajahnya, air mata Amelia menetes dengan sendirinya." Tidak sayang, kamu tidak boleh berbicara seperti itu lagi ok, aku yakin kamu akan sembuh, kamu tidak akan pernah meninggalkanku Vin." Ujar Amelia seraya menggenggam kedua tangan Vino dengan erat.
Vino tersenyum." Sayang jangan seperti ini, aku akan berat meninggalkanmu jika kamu seperti ini, terimalah kenyataan ini, maafkan aku sayang, aku sungguh sudah tidak sanggup lagi, aku tidak ingin hidup dengan kesakitan ini, jika kamu benar-benar mencintaiku, maka lepaskanlah aku sayang, aku ingin pergi dengan tenang." Suara yang sangat lemah tersengar kembali di telinga Amelia, permintaan yang paling sulit sangat-sangat sulit bagi Amelia yaitu ketika dia harus melepaskan kekasihnya pergi.
"Vinooo, aku mohon bertahanlah untukku, bertahanlah untuk kita, aku ,, aku sungguh tidak ingin kehilanganmu." Nada suara Amelia bergetar, isak tangisnya mulai terdengar di telinga Vino, sementara itu, tak jauh dari tempat tersebut pak Aldi dan juga Radit tengah menyaksikan adegan yang begitu menyayat hati mereka, meskipun suara Vino terdengar lemah dan juga sangat pelan, tetapi mereka dapat mendengar setiap ucapan yang di keluarkan dari mulut Vino dan juga Amelia,
"Ya Tuhan apakah ini hukumanMu untukku, aku sangat menyesal dengan perlakuanku terhadap putraku, apakah aku tidak dapat menebusnya ya Tuhan." Lirih pak Aldi yang di iringi dengan air mata di pipinya.
"Sabar om, mungkin ini semua sudah takdir dari Tuhan, om harus ikhlas untuk menerimanya." Radit berusaha menenangkan pak Aldi, dan pak Aldi hanya menanggapinya dengan angggukan kepala tanpa mengalihkan pandangannya dari putra semata wayangnya.
"Maafkan aku sayang, tapi aku mohon ikhlaskan aku, lepaskanlah aku untuk pergi agar aku tenang." Mohon Vino dengan tatapan yang sangat membuat Amelia sakit." Aku sungguh tidak bisa menahannya lagi, berikan aku senyuman cantikmu." Vino kembali bersuara dengan sangat berat, nafasnya terasa menyesakkan.
"Vinoo..."
Meskipun sangat-sangat berat, akhirnya Amelia menuruti permintaan kekasihnya tersebut." Baiklah.. Aku akan melepaskanmu. Pergilah dengan tenang. Aku ikhlas jika semua ini yang terbaik untukmu. Aku ..aku ikhlas melepaskanmu." Tangisnya pecah di sela-sela ucapannya, sungguh sangat menyakitkan bagi Amelia.
"Terima kasih sayang, selamat tinggal hiduplah dengan bahagia, semoga Tuhan mempertemukan kita di kehidupan selanjutnya." Ujar Vino dengan suara yang sangat lemah, sebelum ia benar-benar pergi, ia mengecup kening kekasih tercintanya untuk yang terakhir kalinya, belaian lembut ia berikan di kedua pipi Amelia untuk yang terakhir kalinya, sementara Amelia hanya diam mematung ketika ia melihat sendiri kekasih tercintanya menghembuskan nafas terakhirnya tepat di hadapan dirinya.
Sesak yang di rasakan Amelia ketika dia menyadari bahwa Vino benar-benar pergi meninggalkannya, Vino tidak akan pernah kembali lagi, Vino kekasih tercintanya telah pergi, pergi untuk selama-lamanya.
"Vinooooooooo.....Bangun sayang, banguuun aku mohon....." Histeris Amelia seketika, ia memeluk tubuh yang sudah tak bernyawa kekasihnya, mulutnya tak henti memanggil nama Vino di iringi dengan isak tangis pilunya.
Bagaikan di sambar petir di siang bolong ketika pak Aldi mendapati anaknya yang kini benar-benar pergi meninggalkannya, meninggalkan dirinya seorang diri, rasa sakit, kesedihan dan penyesalan semua menguasai dirinya, hatinya seakan-akan di gores seribu pisau begitu menyakitkan, dirinya sungguh tidak mampu untuk tetap berdiri tegak, mungkin jika tidak ada Radit di sampingnya, pak Aldi sudah tersungkur di bawah rerumputan yang ia injak.
__ADS_1
"Sabar om, om harus ikhlas, ini semua sudah takdir dari Tuhan, om harus bisa menerimanya dengan lapang." Radit kembali menenangkan pak Aldi, meskipun dirinya sendiri sangat terpukul atas kepergian sahabat sekaligus pasiennya tersebut.
Pak Aldi sama sekali tidak menggugbris ucapan Radit, tatapannya terus terpaku pada anaknya yang kini tengah di peluk oleh kekasih yang sangat di cintai anaknya.
"Vinoo bangun sayang..." Tak hentinya Amelia menyebut nama Vino dan mencoba untuk membangunkannya, ia sungguh tidak mampu untuk menerima kenyataan pahit ini.
Sementara Radit segera memanggil beberapa perawat untuk membawa Vino.
***
"Vinoo anak papa, bangunlah nak, bangunlah sayang, maafkan papa karena papa selalu mengabaikanmu nak, maafkan papa." Lirih pak Aldi seraya mendekati jasad Vino yang kini sudah di baringkan di ranjang pasien.
"Amelia, om, kalian harus ikhlas untuk menerima kepergian Vino, ini semua sudah takdir dari Tuhan, jika kalian tidak bisa menerima kepergiannya, maka kalian akan membuatnya tidak tenang." Radit kembali menenangkan Amelia dan juga pak Aldi yang seakan-akan tidak ingin melepaskan kepergian Vino.
"Ikhlas, aku ikhlas untuk melepaskanmu Vin,"
"Papa juga ikhlas untuk melepaskanmu Vino, maafkan papa karena papa belum bisa memberikan kebahagiaan untukmu, maafkan papa karena papa tidak pernah menjadi papa yang baik untukmu nak, maafkan papa Vino."
"Saya akan segera mengurus semuanya, dan saya akan membawa jenazah Vino ke Indonesia hari ini juga."
Kepergian Vino membuat Amelia begitu terpukul, ia menatap nanar jasad Vino yang sudah tertutup oleh kain putih,." Inikah yang terbaik untukmu Vino, kamu sekarang sudah tidak lagi merasakan sakit, namun hatiku sangat sakit ketika aku harus melepaskanmu pergi Vin, aku sangat mencintaimu, semoga kamu tenang di alam sana, ya Tuhan berikanlah tempat yang layak untuk kekasihku, jagalah dia disisiMu."
"Semoga Tuhan mempertemukan kita di kehidupan selanjutnya." Lirih Amelia dengan pelan, sakit memang sakit, tetapi apa yang harus Amelia lakukan? ia hanya bisa mendoakan dan mengikhlaskan kepergian kekasih tercintanya untuk selama-lamanya.
Yuk, kepoin**
__ADS_1