Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Aku tidak boleh kehilangannya


__ADS_3

Mentari terus berjalan melangkahkan kedua kakinya menuruni anak tangganya satu persatu. Wajahnya terlihat memerah, deru nafasnya tak beraturan, bahkan tangannya masih terkepal dengan kuat menahan amarah yang kian memuncak.


Setelah tiba di lantai bawah, Mentari langsung berjalan menuju laci tempat dimana ia menyimpan kunci mobilnya, hari ini ia memutuskan untuk pergi ke rumah orangtuanya, ia sudah tidak ingin melihat wajah munafik suaminya itu.


Setelah mengambil kunci mobilnya, Mentari kembali melangkahkan kedua kakinya menuju pintu utama, si bibi yang melihatnya pun segera menghampirinya dan bertanya. "Non Mentari mau kemana?"


Mentari seketika menghentikan langkah kakinya lalu berbalik dan menatap si bibi dengan tatapan mata seperti biasanya. "Aku mau pergi dulu, bi." Jawabnya selalu memperlihatkan seyumannya meskipun hatinya sedang di liputi oleh amarahnya.


"Di antar sama pak supir, non?" Tanya si bibi yang mendapat gelengan kepala dari Mentari. "Tapi, non. Tuan Alex...." Ucapan si bibi tercekat di tenggorokkan.


"Bi, aku buru-buru, aku pamit dulu ya." Ucap Mentari di iringi dengan helaan nafas beratnya. Mentari langsung melangkahkan kedua kakinya meninggalkan si bibi yang terlihat khawatir.


"Ada apa dengan non Mentari? Bukankah tuan Alex baru pulang? Lalu kenapa non Mentari pergi?" Si bibi bertanya-tanya dalam hatinya, ia bingung karena biasanya Mentari tidak pernah pergi ketika Alex ada di rumah, apalagi Alex baru saja pulang dari luar negeri.

__ADS_1


Sementara itu di dalam kamar terlihat Alex tengah berteriak frustasi, rambut yang awalnya tertata dengan rapi, kini sudah berantakan karena ulahnya sendiri. "Argh sialan... Kenapa semuanya bisa kacau seperti ini? Sejak kapan Mentari mengetahui perselingkuhanku dengan Lisa? Kenapa aku tidak menyadarinya sama sekali?" Alex mengusap wajahnya frustasi, ia berdiri dan mulai melangkahkan kedua kakinya keluar dari kamarnya. "Tidak bisa, aku tidak akan pernah membiarkan Mentari pergi dari kehidupanku. Aku harus mengejarnya sekarang, aku tidak boleh kehilangannya." Gumam Alex sambil mempercepat langkah kakinya menuruni anak tangga.


"Tuan..."


"Bi dimana Mentari?" Tanya Alex dengan terburu-buru.


"Non Mentari sudah pergi, tuan." Jawab si bibi dengan hati-hati.


"Maaf tuan.... " Ucapan si bibi tercekat di tenggorokkan ketika Alex sudah pergi melangkahkan kedua kakinya keluar dari kediamannya.


Alex semakin mempercepat langkah kakinya, saat ini yang ada di dalam pikirannya adalah Mentari, hanya Mentari.


***

__ADS_1


Jhon kini sedang berada di salah satu restauran tempat dimana ia akan bertemu dengan Mentari. Malam ini ia mengenakan kemeja berwarna putih dengan lengan yang di gulung hingga sikut membuat Jhon terlihat semakin tampan dan mempesona.


Para pengunjung wanita yang melihat Jhon pun seketika mengambil ponselnya masing-masing, mereka memotret Jhon layaknya seorang aktor korea yang di idam-idamkan oleh sebagian wanita Indonesia.


Tiba-tiba seorang perempuan cantik dengan penampilan yang sangat sexy berjalan ke arah Jhon. Raut wajah perempuan itu terlihat sangat bahagia ketika dirinya sudah berada di hadapan Jhon.


"Astaga, aku tidak salah lihatkan?" Ucap perempuan itu membuat Jhon seketika menoleh ke arahnya. "Sayang. Kenapa kamu bisa ada di sini? Dan kenapa kamu pulang ke Indonesia tidak bilang sama aku?" Tanya perempuan itu yang tak lain adalah Lisa. Lisa memang sengaja datang ke restauran itu ketika ia mendapat kabar jika tunangannya itu sudah pulang ke Indonesia dan berada di salah satu restauran terkenal yang ada di kota Jakarta.


Jhon mendengus kesal, yang ia nantikan adalah Mentari, tetapi yang ada di hadapannya kini adalah Lisa, wanita yang sudah membuat pujaan hatinya tersakiti sekaligus wanita yang memaksa dirinya untuk bertunangan.



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2