
Keesokan harinya..
Waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi. Mentari mulai membuka kedua bola matanya secara perlahan, tatapan matanya langsung tertuju pada sosok laki-laki tampan, yang tak lain adalah Jhon si suami bucinnya itu. Mentari tersenyum, kemudian ia mengusap lembut wajah sang suami, lalu memberikan kecupan selamat pagi di keningnya.
"Kamu sangat tampan jika sedang tertidur seperti ini." Ucap Mentari pelan. "Aku tidak menyangka jika sekarang kita sudah menikah." Ucapnya lagi di iringi dengan senyumannya yang manis.
"Lebih baik, aku mandi sekarang." Gumam Mentari berniat untuk bangkit dari tempat tidurnya. Namun niatnya terhenti ketika suara serak khas bangun tidur suaminya masuk ke indera pendengarannya.
"Selamat pagi, sayang."
__ADS_1
"Kamu sudah bangun. Apa aku sudah mengganggu tidurmu?" Tanya Mentari sambil menatap sang suami.
"Menurutmu?" Jhon membawa sang istri ke dalam dekapannya. "Jadi hukuman apa yang harus aku berikan kepada istriku ini?" Bisik Jhon sembari membuka kedua bola maranya.
"Hukuman?" Mentari mengernyitkan keningnya bingung, padahal ia hanya tidak sengaja membangunkan suaminya itu, namun mengapa suaminya itu ingin memberikan hukuman kepada dirinya? Apakah suaminya itu begitu perhitungan? Ah ntahlah.
"Ya, sayang. Hukuman karena kamu sudah membuatku menderita semalaman." Jawab Jhon semakin membuat Mentari tidak mengerti.
"Memangnya apa yang aku lakukan semalam? Apakah aku tidur sambil Menendang kamu sehingga membuat tidurmu terganggu semalam?" Tanya Mentari penasaran. Ia benar-benar tidak ingat jika semalam ia sudah menyiksa suaminya, sampai-sampai sang suami harus mandi air dingin untuk menenangkan benda pusakanya.
"Apa sekarang kamu sudah mengingatnya, sayang?" Tanya Jhon sembari mengelus lembut wajah cantik istrinya.
__ADS_1
Mentari mengangguk, ia merasa bersalah karena sudah membuat suaminya menderita semalam, "maafkan aku, sayang. Semalam aku benar-benar sangat lelah, bahkan aku sampai lupa untuk mengganti gaun...." Mentari terdiam sejenak, ia baru menyadari bahwa saat ini ia tidak mengenakan gaunnya, padahal seingatnya, ia semalam sama sekali belum mengganti gaun itu, lalu siapa yang sudah menggantinya? Apakah suaminya? Pikir Mentari.
"Ada apa sayang? Kenapa kamu tidak meneruskan ucapanmu?" Tanya Jhon sambil mengelus wajah sang istri dengan lembut.
"Ah tidak, emmm apakah kamu yang sudah mengganti gaunku semalam? Karena seingatku, semalam aku tertidur masih mengenakan gaun, tetapi sekarang aku malah mengenakan piyama." Ucap Mentari sambil menatap suaminya.
"Memangnya kalau bukan aku, siapa lagi yang akan mengganti dan memakaikanmu piyama ini sayang?" Bisik Jhon membuat wajah cantik Mentari memerah seketika.
"Jadi beneran kamu yang mengganti dan memakaikanku piyama ini?" Seru Mentari memastikan bahwa pendengarannya masih normal.
Jhon mengangguk pelan. "Tentu saja aku, sayang. Memangnya kamu pikir aku akan membiarkan orang lain melihat tubuh istriku sendiri?" Ucap Jhon sembari mencubit gemas hidung mancung istrinya itu.
__ADS_1
"Jadi, bagaimana caranya kamu berterima kasih sama aku? Aku sudah menggantikan gaunmu, aku juga sudah membersihkan seluruh tubuhmu dan menahan diriku semalaman, bukankah kamu harus memberikan aku hadiah sekarang?" Jhon kembali berucap sambil menatap lekat wajah istrinya yang semakin memerah seperti tomat. Bahkan untuk membalas tatapan suaminya pun Mentari merasa sangat malu.
Bersambung.