
Amarah dalam diri Lisa semakin memuncak, ia tidak terima dengan apa yang di ucapkan oleh Alex barusan. Namun Lisa tetap berusaha untuk tenang, ia kembali memainkan akting sedihnya, dan air matanya pun mulai jatuh membasahi wajah cantiknya itu. "Kenapa kamu begitu tega padaku, Alex? Bukankah selama ini kamu selalu memperlakukanku dengan lembut dan penuh kasih sayang? Lalu kenapa sekarang kamu membuangku seperti barang bekas? Apakah kamu pikir aku tidak punya hati? Kenapa kamu tidak memikirkan perasaanku, Alex. Kenapa?"
"Selama ini aku selalu berusaha untuk menjadi wanitamu yang baik, aku selalu berusaha untuk menahan diriku agar aku tidak memberitahukan hubungan kita kepada Mentari, dan apa kamu lupa, dengan apa yang telah kita lakukan selama ini?" Ucap Lisa di iringi dengan isak tangisnya. Lisa sangat yakin jika Alex akan luluh dan bersimpati jika melihat dirinya berlinang air mata, dan Lisa sangat yakin jika Alex masih mencintainya seperti dulu.
"Itulah penyesalanku saat ini, seharusnya aku tidak tergoda oleh rayuanmu, Lisa. Seharusnya aku tidak mengkhianati istriku." Alex mengusap wajahnya kasar, ia kembali teringat saat pertama kali ia berhubungan dengan Lisa di belakang istrinya. "Argh..... Sialan... "Alex berteriak, ia kembali membanting vas bunga yang ada di atas meja. Lisa yang melihat Alex kembali menggila pun seketika mundur satu langkah. Ia tidak ingin kena amukkan laki-laki yang sedang di liputi penyesalan itu.
"Sialan. Kenapa semuanya jadi begini? Jhon membatalkan pernikahannya denganku, dan Alex malah membuangku seperti barang bekas? Sebaiknya aku pergi dulu sekarang. Aku harus mencari cara agar pernikahanku dengan Jhon tetap di laksanakan. Ah sebaiknya aku pergi ke rumah mama Celine saja sekarang." Batin Lisa sambil melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Alex yang terlihat seperti orang gila itu.
***
__ADS_1
Jhon sedang berada di dalam ruangannya, ia di sibukkan dengan beberapa berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya. Padahal jam untuk pulang sudah berlalu, namun ia tetap masih bergulat dengan pekerjaannya. Sementara itu, Egi sang asisten sedang berjalan menuju ruangannya, wajahnya terlihat lelah karena beberapa pekerjaannya yang menumpuk.
Egi sudah tiba di depan pintu ruangan bosnya, kemudian ia pun segera mengetuk pintu itu dengan cukup keras.
"Masuk!" Perintah Jhon dari dalam terdengar dingin.
Egi segera membuka pintu ruangan itu dan masuk ke dalam, Egi berjalan menghampiri bosnya yang masih fokus dengan beberapa berkas di atas meja kerjanya.
Jhon seketika menghentikan pekerjaannya, ia melirik sekilas ke arah Egi, lalu mengambil berkas itu dan langsung menanda tanganinya. "Apakah yang aku perintahkan sudah kau laksanakan?" Tanya Jhon tanpa menatap asistennya.
__ADS_1
"Sudah, bos. Saya mendapat kabar bahwa nona Mentari hari ini resmi menggugat cerai suaminya, dia di temani oleh mamanya pergi ke pengadilan negeri." Jelas Egi membuat lengkungan di sudut bibir Jhon terangkat dengan indah.
"Baiklah, kau boleh keluar sekarang." Ucap Jhon sambil menyerahkan berkas yang sudah ia tanda tangani itu.
"Baik, bos. Kalau begitu saya undur diri dulu." Jawab Egi sambil membungkukkan tubuhny sedikit. Jhon hanya mengangguk pelan, lalu setelah itu, Egi pun langsung melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Jhon yang kembali memperlihatkan senyumannya.
"Mentari, aku tidak sabar untuk bertemu denganmu. Ah tapi sepertinya malam ini aku tidak bisa bertemu denganmu, malam ini aku harus lembur untuk menyelesaikan pekerjaanku yang menumpuk." Jhon mengusap wajahnya kasar, jujur saja ia begitu merindukan pujaan hatinya itu, namun ia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
"Ah sebaiknya aku menghubunginya sekarang, dengan begitu rasa rinduku akan sedikit terobati." Gumamnya sambil merogoh ponselnya yang berada di dalam saku jasnya.
__ADS_1
Bersambung.