Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Kehamilan Mentari


__ADS_3

Sebelum membaca, aku kasih photo si raja bucin dulu ya. Biar tambah semangat bacanya.😘😘😘



Jhon berjalan dengan langkah kakinya yang cepat, tatapan matanya semakin menajam ketika sang dokter itu hanya dapat terdiam karena merasa terkejut sekaligus takut mendapat tatapan mata dari si raja bucin itu.


"Sayang, tenanglah. Jangan sampai kamu menakuti orang lain." Ucap Mentari sembari mengelus lengan suaminya ketika sang suami sudah berdiri tepat di sampingnya.


"Sayang, bagaimana aku bisa tenang, dokter itu mengatakan bahwa asisten ayahmu ini terlihat seperti suamimu. Padahal jelas-jelas akulah suamimu. Apakah dokter itu sudah buta? Kenapa dia bisa mengira jika Rega adalah suamimu?" Seru Jhon tetap dengan nada suaranya yang lembut meskipun hatinya merasa kesal sekaligus marah terhadap dokter itu dan juga Rega.


"Sayang, dokter hanya salah paham saja, dia berbicara seperti itu karena kamu tidak ada di sini tadi. Jadi wajar saja jika dokter itu salah mengira. Sudah ya, jangan marah-marah. Aku punya kabar gembira untukmu, sayang." Ucap Mentari sembari memperlihatkan senyumannya yang manis membuat si raja bucin itu gemas dan langsung menciumnya saat itu juga.


"Baiklah, aku tidak akan marah lagi karena kamu yang memintanya." Jawab Jhon sambil memberikan kecupan hangatnya di kening sang istri. "Jadi, kabar gembira apa sayang?" Tanyanya dengan lembut sembari mengelus lembut pucuk kepala istrinya.


"Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah." Ucap Mentari di iringi dengan senyuman bahagianya.


"Apakah itu semua benar? Kamu,,, kamu hamil sayang?" Tanya Jhon memastikan bahwa indera pendengarannya masih normal.

__ADS_1


Mentari mengangguk pelan, ia menatap suaminya yang saat ini terlihat begitu bahagia.


Jhon langsung memeluk istrinya erat, kebahagiaan jelas terpancar dari raut wajahnya saat ini. "Aku benar-benar bahagia mendengarnya. Akhirnya benih yang aku tanam dalam rahimmu tumbuh juga." Seru Jhon tanpa memperdulikan si dokter dan juga Rega yang masih berada di dalam ruangan itu.


"Terima kasih, Tuhan. Kau telah mendengarkan doaku." Batin Jhon sembari mempererat pelukannya. Ia benar-benar sangat bahagia, saking bahagianya ia sampai tidak memperdulikan suara dehema dari asisten mertuanya itu.


"Ekhmmm.. "


"Ekhmmm... "


"Astaga apakah dia begitu bahagia sampai-sampai melupakan bahwa di dalam ruangan ini masih ada manusia hidup lainnya?" Batin Rega sambi menggelengkan kepalanya melihat Jhon yang menikmati kebahagiaannya tanpa memperdulikan dirinya dan juga si dokter itu.


"Biarkan saja, aku masih ingin meluapkan kebahagiaanku denganmu." Jawab Jhon tanpa mau melepaskan pelukannya.


"Sayang, perutku mual. Aku ingin muntah." Mentari berbisik kembali, kali ini si raja bucin itu langsung melepaskan pelukannya. Sementara Mentari langsung berjalan menuju toilet yang ada di dalam kamar pasien itu. Jhon yang khawatir lun langsung mengekori istrinya, ia memijit tengkuk leher sang istri dengan lembut. "Apakah sudah enakkan sayang?" Tanyanya terlihat khawatir.


Mentari tersenyum sambil mengangguk, kemudian Jhon pun membawa Mentari kembali ke dalam ruangannya.

__ADS_1


"Dokter kenapa perut istri saya mual? Kenapa istri saya muntah-muntah barusan? Apakah dokter sudah benar memeriksanya?" Tanya Jhon sembari menatap dokter itu dengan tajam.


"Mohon maaf, pak. Itu memang tanda-tanda awal kehamilan di minggu pertama. Jadi bapak tidak perlu khawatir." Jawab si dokter itu se tenang mungkin.


"Apakah begitu?" Tanya Jhon ragu.


"Benar pak, jadi anda tidak perlu khawatir."


"Apakah rasa mualnya bisa di pindahkan kepada saya? Saya tidak tega jika melihat istri saya seperti ini. Dan saya khawatir istri saya kenapa-kenapa, dok." Ucap Jhon membuat ketiga orang yang berada di dalam ruangan itu menggelengkan kepalanya. Pertanyaan macam apa itu. Apakah karena saking bucinnya, otak Jhon menjadi tidak berpungsi? Mengapa ia menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu.


"Sayang, jangan membuat pertanyaan bodoh seperti itu. Memangnya kamu pikir rasa mual ini bisa di pindahkan seperti barang?" Bisik Mentari sembari mencubit gemas perut sang suami membuat sang suami meringis kesakitan.


"Aku hanya bertanya saja sayang, aku tidak tega melihatmu harus merasakan mual setiap seperti ini. Lebih baik aku saja yang merasakannya." Ucap Jhon sembari mengelus lembut wajah cantik istrinya.


"Mohon maaf, pak. Biar saya jelaskan. Wanita hamil umumnya memang pasti akan mengalami seperti yang ibu Mentari alami sekarang, mual dan Muntah. Mual dan muntah pada kehamilan di minggu pertama dikenal juga sebagai morning sickness. Meskipun dikenal sebagai morning sickness, mual dan muntah dapat terjadi kapan saja."


"Morning sickness umumnya terjadi di minggu pertama hingga minggu ke 9. Memasuki trimester kedua, biasanya gejala ini akan berangsur menghilang. Jadi bapak tidak perlu khawatir, karena itu semua tidak akan membahayakan ibu Mentari dan juga calon bayi bapak." Terang si dokter sembari menatap Jhon dan juga Mentari secara bergantian.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2