Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Kondisi Alex


__ADS_3

Rumah Sakit.


Bu Widia segera menghampiri dokter yang menangani putranya tadi, air matanya masih saja menetes membasahi wajahnya, ia benar-benar tidak menyangka jika putra semata wayangnya akan mengalami kecelakaan tragis itu.


"Bagaimana keadaan putra saya, dokter?" Tanya bu Widia di iringi dengan tangisannya.


Dokter itu menghela nafasnya panjang ia menatap bu Widia bergantian dengan pak Permana yang baru saja tiba di rumah sakit itu.


"Kondisinya sangat memperhatinkan, bu, pak. Sebaiknya kita berdoa saja, semoga saja ada keajaiban dari Tuhan." Jawab dokter itu membuat bu Widia dan juga pak Permana lemas.


"Mak,,,, maksud dokter apa? Katakan yang sebenarnya dokter?" Seru bu Widia sembari menatap dokter itu.


"Putra ibu dan bapak mengalami pendarahan yang cukup parah, kondisinya sangat buruk, meskipun kami sudah berusaha sekeras mungkin, tapi, kemungkinan untuk hidup sangatlah tipis. Sebaiknya ibu dan bapak melihat keadaan putra kalian langsung." Ucap si dokter itu merasa iba melihat kesedihan yang terpampang jelas di kedua wajah pasangan paruh baya itu.


Pak Permana dan bu Widia langsung memasuki ruangan dimana putranya terbaring lemah tak berdaya dengan beberapa alat yang menempel di tubuhnya.

__ADS_1


Bu Widia dengan langkah kaki gontai menghampiri putranya itu, tubuhnya terasa sangat lemah, begitu pun juga dengan pak Permana, hatinya benar-benar merasa sangat sakit saat melihat putra semata wayangnya terbaring lemah tak berdaya.


Tangan bu Widia menggengam telapak tangan putranya, dadanya terasa sangat sesak melihat putranya saat ini. "Alex,,,, kenapa kamu bisa seperti ini? Bangunlah sayang, bangun. Buka matamu nak." Lirih bu Widia di iringi dengan isak tangisnya.


Pak Permana mengusap wajahnya, ia berusaha untuk menenangkan sang istri, meksipun dirinya sendiri sangat tersiksa dan sedih melihat keadaan Alex saat ini.


"Sabar, mah. Kita berdoa kepada Tuhan, agar Alex segera sembuh dan bangun." Ucap pak Permana sambil mengusap pundak sang istri lembut.


"Alex, papa yakin kamu pasti kuat, cepatlah bangun, Alex. Papa dan mama sangat menyayangimu, papa mohon, segeralah bangun." Batin pak Permana sambil menatap putranya dengan sendu.


"Alex bangun sayang. Mama tidak bisa melihatmu seperti ini, hati mama sangat sakit, nak." Lirih bu Widia dengan deraian air mata yang terus saja jatuh membasahi wajahnya.


"Tapi, pah... Anak kita,, anak kita dalam keadaan seperti ini, mama tidak tenang, pah." Ucap bu Widia sambil memeluk suaminya dan kembali nangis di dalam pelukan sang suami.


"Papa tahu, mah. Papa juga tidak tenang, tapi kita punya Tuhan, mah. Serahkan semuanya kepada Tuhan. Kita berdoa untuk kesembuhan dan keselamatan Alex." Seru pak Permana sambil mengusap punggung sang istri dengan lembut. Bu Widia hanya terdiam dengan isak tangisnya yang tidak mau berhenti.

__ADS_1


"Mama jangan menangis lagi, ya. Alex pasti tidak ingin melihat mama menangis seperti ini." Pak Permana kembali bersuara, tangannya terulur menghapus air mata di wajah sang istri.


Bu Widia hanya terdiam dan membiarkan sang suami menghapus air matanya. Tatapan mata bu Widia terus tertuju pada putra semata wayangnya itu.


***


Sudah tiga hari Alex terbaring di rumah sakit dengan kedua bola mata yang masih tertutup rapat. Kondisinya benar-benar membuat orang khawatir, terutama mama dan papnya. Detak jantungnya sangat lemah, hidupnya hanya mengandalkan keajaiban dari Tuhan. Jika Tuhan mengkhendaki dia untuk hidup, maka dia akan tetap hidup.


"Alex, buka matamu, nak. Ini sudah tiga hari kamu tertidur. Apakah kamu tidak merindukan mama, nak?" Ucap bu Widia sembari menggenggam tangan putranya itu berharap sang putra mau merespon ucapannya. Namun sayangnya harapannya sama sekali tidak terwujud, Alex tetap menutup kedua matanya rapat, tangannya sama sekali tidak bergerak, membuat sang mama menghela nafas beratnya.


"Sayang, bangun. Mama tidak ingin melihatmu seperti ini terus. Tolong buka matamu, Alex. Jangan membuat mama dan papa khawatir." Bu Widia kembali berucap, air matanya kembali terjatuh membasahi wajahnya.


"Bertahanlah, sayang. Mama yakin kamu pasti kuat." Ucapnya lagi sembari terus menggenggam tangan putranya itu.


"Mentari.... " Tiba-tiba saja bu Widia mendengar nama mantan menantunya keluar dari mulut Alex, bu Widia langsung menatap wajah putranya dan memastikan bahwa pendengarannya masih normal. Dan betapa senangnya ia ketika melihat putranya itu sudah membuka kedua bola matanya.

__ADS_1


"Sayang, kamu sudah sadar?" Seru bu Widia terlihat begitu bahagia, Alex hanya merespon dengan kedipan matanya, mulutnya masih kaku. "Sebentar mama panggilkan dulu dokter ya." Ucap bu Widia segera pergi memanggil dokter yang menangani Alex.


Bersambung.


__ADS_2