
Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa pernikahan Mentari akan segera di laksanakan hari ini. Ya. Keduanya sudah berada di negara Thailand, lebih tepatnya mereka berada di Soneva Kiri tempat yang akan menjadi saksi bisu pernikahan mereka berdua.
Jhon memang sudah menyuruh seseorang untuk mengatur pernikahannya dengan Mentari dari dua eminggu yang lalu. Ia ingin pernikahannya menjadi pernikahan yang paling spesial bagi calon istrinya dan juga dirinya. Ya, meskipun pernikahan ini bisa di bilang pernikahan dadakkan, tapi tetap harus berkesan dalam hidupnya dan juga hidup calon istrinya.
Jhon tersenyum ketika melihat calon istrinya berjalan menuju ke arahnya, calon istrinya itu nampak sangat cantik ketika mengenakan gaun pengantin pilihannya. Sementara itu di sampingnya ada mama Natalia dan juga pak Geri yang masih mengenakan kursi rodanya karena ia masih dalam perawatan, namun ia tetap kekeh ingin melihat putrinya itu menikah meskipun keadaannya masih belum sembuh. Sementara mama Celine dan juga pak Calvin sudah duduk di kursinya.
Pernikahan itu pun akhirnya di mulai, semuanya berjalan dengan sangat lancar. Pak Geri menangis haru ketika ia benar-benar menyaksikan pernikahan putrinya dengan mantu idamannya, bahkan dokter yang menangani penyakitnya pun hadir di pesta pernikahan putrinya itu.
"Papa, aku sudah mengabulkan permintaanmu, aku harap papa terus berjuang untuk kesembuhan papa. Aku ingin papa segera sembuh dan kembali ke Indonesia." Ucap Mentari sembari berjongkok menggenggam erat tangan papanya itu.
Pak Geri meneteskan air matanya, tangannya membelai lembut pucuk kepala putrinya itu.
"Papa pasti akan berjuang sayang. Terima kasih karena kamu sudah mau menuruti permintaan papa. Papa harap kamu hidup bahagia bersama suamimu, sayang."
"Pasti, pah. Aku pasti bahagia hidup bersamanya. Tapi, aku akan jauh lebih bahagia lagi, kalau papa sembuh dan bisa kumpul kembali dengan kita seperti dulu lagi." Ucap Mentari di iringi dengan isak tangisnya. Sungguh hatinya merasa sangat sakit ketika melihat keadaan papanya seperti saat ini.
__ADS_1
Jhon menghapus air mata yang jatuh membasahi wajah cantik Mentari, kemudian ia berkata dengan nada yang begitu lembut dan halus. "Sayang, jangan menangis. Aku yakin papamu pasti akan sembuh dan segera kembali ke Indonesia. Percayalah, Tuhan pasti akan memberikan keajaiban untuk papamu." Jhon berusaha untuk menenangkan hati wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu.
"Benar kata suamimu, Mentari. Kamu jangan menangis lagi, papa pasti akan sembuh, papa akan berjuang demi kamu dan juga mamamu, kita akan kembali seperti dulu lagi. Dan papa juga ingin melihat cucu-cucu papa besar nanti." Ucap pak Geri di iringi dengan senyumannya yang lebar membuat Mentari turut menyunggingkan senyumannya. Kali ini hatinya merasa sedikit tenang, semangat papanya untuk hidup sangat terlihat jelas dari raut wajahnya itu.
"Jhon, jaga putri saya dengan baik, jika kamu sampai berani menyaikitinya walaupun seujung kukunya, saya pasti tidak akan melepaskanmu." Seru pak Geri sambil menatap menantunya itu.
"Papa tenang saja, aku pasti akan menjaganya dengan baik, aku bersumpah, aku tidak akan menyakitinya, jika aku menyakitinya walaupun hanya seujung kukunya saja, aku siap menerima hukuman apapun yang akan papa berikan. Tapi, aku pastikan, aku tidak akan menyakitinya walaupun seujung kuku saja." Jawab Jhon dengan raut wajah yang serius membuat pak Geri kembali menyungginggkan senyumannya.
"Bagus! Kamu memang pilihan terbaik untuk putriku." Ucap pak Geri sambil menepuk pundak menantunya itu.
"Iya, mah. Tidak apa-apa, perawatan papa jauh lebih penting dari pada aku." Jawab Mentari sambil memperlihaktan senyuman manisnya. "Papa ingat kata aku tadi, ya. Papa harus sembuh!" Ucap Mentari kepada papanya.
Pak Geri mengangguk dengan lemah, kini semangat hidupnya jauh lebih besar di bandingkan sebelumnya, hatinya sangat yakin jika Tuhan akan memberinya sebuah keajaiban yang ntah kapan datangnya.
Mama Natalia berlalu sambil mendorong kursi roda suaminya itu, Mentari hanya dapat menatap kepergiannya dengan sendu. "Cepet sembuh, pah." Ucapnya dalam hati.
__ADS_1
"Sayang, jangan bersedih lagi, aku yakin papamu pasti akan sembuh." Ucap Jhon sembari memeluk tubuh istrinya dengan hangat memberikan sebuah kenyamanan bagi istrinya.
"Sebaiknya kita kembali sekarang, sebentar lagi acaranya akan selesai, habis itu kita istirahat, kamu pasti sangat lelah bukan." Jhon melepaskan pelukannya, ia menatap dan membelai lembut wajah cantik istrinya itu.
"Mmm sedikit, sayang. Aku tidak menyangka pernikahan dadakkan ini akan sangat mewah dan kamu mengundang banyak tamu, bahkan tempat ini begitu istimewa. Aku pikir kita akan menikah di rumah sakit tempat dimana papa di rawat. Tetapi perkiraanku ternyata salah." Ucap Mentari sembari menatap laki-laki yang kini sudah sah menjadi suaminya itu.
"Sayang, ini belum seberapa, aku pasti akan menyiapkan pesta pernikahan kita yang jauh lebih mewah dari ini, keitka papa kamu sembuh. Dan tamu-tamu yang datang hari ini, hanyalah sebagian kecil dari kenalan keluargaku saja." Seru Jhon membuat Mentari seketika membolakan kedua matanya dengan sempurna.
"Pesta pernikahan lagi? Tidak, Jhon. Ini sudah cukup untukku. Aku tidak butuh pesta pernikahan lagi. Lagian untuk apa mengadakan pesta pernikahan lagi? Bukankah satu kali saja sudah cukup?" Ucap Mentari di iringi dengan helaan nafas beratnya.
"Tapi sayang...."
"Sayang, please! Jangan mengadakan pesta pernikahan lagi buatku, karena pesta pernikahan hari ini sudah cukup spesial bagiku." Ucap Mentari menyela ucapan suaminya itu. Jhon hanya dapat menganggukkan kepalanya, ia tidak akan memaksa istrinya lagi. Karena keinginan istrinya adalah nomor satu bagi dirinya.
Bersambung.
__ADS_1