Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Deg-degan!


__ADS_3

Pesta pernikahan sudah selesai, Jhon dan juga Mentari sudah berada di dalam kamarnya yang di hiasi oleh bunga mawar merah kesukaan Mentari. Mentari terlihat begitu lelah, sementara suaminya masih terlihat segar bugar, tidak ada tanda-tanda kelelahan dalam dirinya itu. Apakah karena hari ini adalah hari yang paling spesial bagi dirinya? Atau memang tubuhnya seperti robot yang tidak pernah lelah meskipun berdiri seharian? Ah ntahlah.


Mentari duduk di sisi ranjang, tangannya memijit-mijit kakinya yang terasa sangat pegal karena ia harus berdiri hampir seharian full di aula tadi.


Jhon segera menghampiri istrinya, kemudian ia berjongkok dan meraih lembut tangan sang istri. "Biar aku yang pijitin, sayang." Ucap Jhon dengan nada suara seperti biasanya halus dan lembut. Jhon langsung memijit kaki istri tercintanya dengan penuh perasaan.


"Tidak perlu, Jhon. Kamu juga pasti sangat lelah bukan? Sebaiknya kamu istirahat saja." Tolak Mentari sambil meraih tangan suaminya berniat untuk menghentikan pijitan suaminya itu.


"Tidak apa-apa, sayang. Aku sama sekali tidak lelah." Jawab Jhon sambil memperlihatkan senyumannya yang manis. Jhon kembali memijit kaki sang istri, sementara sang istri nampak tersenyum sambil menatap suami bucinnya itu.


"Bagaimana? Apa udah enakkan, sayang?" Tanya Jhon sembari menatap istrinya penuh cinta.


__ADS_1


"Sudah, terima kasih sayang." Jawab Mentari di hiasi oleh senyumannya yang indah.


Jhon tersenyum, kemudian ia mengecup kening sang istri penuh kasih sayang. "Jangan berterima kasih, sayang. Sebagai suamimu sudah seharusnya aku melakukan hal itu, bahkan jika kamu ingin, aku bisa memijit seluruh tubuhmu." Ucap Jhon dengan membisikkan lima kata di belakangnya membuat wajah Mentari memerah seketika.


Bisikkan suaminya itu terdengar begitu menggoda, apalagi sang suami sengaja menghembuskan nafasnya yang mampu membuat bulu kuduk Mentari meremang seketika.


"Ish jangan menggodaku, Jhon.... "


Jhon menempelkan jari telunjuknya di bibir manis milik istrinya. "Panggil aku sayang." Bisiknya membuat Mentari harus menelan salivanya dengan susah payah. Padahal Jhon berbisik hanya menyuruhnya untuk memanggilnya sayang, namun ntah mengapa bisikkan itu seperti sihir yang mampu menggetarkan jiwanya.


"Sayang apa kamu tahu apa yang aku rasakan saat ini?" Bisik Jhon terdengar berat.


"Mmm mungkin yang kamu rasakan sama dengan apa yang aku rasakan saat ini, bahagia." Jawab Mentari sembari menatap kedua bola mata suaminya.

__ADS_1


"Jauh lebih dari itu, sayang. Ini terasa seperti mimpi indah bagiku. Kebahagiaan ini tidak dapat aku ungkapkan melalui kata-kata." Bisik Jhon sambil menempelkan keningnya dengan kening istrinya.


Hatinya benar-benar sangat bahagia, akhirnya penantian dan harapannya selama ini di kabulkan oleh Tuhan.


"Aku sangat mencintaimu Mentari Roseline." Jhon kembali berbisik, Tatapan matanya semakin dalam membuat detak jantung Mentari kembali berdegup dengan sangat cepat.


Perlahan tangan Jhon mulai mengelus bibir lembut dan manis milik istrinya itu, sementara sang istri, hanya diam dengan hati yang mulai tidak karuan. Tubuhnya mulai memanas saat suaminya itu menempelkan bibirnya di atas bibir miliknya.


"Oh Tuhan, apakah dia akan melakukan itu sekarang? Kenapa aku jadi deg-degan begini sih?" Batin Mentari sembari memejamkan kedua bola matanya rapat. Bagaimana pun juga, ini adalah kali pertamanya ia akan menyerahkan seluruh tubuhnya kepada Jhon si raja bucin yang kini sudah di selimuti oleh kabut gairahnya.


Perlahan Jhon mulai ******* bibir sang istri dengan lembut, tangan kanannya mulai beralih menekan tengkuk sang istri untuk memperdalam ciumannya, sementara tangan kirinya meraih pinggang sang istri dan membawanya agar merapat dengan tubuhnya.


__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2