
Mentari tersenyum dingin saat melihat beberapa panggilan dan juga pesan yang di kirimkan oleh Alex kepada dirinya. Mentari langsung menghapus semua pesan yang di kirimkan oleh Alex tersebut. Ia sangat malas walau hanya sekedar membacanya saja, bagi Mentari, pesan dari Alex tidaklah penting lagi, karena sebentar lagi Alex akan menjadi orang asing dalam kehidupannya.
Setelah ia menghapus pesan-pesan yang di kirimkan Alex tadi, Mentari pun kembali menaruh ponselnya di atas nakas. Kemudian ia merebahkan dirinya di atas tempat tidur. "Sebaiknya aku tidur sekarang, karena besok aku harus bangun lebih pagi."Gumamnya sambil menarik selimut tebal untuk menyelimuti dirinya.
Mentari mulai memejamkan kedua bola matanya secara, namun saat kedua matanya sudah tertutup dengan rapat, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi membuat Mentari kembali membuka kedua bola matanya. "Siapa lagi yang menggangguku malam-malam begini? Apakah Alex? Atau Jhon?" Gerutu Mentari di iringi dengan helaan nafas beratnya.
__ADS_1
Mentari kembali duduk di atas tempat tidurnya, dengan malas ia pun mengambil kembali ponselnya yang berada di atas nakas. Mentari tersenyum ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya. "Lisa? Untuk apa dia menghubungiku? Apakah dia ingin meminta maaf? Atau dia ingin.... Ah sebaiknya aku angkat dulu panggilannya, aku sangat penasaran dengan apa yang akan dia katakkan kepadaku." Ucap Mentari sambil menggeser tombol berwarna hijau dan menempelkan ponselnya di telinga kanannya.
"Mentari, Berani-beraninya lo merebut calon suami gue. Dasar perempuan tidak tahu malu, seharusnya lo sadar diri, status lo sekarang itu istri orang, meskipun lo bercerai dengan Alex, lo hanya seorang janda. Lo pikir orangtua Jhon bakalan setuju dengan hubungan lo sama Jhon hah! Mentari gue ingatkan sama lo, jauhi calon suami gue. Atau lo akan tahu akibatnya." Cerocos Lisa terdengar emosi.
Mentari tersenyum, ia merasa sangat lucu saat mendengar perkataan-perkataan Lisa barusan. "Lisa, lo ngatain gue atau lo ngatain diri lo yang tidak tahu malu itu? Seharusnya lo yang sadar diri, Lisa. Lo itu hanya perempuan murahan yang mau saja di pake sama suami orang. Dan lo dengan rasa percaya diri lo yang tinggi, lo mengakui bahwa Jhon adalah calon suami lo, padahal jelas-jelas Jhon sudah membatalkan pernikahannya dengan lo, tapi lo masih saja bermimpi menjadi istrinya. Sangat lucu."
__ADS_1
Mentari langsung memutuskan sambungannya secara sepihak, ia kembali kembali menaruh ponselnya di atas nakas, kemudian ia merebahkan kembali tubuhnya di atas tempat tidur.
Namun saat Mentari hendak menutup kedua bola matanya, ponselnya kembali berbunyi membuat Mentari mendengus kesal. Kali ini Mentari menghiraukannya, ia tetap memejamkan kedua bola matanya dan menutupi kedua telinganya dengan bantal. Mentari berusaha untuk tidur, namun ponsel itu terus berbunyi membuat dirinya terpaksa membuka kedua bola matanya dengan lebar.
"Argh siapa lagi yang menelponku? Apakah dia di rumahnya tidak ada jam? Kenapa menelponku di jam segini" Gerutu Mentari sambil bangun dari tempat tidurnya. Dengan kesal Mentari pun mengambil ponselnya, Mentari menghela nafasnya kasar saat melihat nama Jhon terpampang di layar ponselnya. "Ada apa lagi dia menghubungiku malam-malam begini? Apakah dia tidak ada kerjaan lain selain menggangguku siang dan malam." Mentari kembali menggerutu sambil menggeser tombol berwarna hijau.
__ADS_1
Bersambung.