Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Memanfaatkan kesempatan


__ADS_3

Mentari tersenyum sambil membalas tatapan mata calon suaminya itu, tidak ada alasan lagi bagi dirinya untuk menolak calon suaminya, apalagi permintaan itu adalah permintaan sang papa yang saat ini sedang berjuang untuk kesembuhannya.


Mentari tidak ingin mengecewakan papanya, lagian, ia juga mencintai laki-laki si raja bucin ini, jadi! Tidak ada salahnya bukan, jika ia menyetujui permintaan papanya itu? Toh nanti atau pun sekarang, ia tetap akan menjadi istri si raja bucin ini.


"Aku siap, Jhon. Lagian sekarang ataupun nanti, aku tetap akan menjadi istrimu, bukan." Ucap Mentari membuat senyuman di wajah Jhon semakin mengembang. Rasanya si raja bucin itu ingin berteriak sambil berjingkrak saking senangnya mendengar jawaban yang selama ini ia nantikan, tanpa ada keraguan dari calon istrinya itu.


Namun sayangnya ia tidak bisa melakukannya sekarang, karena ia harus menjaga image sebagai lelaki maco nan elegant di hadapan calon istrinya, ah mungkin saja saat ia pulang nanti, ia akan berteriak sekencang-kencangnya.


Jhon mengecup punggung tangan Mentari dengan lembut, lalu membawa Mentari ke dalam pelukannya. "Terima kasih, sayang. Akhirnya aku bisa memilikimu seutuhnya. Aku berjanji, aku akan melindungimu dan membahagiakanmu seumur hidupku." Tutur Jhon terdengar begitu bahagia. Bahkan ia tak henti-hentinya mengecup pucuk kepala calon istrinya itu.


"Sayang, aku sangat bahagia sekali. Ini seperti mimpi indah bagiku." Jhon kembali berucap sembari memeluk erat tubuh calon istrinya itu, rasanya ia benar-benar seperti sedang bermimpi, mimpi yang paling indah seumur hidupnya. Berlebihan emang, tapi itulah yang di rasakan oleh Jhon saat ini.


"Iya, aku tahu kamu sangat bahagia, tapi! Jangan terlalu erat memelukku, sayang. Rasanya aku tidak bisa bernafas hmm." Ucap Mentari membuat Jhon langsung melepaskan pelukannya yang erat itu. Mentari nampak menarik nafasnya dalam, pelukan yang di berikan oleh calon suaminya itu benar-benar membuatnya sesak.


"Sayang, kamu panggil aku apa tadi?" Jhon menggenggam erat kedua tangan calon istrinya itu, sungguh ia ingin mendengar lagi kata (sayang) yang keluar dari mulut manis calon istrinya itu. Jujur saja, selama ini Mentari belum pernah memanggilnya dengan embel-embel kata sayang seperti tadi. Mungkin dulu pernah sebelum Mentari mengalami amnesia.


"Sudah malam, sebaiknya kamu pulang sekarang, aku juga mau istirahat." Mentari mencoba mengalihkan pembicaraannya, ntah mengapa ia merasa sedikit malu saat mengingat panggilan sayangnya tadi.

__ADS_1


"Aku tidak akan pulang sebelum kamu memanggilku seperti tadi lagi." Ucap Jhon sembari menangkup wajah cantik calon istrinya itu. "Sayang, ayo katakan lagi. Aku ingin mendengarnya." Desaknya sambil menatap Mentari dengan tatapan yang selalu di tampilkan oleh bocah kecil saat mereka sedang meminta uang kepada orangtuanya untuk jajan (Memelas).


"Sayang, sebaiknya kamu pulang sekarang, karena ini sudah malam, dan aku juga ingin istirahat, karena besok aku harus bangun pagi dan berangkat ke kantor." Ucap Mentari terlihat sangat menggemaskan di mata si raja bucin itu.


"Aku ingin mendengarnya sekali lagi, sayang." Pinta si raja bucin itu membuat Mentari kesal sekaligus gemas.


"Sayang."


"Sekali lagi." Pinta Jhon manja.


"Sayang."


Ok sepertinya Mentari sudah mulai kesal mendengar permintaan si raja bucin itu, lihat saja tangannya sudah mulai melayang dan menempel sempurna di hidung mancung si raja bucin itu. "SAYANG, SAYANG, SAYANG.... Udah, puas!" Ucap Mentari sembari memencet gemas hidung mancung calon suaminya itu.


Jhon terkekeh dengan pelan, rasanya ia tidak cukup mendengar satu kali panggilan sayang dari calon istrinya tersebut. Ia ingin mendengarnya, lagi dan lagi.


Jhon mengecup kening calon istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang, jangan lupakan tatapan matanya yang semakin mendalam, hingga menyentuh relung hati Mentari saat ini. "Mulai sekarang panggil aku, sayang. Jangan sampai lupa, mengerti." Ucap Jhon dengan tegas, namun terdengar begitu lembut dan halus.

__ADS_1


Mentari menganggukkan kepalanya di iringi dengan senyuman manisnya. "Yasudah sekarang kamu pulang, ya. Ini sudah malam." Ucapnya terdengar sangat lembut di telinga si raja bucin itu.


"Iya, sayang. Kamu juga istirahat, ya. Jangan pernah menangis lagi, aku sangat yakin, papamu pasti akan segera sembuh. Kita berdoa sama-sama ya, sayang." Ujar Jhon sambil mengelus lembut wajah cantik Mentari.


"Sayang, sepertinya tenggorokkanku kering, butuh air minum, karena sedari tadi kekasihku sama sekali tidak memberiku minum. Sangat menyedihkan sekali." Bisik Jhon di telinga Mentari seketika membuat wajah cantik Mentari memerah seperti tomat.


Padahal Jhon hanya berbisik meminta air minum saja, namun ntah mengapa, bisikkannya itu seolah-olah Jhon bukan hanya meminta air minum, tetapi meminta sesuatu yang lain.


Melihat Mentari yang hanya terdiam dengan wajah yang memerah, Jhon memanfaatkan kesempatan itu untuk mencuri ciuman di bibir manis sang pujaan hati, ********** beberapa detik lalu melepaskannya. Sementara Mentari yang mendapat serangan dadakkan, hanya dapat membolakan kedua matanya sempurna. Ternyata tebakkannya memang benar.


"Hadiah untukku, sayang." Ucap Jhon sambil memperlihatkan senyumannya yang manis.


Si raja bucin



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2