
Mentari memghela nafasnya di seberang telpon sana, kemudian ia berkata. "Aku tidak suka paksaan, dan untuk saat ini aku masih belum memikirkan untuk berumah tangga kembali. Apalagi saat ini aku harus fokus mengelola perusahaan papaku. Jadi, aku harap kamu mau mengerti, Jhon."
Jhon menghela nafas beratnya, senyuman di wajah tampannya sedikit memudar ketika ia mendengar ucapan Mentari barusan. "Jadi, sampai kapan aku harus menunggumu, Mentari?" Tanya Jhon terdengar sendu di telinga Mentari.
"Satu tahun saja."
"Satu tahun terlalu lama, sayang. Bagaimana kalau dua bulan saja?" Ucap Jhon berharap Mentari dapat menyetujui permintaannya itu.
Mentari menghembuskan nafasnya kasar, kemudian ia berkata. "Sepuluh bulan."
"satu bulan." Pinta Jhon membuat Mentari kembali menghembuskan nafasnya di seberang telpon sana.
"Tujuh bulan." Ucap Mentari mulai kesal.
"tiga minggu." Jawab Jhon dengan santai kayak di pantai.
"enam bulan." Ucap Mentari mencoba untuk tetap sabar menghadapi laki-laki bucin seperti si Jhon itu.
__ADS_1
"satu minggu." Tawar Jhon semakin mendekat. Sepertinya laki-laki ini minta di getok.
"Dua bulan. Tidak ada tawar menawar lagi." Seru Mentari kesal.
"Ok deal sayang." Jawab Jhon dengan senyuman yang kembali melebar. Tidak apa-apa menunggu dua bulan, asal jangan satu tahan saja, bisa-bisa sesuatu yang di bawah sana memberontak dan itu akan sangat membahayakan dirinya.
"Dasar keras kepala." Dengus Mentari membuat Jhon terkekeh pelan. "Kalau tidak ada yang ingin di bicarakan lagi, aku matiin dulu telponnya." Ucap Mentari masih dengan nadanya yang terdengar kesal, namun tetap merdu di telinga si raja bucin itu.
"Tapi aku masih kangen sama kamu, sayang. Sebentar temani aku mengobrol dulu." Pinta Jhon sangat manja layaknya seorang bocah yang merengek sama orangtuanya.
"Apa kamu tidak ada kerjaan?" Tanya Mentari membuat Jhon langsung menatap kesal ke arah berkas-berkas yang sedari tadi menanti dirinya.
"Ckk gombal aja terus." Seru Mentari di iringi dengan senyumannya yang manis di seberang telpon sana.
"Fakta sayang, bukan gombal." Ucap Jhon masih dengan nadanya yang begitu lembut dan halus.
"Terserah kamu saja." Jawab Mentari membuat Jhon terkekeh pelan. "Oh iya, aku sampai lupa ada yang ingin aku tanyain sama kamu, Jhon."
__ADS_1
"Mau tanya apa, sayang?"
"Ini tentang Lisa."
"Lisa? Ada apa dengan dia?" Tanya Jhon sembari mengernyitkan keningnya.
"Tante Monic telpon aku, dia bertanya soal Lisa, dia bertanya apakah aku sedang bersama Lisa, karena tante Monic berpikir jika Lisa itu datang dan meminta maaf sama aku, karena pas tante Monic pergi ke apartemen Lisa, Lisa tidak ada di sana dan Lisa pergi tidak membawa ponselnya karena ponselnya tergeletak begitu saja di dalam apartemennya." Jelas Mentari membuat Jhon terdiam seketika.
"Apakah Lisa pernah datang ke tempatmu, Jhon?" Tanya Mentari membuat Jhon harus menelan salivanya dengan susah payah. Lisa tidak pernah lagi pergi ke tempatnya, tetapi dirinya lah yang pergi ke tempat Lisa untuk membalas apa yang sudah Lisa perbuat terhadap kekasih hatinya itu.
Jhon berusaha untuk tetap tenang, ia tidak ingin kekasih hatinya itu mencurigai dirinya yang sudah menyebabkan Lisa menghilang.
"Apa kamu mengkhawatirkan perempuan iblis itu, sayang?" Bukannya menjawab, Jhon justru bertanya. Tentu saja itu untuk mengalihkan pertanyaan sang pujaan hatinya itu.
"Tante Monic yang mengkhawatirkannya Jhon, aku sudah tidak perduli dengan dia. Dia sudah menyakitiku hingga aku tidak lagi memiliki simpati sedikitpun terhadap dia. Aku hanya kasian sama tante Monic, karena bagaimanapun juga, Lisa adalah putri satu-satunya tante Monic, meskipun Lisa sudah melakukan kesalahan yang cukup fatal, tante Monic pasti akan tetap memaafkannya."
"Jadi, apa Lisa pernah datang ke tempatmu?" Tanya Mentari kembali ke pertanyaan semula.
__ADS_1
Bersambung.