
"Menyingkirlah, apa kamu tidak mendengarnya?" Seru Mentari saat Jhon masih tetap berdiri di dekatnya dengan satu tangan yang menahan pintu mobilnya. Tubuh Jhon sama sekali tidak bergerak meskipun ia sudah mendorongnya dengan sekuat tenaga. Aroma yang ada dalam tubuh Jhon semakin menyeruak masuk ke indera penciumannya membuat jantung Mentari semakin tidak sehat.
"Biarkan aku menatapmu sebentar saja, aku masih merindukanmu, Mentari." Bisik Jhon sambil membelai lembut wajah cantik sang pujaan hatinya. Belaian lembut itu terasa begitu nyaman dan sangat femiliar membuat Mentari terpaku dalam beberapa detik.
"Mentari aku sangat mencintaimu, cintaku tidak pernah berubah meskipun sudah beberapa tahun lamanya. Cintaku semakin besar dan membuatku gila, gila jika aku tidak bisa mendapatkanmu kembali." Jhon kembali berbisik, bisikkan itu mampu membuat Mentari kembali terdiam, sekilas bayangan seorang laki-laki dan suara laki-laki muncul di kepalanya,
*Aku mencintaimu, aku menginginkanmu, Mentari*
*Jangan pernah tinggalkan aku, karena aku tidak bisa hidup tanpa dirimu.*
*Kamu adalah perempuan satu-satunya yang aku cintai, bahkan aku rela mengorbankan diriku sendiri hanya untuk dirimu.*
__ADS_1
"Apa ini? Suara siapa itu? Argh kenapa kepalaku sangat sakit?" Batin Mentari sambil memegang kepalanya membuat Jhon terlihat khawatir.
"Ada apa, sayang? Apakah kepalamu sakit?" Tanya Jhon sambil menyentuh tangan Mentari.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." Jawab Mentari sambil menyingkirkan tangan Jhon. "Aku,,, aku pergi dulu." Mentari langsung membuka pintu mobilnya, dan menutupnya dengan sangat cepat sehingga membuat Jhon tidak dapat mencegahnya. "Cepat jalan, pak." Perintah Mentari kepada si pak supir. Pak supir hanya mengangguk, ia mulai melajukan kendaraannya meninggalkan Jhon yang diam mematung di tempatnya.
Jhon menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia menatap kepergian mobil berwarna hitam itu dengan sendu. "Ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat seperti kesakitan tadi? Apakah dia benar baik-baik saja?" Jhon bertanya-tanya dalam hatinya, ia begitu cemas saat melihat Mentari meringis tadi sambil memegang kepalanya. "Apa aku ikutin saja mobilnya? Ya. Sebaiknya aku mengikuti mobilnya agar kekhawatiranku berkurang." Ucapnya sambil berjalan menuju parkiran mobilnya.
Jhon merogoh ponselnya dan melihat siapa yang kini sedang menghubunginya. "Rey? Tumben cecunguk ini menelpon gue." Gumam Jhon ketika melihat nama Rey yang tak lain adalah sepupunya yang sudah enam tahun tidak pernah bertemu. Keduanya hanya berkomunikasi melalui telpon saja, itu pun jika Rey memiliki masalah pribadi atau bertengkar dengan kekasihnya dulu. Rey pasti selalu menghubungi dan mengganggu Jhon sebagai pelampiasan kekesalannya terhadap sang kekasih, ia akan mengoceh tidak jelas membuat Jhon harus bersabar untuk tidak membanting ponselnya.
Jhon segera menggeser tombol berwarna hijau, kemudian menempelkan ponselnya di telinga kanannya. "Gue tebak, lo nelpon gue pasti lo sedang ada masalah kan sama cewek lo?" Ucap Jhon di iringi dengan senyuman yang mengejek.
__ADS_1
Rey terkekeh di seberang telpon sana, tebakkan Jhon selalu benar, tetapi kali ini sepertinya Jhon salah menebaknya. "Tebakkan lo salah, Tan. Gue udah lama putus, dan sekarang gue sudah j-o-m-b-l-o, jomblo kalau lo mau tahu." Jawab Rey mengeja kata jomblo dengan penuh penekanan.
"Jadi ada apa lo mengganggu gue? Lo gak mungkin cuma mau ngasih tahu gue kalau lo sekarang sudah jomblo kan?" Tanya Jhon sambil mengernyitkan keningnya. "Dan jangan panggil gue dengan sebutan tan, tan lagi, lo pikir gue setan hah!" Seru Jhon membuat Rey kembali terkekeh di ujung telpon sana.
"Kan nama lo Jhonatan, jadi gue ambil belakangnya aja biar gampang, Tan." Ucap Rey membuat Jhon kesal. "Ok, ok gue tahu lo sekarang lagi kesal, tapi gue nelpon lo karena gue mau bilang kalau sekarang gue udah ada di Jakarta dan mulai sekarang gue netap di Jakarta. Lo pasti senengkan, Tan?"
Jhon mendengus kesal, dari dulu sampai sekarang si Rey itu selalu memanggil dirinya dengan sebutan Tan berbeda dari yang lain yang memanggil diribya dengan sebutan Jhon. "Tan, Tan, Tan. Lo kira gue setan hah! Sudah gue bilang panggil gue Jhon, Bambang!" Seru Jhon dengan intonasi yang tinggi. "Selamat menjadi warga Jakarta. Kalau gitu gue tutup dulu." Setelah itu Jhon pun langsung memutuskan sambungannya, ia kembali menaruh ponselnya di dalam saku jasnya, kemudian ia mulai melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Sial, gara-gara si kutukupret, gue jadi kehilangan jejak mobil calon istri gue. Argh sangat menyebalkan. Sebaiknya gue pulang saja sekarang." Gerutu Jhon sambil memukul setir mobilnya sedikit kencang.
Bersambung.
__ADS_1