Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Melupakan kesalahannya


__ADS_3

Perusahaan J-A Group.


"Bos, orangtua Lisa memutuskan untuk mengeluarkan Lisa hari ini." Ucap Egi membuat Jhon langsung menghentikan aktifitasnya. Wajahnya nampak suram ketika mendengar bahwa orangtua Lisa memutuskan untuk mengeluarkan putrinya dari rumah sakit jiwa itu.


"Oh, apakah dia sudah sembuh?" Tanya Jhon dingin.


"Menurut informasi yang saya dapat, Lisa masih belum sembuh total. Tapi, dia yang memohon sama orangtuanya untuk segera pulang ke rumahnya. Dia juga memohon agar dirinya di pertemukan dengan nona Mentari, dia ingin meminta maaf atas semua kesalahan yang sudah ia perbuat terhadap nona Mentari." Ucap Egi selalu dengan nadanya yang datar.


"Apa dia sudah menyesali perbuatannya?" Tanya Jhon sambil menatap asisten datarnya itu.


"Sepertinya begitu, bos. Saya dengar dia selalu menangis dan mengucapkan kata maaf setiap malamnya. Dan menurut informasi, dia terlihat benar-benar sudah menyesali perbuatannya. Bagaimana menurut anda, bos? Apa kita laporkan dia ke polisi saja, agar dia menerima ganjaran dari kejahatannya."


"Biarkan saja dia pulang, tapi kau tetap suruh seseorang untuk terus mengawasinya. Dan aku akan membicarakan masalah ini dengan istriku nanti." Ucap Jhon masih dengan nada suaranya yang dingin.


"Jika dia bertingkah sedikit saja, kau boleh bawa langsung dia ke kantor polisi, berikan semua bukti kejahatannya itu." Perintah Jhon yang mendapat anggukkan kepala dari Egi. Bukannya Jhon tidak ingin mengirim langsung Lisa ke dalam penjara, tetapi ia selalu ingat dengan ucapan Mentari yang selalu saja merasa kasihan melihat tante Monic. Jadi sebelum ia mengirim Lisa ke penjara, ia akan membicarakannya terlebih dahulu dengan istri kesayangannya itu.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi dulu, bos." Pamit Egi yang mendapat anggukkan kepala dari Jhon. Setelah itu, Egi pun langsung melangkahkan kedua kakinya meninggalkan ruangan bosnya.


Setelah kepergian Egi, Jhon langsung meraih ponselnya yang berada di atas meja kerjanya. Si raja bucin itu langsung menghubungi sang istri yang selalu di rindukannya.


"Ada apa sayang?" Tanya sang istri ketika panggilannya sudah di jawab.


"Aku merindukanmu sayang." Jawab Jhon dengan nada suara yang terdengar berat.


"Hmm. Selalu begitu." Ucap Mentari di iringi dengan kekehannya. "Tapi, aku juga merindukanmu, sayang." Timpalnya membuat Jhon langsung menyunggingkan senyumannya.


"NO! Aku masih ada pekerjaan sayang, jadi kita bertemu nanti saja, ya." Jawab Mentari membuat Jhon nampak kecewa.


"Baiklah, nanti aku akan menjemputmu ya." Ucap Jhon masih dengan nada suaranya yang lembut. "Sayang, nanti setelah pulang ada hal yang ingin aku sampaikan sama kamu."


"Hal apa, sayang? Apa tidak bisa di bicarakan sekarang saja?" Tanya Mentari terdengar begitu penasaran.

__ADS_1


"Ini tentang Lisa, sayang." Ucap Jhon yang mendapat helaan nafas dari istrinya.


"Kenapa dengan Lisa? Apakah dia sudah sembuh? Syukurlah kalau dia sudah sembuh, tante Monic pasti sangat senang." Seru Mentari terdengar bahagia.


"Sayang, apa kamu sama sekali tidak dendam kepadanya?" Tanya Jhon selalu dengan nada suaranya yang lembut.


"Dendam?" Mentari terdengar menghela nafasnya kembali. "Aku sudah melupakan kesalahannya kepadaku. Aku tidak ingin tante Monic terus memohon kepadaku untuk memaafkan semua kesalahan putrinya itu. Dan aku juga berharap dia dapat berubah setelah apa yang selama ini sudah terjadi kepada dirinya. Aku pikir itu sudah cukup." Jawab Mentari membuat Jhon semakin jatuh hati kepada istrinya itu. Selain cantik, Mentari juga memiliki hati yang baik.


"Tapi bagaimana kalau dia sudah berusaha untuk mencelakaimu dan ingin membunuhmu, sayang. Apakah kamu masih ingin memaafkannya? Jika kamu tidak ingin memaafkannya, aku akan mengirimnya ke penjara hari ini juga." Ucap Jhon sembari mengepalkan tangannya kuat menahan amarah saat ia mengingat perbuatan jahat Lisa kepada istrinya itu.


"Jika dia tidak berubah, kamu boleh mengirimnya ke penjara, tetapi jika dia berubah, aku akan melupakan semua perbuatan jahatnya kepadaku." Jawab Mentari terdengar begitu tenang. Jika perempuan lain, mungkin akan merasa terkejut ketika mendengar sahabatnya berusaha untuk mencelakai dan ingin membunuhnya. Namun tidak dengan Mentari.


Bersambung.


Note: Untuk yang tidak menyukai alur ceritanya, kalian boleh tinggalkan, ya. Dan terima kasih untuk kalian yang sudah mensuport dan memberikan komentar positifnya.

__ADS_1


__ADS_2