
Dua hari kemudian..
Rumah Sakit Medistra
Keluarga Alfarizzy, juga keluarga pak Geri, sudah berkumpul di rumah sakit Medistra. Mereka nampak sangat cemas sekaligus tidak sabaran menantikan cucu pertamanya. Ya, saat ini Mentari sudah memasuki ruang persalinan, ia di temani oleh Jhon yang selama ini selalu berada di sampingnya, menjadi suami siap siaga.
Jhon terlihat sangat cemas saat melihat sang istri meringis kesakitan, namun ia sendiri tidak dapat berbuat apa-apa, selain menyemangati sang istri dan menggenggam tangan sang istri memberinya sebuah kekuatan.
"Aaaw.... " Mentari kembali meringis, ketika perutnya terasa nyeri sekaligus ngilu, dengan sigap, Jhon pun langsunf mengelus perut buncit sang istri.
"Bersabarlah, sayang. Sebentar lagi baby kita akan segera lahir. Tahan ya, sayang." Ucap Jhon, lalu mengelus pucuk kepala sang istri. Kemudian mengecup kening istrinya penuh kasih sayang.
Mentari hanya mengangguk pelan, sambil mencengkram kuat tangan yang sang suami.
__ADS_1
Jhon melirik ke arah dokter yang bertugas untuk membantu persalinan sang istri kemudian ia berkata.
"Dokter, kapan istri saya akan melahirkan? Kenapa dia selalu merasakan sakit di perutnya? Apakah dia akan baik-baik saja? Lalu, bagaimana dengan bayi yang ada di dalam kandungan istri saya, dok? Dokter tolong buat istri saya agar tidak kesakitan seperti ini lagi, dok. Saya tidak tega melihatnya." Crocos Jhon membuat dokter itu harus menghela nafasnya panjang. Baru kali ini ia menemui pasien yang suaminya seperti si raja bucin itu. Sedari tadi ia sudah nyerocos, dan sekarang ia nyerocos lagi seperti emak-emak kompleks.
"Dokter lihat, istri saya kesakitan lagi, apakah tidak ada cara untuk meringankan rasa sakitnya?" Jhon kembali berusara saat melihat sang istri kembali meringis. Dokter itu menggelengkan kepalanya pelan, belum juga ia menjawab pertanyaan-pertanyaan Jhon tadi, sekarang Jhon sudah melemparkan pertanyaan lainnya, bener-bener membuat dokter itu pusing tujuh keliling.
"Dokter! Kenapa anda diam saja? Apa telinga anda menjadi budeg dalam waktu sekejap?" Seru Jhon saat melihat si dokter itu masih menutup mulutnya rapat. Jhon benar-benar kesal, namun ia tetap harus bersikap sedikit baik, karena dokter itulah yang akan membantu persalinan istri tercintanya.
"Bapak sabar dulu, setiap wanita yang mau melahirkan memang seperti ini, pak. Mereka memang sudah di takdirkan untuk merasakan mules, sakit di saat menjelang persalinan. Kalau bapak tidak tega melihat istri bapak kesakitan, lebih baik bapak tunggu di luar saja, biarkan ibu istri bapak yang menemaninya di dalam." Ucap si dokter berusaha untuk tetap ramah meskipun hatinya kesal. Rasanya ia ingin berhenti saja menjadi dokter jika dia menemukan suami pasien seperti Jhon lagi di kemudian hari. Satu Jhon saja sudah membuatnya pusing tujuh keliling, apalagi kalau ada 2,3,4 Jhon, bisa-bisa kepala si dokter itu pecah.
"Lalu, istri saya harus menunggu sampai pembukaan berapa, dok? Kenapa harus pakai pembukaan segala? Apa tidak bisa kalau istri saya langsung melahirkan?" Tanya Jhon kembali membuat dokter itu pusing.
"Sayang, tenanglah. Lebih baik kamu diam dan tutup mulutmu, karena ocehanmu itu membuat aku pusing. Atau tidak kamu mendingan keluar, biar mama saja yang menemaniku di sini." Seru Mentari dengan suara yang lemah sambil menatap suaminya.
__ADS_1
"Maafkan aku, sayang. Aku terlalu mengkhawatirkanmu. Aku tidak akan bersuara lagi, ok. Dan aku akan tetap tinggal di sini untuk menemanimu." Ucap Jhon dengan nada suaranya yang begitu lembut dan halus.
"Aku mengerti, sayang. Tapi kamu harus tetap tenang, ya."
"Iya, sayang." Jawab Jhon sembari memberikan kecupan hangatnya di kening sang istri.
Sementara itu di luar ruangan, terlihat mama Celine, mama Natalia, pak Calvin dan juga pak Geri. Mereka sedang duduk gelisah menantikan kehadiran cucu pertama mereka yang di perkirakan kembar itu.
"Sebentar lagi, Twins akan segera lahir. Aku benar-benar tidak sabar menantikan kehadirannya." Ucap mama Natalia dengan raut wajah yang terlihat bahagia.
"Benar, Nat. Aku juga tidak sabar menantikan Twins, cucu pertama kita." Timpal mama Celine sambil menepuk pundak besannya itu.
"Kami berdua juga tidak sabar menantikan kehadiran Twins, benarkan, Ger." Seru pak Calvin yang mendapat anggukkan kepala dari pak Geri.
__ADS_1
"Intinya kita sama, tidak sabar menanti kehadiran cucu-cucu kita. Semoga persalinannya lancar, ibu dan anak selamat dan sehat walafiat. Aamiin." Ucap mama Natalia sambil menatap mama Celine, pak Calvin dan juga suaminya pak Geri secara bergantian.
Bersambung.