Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Mulai seperti dulu


__ADS_3

Braaaak....


Alex membuka pintu rumahnya dengan kasar, kemudian ia berjalan masuk dengan langkah kakinya yang cepat. Wajahnya terlihat sangat frustasi, aura begitu menakutkan membuat si bibi yang melihatnya pun langsung berlalu pergi, tidak ingin terkena amukkan majikannya seperti beberapa hari yang lalu.


Alex terus berjalan menaiki anak tangganya satu persatu menuju kamarnya, amarahnya semakin memuncak tatkala ia mengingat bahwa hari ini ia resmi menjadi mantan suami, Mentari.


Alex sudah tiba di sepan pintu kamarnya, dengan tidak sabaran, ia pun membuka pintu itu dan menutupnya dengan sangat kencang.


"Aaargh.... Mentari, kenapa kamu tidak mau memaafkanku? Kenapa kita harus berpisah seperti ini, Mentari. Kenapa? Kenapaaaaaaa." Teriak Alex frustasi. Alex tersungkur di bawah lantai kamarnya yang beralaskan karpet berwarna cokelat tua itu. Tangannya mengacak-acak rambutnya frustasi, bahkan air matanya pun mulai jatuh membasahi wajah tampannya itu.


"Tuhan, aku benar-benar menyesal karena sudah mengkhianatinya, tapi apakah aku tidak pantas mendapatkan maaf darinya, Tuhan? Kenapa Kau hukum aku seperti ini? Kenapa Kau pisahkan aku dengannya? Apakah aku manusia yang tidak pantas untuk memperbaiki kesalahanku sendiri?" Lirih Alex sambil menyesali perbuatannya terhadap Mentari.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukkan pintu terdengar di telinga, Alex. Namun Alex sama sekali tak menghiraukannya, ia terus merutuki kebodohannya selama ini, hingga suara ketukkan pintu kembali terdengar di telinganya.

__ADS_1


Tok... Tok.. Tok...


"Alex, ini mama nak. Buka pintunya." Ucap seseorang yang tak lain adalah bu Widia dari balik pintu kamarnya.


"Aku ingin sendiri dulu, mah. Mama pergi saja jangan ganggu aku." Jawab Alex terdengar berat.


"Sayang! Buka dulu pintunya. Mama ingun bicara sama kamu."


"Mah, please! Aku mohon tinggalkan aku sendirian." Ucap Alex meninggikan nada bicaranya.


"Cukup, mah! Aku tidak ingin mendengar kata-kata mama lagi. Aku mohon pergi, mah." Sela Alex dengan nada suaranya yang dingin membuat bu Widia terkejut. Bu Widia tidak menyangka jika putra semata wayangnya itu akan berkata dengan nada dingin seperti itu. Padahal selama ini Alex selalu berbicara dengan nadanya yang lembut dan halus.


Bu Widia nampak menghela nafasnya panjang, lalu setelah itu ia pun pergi melangkahkan kakinya menuruni anak tangga itu satu persatu. "Semua ini gara-gara perempuan murahan itu, kalau saja dia tidak menggoda putraku, mungkin putraku akan baik-baik saja dengan istirnya. Dan putraku tidak akan berkata dingin seperti tadi. Aku harus memberinya pelajaran." Batin bu Widia sembari mengepalkan tangannya dengan kuat menahan amarah dalam dirinya.


***

__ADS_1


Mentari baru saja selesai membersihkan tubuhnya, ia berjalan menuju lemari pakaiannya dan mengambil piyama, lalu memakainya di tempat. Setelah selesai, ia berjalan menuju meja riasnya dan duduk di kursinya. Seperti biasanya ia pasti akan melakukan kegiatan merawat kulit wajahnya agar nampak sehat dan glowing seperti kebanyakan perempuan lainnya.


Setelah semuanya selesai, Mentari pun bangkit dari kursi itu, kemudian ia berjalan menuju tempat tidurnya, berniat untuk istirahat. Namun sebelum itu, Mentari memeriksa ponselnya terlebih dahulu. Mentari tersenyum ketika melihat ada beberapa pesan masuk dari Jhonatan.


*Apakah kamu sudag tidur?*


*Selamat karena kamu sudah berpisah dari laki-laki brengsek itu. Jadi mulai sekarang, aku bebas untuk menemuimu, bukan.*


*Besok aku ingin mengajakmu untuk bertemu, apa kamu mau?*


*Aku sangat merindukanmu, rasanya aku bisa gila jika aku tidak bisa bertemu denganmu, Mentari.*


"Hmm dia mulai mengirimku beberapa pesan lagi. Tapi, kenapa hatiku merasa senang seperti ini?" Guman Mentari sambil tersenyum sendirian.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2