Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Pengobatan


__ADS_3

Saat ini Mentari sudah berada di kediaman orangtuanya. Ia tengah duduk di atas sofa sambil menatap layar laptopnya dan memeriksa email yang di kirimkan oleh Rega asisten kepercayaan ayahnya itu.


Mentari nampak sangat fokus, ia tidak menyadari jika sang mama sudah berdiri dan menatap dirinya. "Sayang, kamu sedang apa?" Tanya sang mama sembari menatap putrinya itu.


"Aku lagi meriksa email dari Rega, mah." Jawab Mentari tanpa menatap sang mama.


Mama Natalia menghela nafasnya, lalu ia duduk di samping putrinya itu. "Apa sangat penting, sayang?"


"Iya, mah. Ini harus aku periksa sekarang. Mama tahu sekarang akulah pemimpin perusahaan GN Group. Papa mempercayakan semuanya sama aku. Aku tidak ingin membuat papa kecewa." Ucap Mentari di iringi dengan helaan nafas beratnya.


Tangan Mentari terhenti dari aktifitasnya, ia mulai mengalihkan pandangan dari layar laptopnya dan menatap sang mama. "Mah, perasaan papa sudah tiga hari ini gak ada kabar. Aku telpon nomornya tidak aktif. Rega bilang dia sangat sibuk. Tapi, apa sebegitu sibuknya sampai-sampai papa tidak memberi kabar sama kita?"


Mama Natalia tersenyum, ia mengusap pucuk kepala Mentari, lalu berkata. "Saat kamu di rumah sakit, papa ngabarin mama kok. Papa memang sangat sibuk sayang, katanya anak perusahaan di sana mengalami kendala yang cukup besar, dan besar kemungkinan papa akan pulang bulan depan."


Mentari menghela nafas lega, kekhawatirannya mulai berkurang ketika mendengar ucapan sang mama barusan. "Syukurlah, aku hanya khawatir saja, mah."

__ADS_1


"Doain saja semoga papamu baik-baik saja dan kendala di sana cepat selesai." Ucap sang mama yang mendapat anggukkan kepala dari putrinya itu.


Mama Natalia mengecup pucuk kepala putrinya itu, kemudian ia berkata. "Yasudah, mama mau ke kamar dulu, ya. Nanti mama bilangin sama si bibi buat bawain cemilan untukmu."


"Iya, mah." Jawab Mentari sambil memperlihatkan senyuman manisnya.


Mentari kembali memeriksa email yang di kirimkan oleh asisten papanya itu, sementara mama Natalia berjalan menuju kamarnya. "Semoga semuanya berjalan dengan lancar, pah." Batin mama Natalia sambil mempercepat langkah kakinya.


***


Perusahaan GN Group.


Rega terlihat menghela nafasnya, ia menatap ponsel yang berbunyi menandakan adanya panggilan masuk dari seseorang, yang tak lain adalah pak Geri bosnya.


Dengan segera Rega pun menggeser tombol berwarna hijau, lalu menempelkan ponsel itu di telinganya.

__ADS_1


"Iya, pak. Bagaimana keadaan anda di sana sekarang?" Tanya Rega terlihat khawatir.


"Kamu tidak perlu khawatir, Ga. Saya baik-baik saja sekarang." Pak Geri terdengar menghela nafas beratnya, kemudian ia berkata kembali. "Apakah semuanya berjalan dengan lancar, Ga?"


"Bapak tidak perlu khawatir, semuanya berjalan dengan sangat lancar. Mentari memiliki otak yang cerdas, jadi dia tidak terlalu merepotkan saya, pak." Jawab Rega di iringi dengan kekehannya.


"Syukurlah kalau begitu. Kamu memang bisa saya andalkan, Ga." Ucap pak Geri merasa lega.


"Jika pengobatan saya di sini tidak membuahkan hasil, dan jika suatu saat nanti saya mati, saya berharap kamu tetap berada di perusahaan mendampingi putri saya, Mentari. Karena kamulah satu-satunya orang yang saya percaya dapat melindungi perusahaan itu." Tegas pak Geri membuat Rega terdiam beberapa detik.


"Saya berharap, pengobatan bapak berhasil." Ucap Rega terdengar begitu tulus membuat pak Geri tersenyum di seberang telpon sana.


"Doakan saja, Ga. Yasudah saya tutup dulu telponnya. Ingat pesan saya tadi ya."


Setelah mengatakan hal itu, pak Geri pun langsung memutuskan sambungannya. Rega nampak termangu, jujur saja perasaannya sangat kacau saat ini, apalagi ketika ia mendengar ucapan bosnya tadi.

__ADS_1


"Kenapa setiap orang baik harus di berikan penyakit mematikan?" Gumamnya sembari mengusap wajahnya gusar.


Bersambung.


__ADS_2