
Lisa menggeram penuh amarah, ia tidak terima dengan penghinaan yang telah ia terima dari Mentari, apalagi saat ini ia sudah menjadi tontonan para pengunjung yang menatapnya jijik. Dengan penuh amarah dan juga rasa bencinya yang kian membludak, Lisa pun akhirnya memutuskan untuk pergi, jika dirinya terus berada di restauran itu dan terus melawan Mentari, pastinya ia akan mendapatkan hal yang jauh lebih memalukan lagi dari yang ia dapatkan sekarang.
"Tunggu saja pembalasan gue, Mentari. Gue tidak akan pernah melupakan penghinaan ini. Gue pasti akan membalasnya seribu kali lipat." Batin Lisa sambil melangkahkan kedua kakinya keluar dari restauran itu.
Setelah keprgian Lisa, Mentari menghela nafasnya kasar, hatinya sedikit lega karena sudah meluapkan emosi yang selama ini ia pendam, ya meskipun amarahnya masih ada, dan rasa sakitnya masih belum menghilang, namun setidaknya ia bisa meluapkan separuh amarahnya kepada Lisa.
"Jika kamu masih belum bisa meluapkan amarahmu, aku bisa menyuruh seseorang untuk.... " Ucapan Jhon tercekat di tenggorokkan saat Mentari mengangkat jari telunjuknya menyuruh Jhon untuk diam.
"Tidak perlu, ini masalahku dengan dua pengkhianat itu, orang lain tidak perlu ikut campur." Tegas Mentari yang tidak ingin orang lain ikut campur dalam urusan rumah tangganya.
"Baiklah, tapi jika kamu menbutuhkan bantuanku, dengan senang hati aku akan membantumu." Ucap Jhon dengan nada yang begitu lembut dan halus.
__ADS_1
"Hmm terima kasih, tapi aku rasa, aku tidak membutuhkan bantuanmu. Aku bisa menyelesaikan urusanku sendiri." Jawab Mentari sambil menatap Jhon dengan datar. "Aku baru tahu kalau Lisa itu tunanganmu, sekaligus calon istrimu."
Jhon mendengus kesal, mendengar kata Lisa membuat moodnya langsung buruk. "Dia bukan calon istriku, dan pertunangan kita atas desakan orangtua saja, tidak ada perasaan sama sekali. Kalau saja kamu tidak keburu datang tadi, mungkin aku sudah membongkar perselingkuhannya dengan suamimu itu . Ah sayangnya kamu terlalu cepat datangnya." Ucap Jhon di iringi dengan helaan nafas beratnya.
"Jadi, kamu ingin aku datang terlambat begitu? Padahal kamu sendiri yang terus mengirimku pesan tadi." Mentari menjawab sambil menatap Jhon dengan kesal, sementara itu, Jhon terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Bukan begitu maksudku, baby.... " Ucapan Jhon tercekat di tenggorokkan.
Sambil menunggu makanannya datang, Jhon pun mulai mengeluarkan suaranya kembali. "Apa kamu sudah memutuskan untuk berpisah dengan suamimu itu?" Tanya Jhon sambil menatap lekat wajah Mentari.
Mentari menghela nafas beratnya, kemudian ia menjawab dengan singkat dan padat. "Ya."
__ADS_1
Jhon tersenyum, ia merasa begitu senang meskipun hanya mendengar kata YA yang keluar dari mulut manis pujaan hatinya itu. "Aku bisa membantumu untuk mengurus semuanya." Ucap Jhon dengan semangat empat lima.
"Tidak perlu. Ini masalahku sendiri, aku tidak ingin orang lain ikut campur." Jawab Mentari dengan tegas.
"Baiklah, tapi ingat! Jika kamu membutuhkan bantuanku, datanglah padaku, aku siap dua puluh empat jam untuk membantumu." Ucap Jhon terlihat begitu serius.
"Terima kasih, tapi aku rasa, aku tidak membutuhkan bantuanmu."
"Tapi aku rasa kamu akan membutuhkan bantuanku, baby." Ucap Jhon di iringi dengan senyumannya yang manis semanis madu. "Dan aku akan selalu siap melakukan apa pun yang kamu inginkan, asalkan bisa membuatmu bahagia. Termasuk memusnahkan dua pengkhianat itu." Sambung Jhon dengan tatapan matanya yang dalam dan juga serius.
Bersambung.
__ADS_1