
Jhon melepaskan cekalan tangannya, lalu ia membawa Mentari ke dalam pelukannya yang hangat. Mentari yang baru saja tersadar merasa sangat terkejut dan langsung mendorong tubuh Jhon dengan sekuat tenaganya, akan tetapi, tubuh Jhon sama sekali tidak bergerak, bahkan pelukannya lebih erat dari sebelumnya.
"Izinkan aku memelukmu sebentar saja."
Jhon berbisik di telinga kanan Mentari, bisikannya terdengar sendu dan membuat hati Mentari sedikit terenyuh dan membiarkan Jhon untuk memeluknya beberapa saat.
"Ada apa denganku? Kenapa perasaanku seperti ini?" Batin Mentari merasa aneh pada dirinya sendiri.
Jhon tersenyum senang saat sang pujaan hati membiarkan ia memeluknya walau hanya sebentar saja. Jhon memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan kerinduan yang selama ini terpendam.
Hingga beberapa menit kemudian, Mentari pun akhirnya kembali membuka suaranya.
"Sekarang kamu bisa lepaskan pelukanmu, Jhon." Ucap Mentari membuat Jhon mendesah pelan, karena ia masih ingin memeluknya dan tidak ingin melepaskan pelukannya itu.
"Satu menit lagi, Mentari." Lirih Jhon sambil memperlihaktan pelukannya.
__ADS_1
"Kamu membuatku sesak, Jhon." Ucap Mentari seketija membuat Jhon langsung melepaskan pelukannya.
"Maafkan aku Mentari. Aku tidak... " Ucapan Jhon tercekat di tenggorokkan ketika Mentari membuka mulutnya dan berkata.
"Sebaiknya kita duduk saja. Kakiku pegal dari tadi berdiri mulu."
Mentari langsung mendorong tubuh Jhon dan berjalan menuju kursi yang ada di dekat jendela samping tanaman hias yang sedang viral pada masanya.
Mentari langsung menarik kursi itu, kemudian ia duduk. "Apa kamu akan terus berdiri di situ?" Tanyanya ketika melihat Jhon yang masih terdiam di tempatnya.
Keduanya saling bertatapan beberapa saat dengan pikirannya masing-masing. Dan pada akhirnya Mentari memutuskan pandangannya terlebih dahulu. Menatap laki-laki itu terlalu lama, akan membuat jantungnya semakin tidak sehat.
"Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan, Jhon? Kenapa kamu tiba-tiba datang ke rumah orangtuaku?" Tanya Mentari kembali menatap Jhon sambil berusaha untuk menetralkan detak jantungnya.
Jhon menghela nafasnya kasar, tatapan matanya masih tak lepas dari wajah cantik itu. "Bukankah aku sudah memberitahumu tadi." Jawab Jhon membuat Mentari mengerutkan keningnya .
__ADS_1
"Aku datang kemari karena merindukanmu." Ucap Jhon membuat Mentari harus menghela nafasnya panjang.
"Aku serius, Jhon." Seru Mentari dengan kesal.
"Apa kamu pikir aku becanda." Ucap Jhon sambil menatap Mentari dengan dalam.
Mentari hanya terdiam, dengan tatapan mata yang masih mengarah pada Jhon. Ah sepertinya ucapan laki-laki ini memang serius.
"Aku memang sengaja datang kesini karena aku merindukanmu, aku ingin bertemu denganmu, sekaligus aku ingin mengucapkan selamat karena kamu sudah menjadi pemimpin perusahaan GN Group saat ini." Ucap Jhon membuat Mentari langsung mengerutkan keningnya curiga.
"Apa kamu menyelidikiku?" Tanya Mentari sembari menatap Jhon penuh selidik.
Jhon tersenyum, kemudian ia berkata dengan nada suaranya yang masih sama, halus dan lembut. "Jangan salah paham, baby. Aku hanya tidak sengaja mendengar kabar bahwa pemimpin perusahaan GN Group sudah di ganti oleh putrinya. Bukankah kabar itu sudah tersebar luas?" Ucap Jhon meyakinkan Mentari bahwa dirinya hanya tidak sengaja mendengar kabar saja, namun pada kenyataannya, ia memang sengaja menyuruh asisten datarnya itu untuk menyelidikinya.
Bersambung.
__ADS_1