
Jhon mengusap wajahnya kasar, sepertinya akting Lisa patut untuk di akui oleh seluruh dunia, bahkan mamanya pun dapat Lisa bodohi. "Mama tidak percaya?" Jhon berbalik nanya kepada mama Celine, mama Celine hanya menggelengkan kepalanya, membuat Jhon kembali bersuara. "Baiklah, aku punya banyak buktinya, mah." Jhon merogoh ponselnya yang berada di dalam saku jasnya. "Lihatlah, mah. Ini adalah perempuan yang mama sebut lugu dan polos itu." Ucap Jhon sambil menyerahkan ponselnya kepada sang mama.
Mama Celine langsung mengambil ponsel itu, ia mulai menggeser photo-photo Lisa dan seorang laki-laki yang tak lain adalah Alex. Photo-photo itu terlihat begitu mesra, seperti pasangan kekasih. Mama Celine tersenyum kecut, ia merasa di bohongi dan di bodohi oleh Lisa yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.
"Kalau mama masih tidak percaya dengan bukti-bukti itu, aku masih ada videonya. Mama bisa lihat sendiri." Jhon kembali berucap, ia berniat untuk memperlihatkan video Lisa dengan Alex yang sudah ia salin dari ponsel Mentari tanpa sepengetahuan Mentari.
"Tidak perlu, mama sudah percaya. Mama benar-benar tidak habis pikir, bisa-bisanya mama di bodohi oleh gadis itu, padahal selama ini mama selalu memperlakukannya dengan baik seperti anak mama sendiri, dan mama sudah memaksamu untuk bertunangan dengannya karena mama pikir dia adalah wanita baik-baik. Tetapi nyatanya, dia sama saja dengan seorang wanita murahan."
"Maafkan mama, Jhon. Mama sudah salah memilih calon istri untukmu. Andai saja kamu tidak menjelaskan dan tidak memberikan bukti-bukti itu, mungkin mama akan membenci seseorang yang tak seharusnya mama benci." Ucap mama Celine terlihat sangat menyesal karena sudah menilai buruk Mentari.
"Mama tidak perlu minta maaf, ini semua bukan salah mama. Sekarang aku hanya butuh restu mama saja, izinkan aku untuk memilih Mentari sebagai istriku, mah. Karena hanya Mentari yang mampu membuatku bahagia, karena hanya Mentari perempuan yang aku cintai, mah." Mohon Jhon sambil menggenggam tangan sang mama, berharap sang mama mau memberikan restu kepada dirinya.
__ADS_1
"Tapi dia istri orang, Jhon. Apa kamu mau di cap sebagai pebinor?"
"Tidak, mah. Sebentar lagi dia akan berpisah dengan bajingan itu. Mentari sudah menggugat cerai bajingan itu. Jadi izinkan aku untuk memilih dia sebagai istriku, mah."
Mama Celine menghela nafasnya panjang, tangannya terulur dan mengelus lembut pundak putra semata wayangnya itu. "Baiklah, asalkan kamu bahagia dengan pilihanmu, mama pasti akan merestui siapa pun perempuan itu, tapi ingat! Tunggu sampai Mentari benar-benar berpisah dengan suaminya. Kamu baru boleh mendekatinya. Mengerti." Ucap mama Celine yang mendapat anggukkan kepala dari Jhon.
"Mengerti, mah. Terima kasih karena mama sudah mau merestui hubunganku dengan Mentari." Seru Jhon terlihat begitu semangat.
"Mama doain saja. Supaya Mentari mau kembali lagi sama aku."
"Kalau dia tidak mau, bagaimana?" Tanya mama Celine sambil menatap putra semata wayangnya itu.
__ADS_1
"Ya. Di paksa, mah. Pokoknya mau tidak mau dia harus mau, karena yang pantas menjadi istriku hanya dia seorang. Jadi mama doain saja, ya." Ucap Jhon sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Itu namanya pemaksaan Jhonatan!" Desis sang mama sambil menatap putranya yang saat ini sedang menyunggingkan senyumannya.
"Aku hanya becanda, mah. Aku tidak akan memaksa Mentari untuk menjadi istriku, tapi aku akan membuat Mentari kembali mencintaku seperti dulu lagi. Yasudah aku ke kamar dulu ya, mah. Aku mau istirahat. Mama juga istirahat ya."
"Terserah kamu saja, mama hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu. Yasudah kamu istirahat, mama nungguin papamu dulu." Ucap sang mama yang mendapat anggukkan kepala dari Jhon.
Setelah itu, Jhon pun langsung melangkahkan kedua kakinya menuju anak tangga dengan hati yang berbunga-bunga.
Bersambung.
__ADS_1