
Mentari menggerutu kesal, niatnya untuk menikmati angin malam terganggu oleh si laki-laki yang menurutnya sangat aneh itu. Kini ia memutuskan untuk pergi ke salah satu cafe yang baru buka di kota Jakarta.
"Baby, kebetulan sekali kita bertemu disini." Tiba-tiba suara yang tidak asing masuk ke indera pendengarannya. Mentari seketika menghentikan langkah kakinya dan berbalik. Ah betapa tidak beruntungnya dia harus bertemu dengan Jhon yang selalu mengganggu pikirannya itu.
Mentari menghela nafasnya panjang, ia kembali membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kedua kakinya. "Sungguh hari yang sial." Gumam Mentari sambil terus berjalan menuju pintu masuk cafe tersebut.
"Baby! Kenapa tidak menjawab hmm." Jhon berjalan mengekori Mentari dari belakang. Sejujurnya pertemuan ini bukanlah kebetulan semata, akan tetapi Jhon memang sengaja menyuruh seseorang untuk menemukan keberadaan Mentari saat ini. "Baby, aku telpon kenapa tidak di angkat? Pesan pun tidak kamu baca apalagi bales. Apa kamu sengaja ingin menghindariku?" Jhon kembali bersuara, kini langkah kakinya sejajar dengan pujaan hatinya itu.
Mentari menghentikan langkah kakinya, ia menatap Jhon dengan dingin. "Bisa tidak, jangan panggil aku dengan sebutan menyebalkan itu. Kita tidak memiliki hubungan yang se akrab itu, ya meskipun dulu aku mengenalmu, tetapi sekarang! Kamu hanya orang asing bagiku. Jadi stop panggil aku dengan sebutan menjijikan seperti itu, mengerti." Tegas Mentari sambil melipat kedua tangannya di dada.
__ADS_1
"Baiklah, asal kamu senang, aku tidak akan memanggilmu dengan sebutan baby lagi. Bagaimana kalau sayang? Kamu pasti menyukainya bukan?" Ucap Jhon di iringi dengan kediapan mata nakalnya membuat Mentari semakin kesal saja.
"Astaga.... Bisa-bisanya aku mengenal laki-laki ini di kehidupanku dulu." Batin Mentari kembali melangkahkan kedua kakinya memasuki cafe tersebut. "Aku malas meladenimu." Ucapnya sambil mempercepat langkah kakinya menuju salah satu kursi yang berada di pojokkan tempat favoritnya.
"Jangan marah, aku hanya becanda." Jhon terus mengikuti langkah kaki pujaan hatinya itu.
"Kenapa kamu mengikutiku?" Seru Mentari setelah ia duduk di kursinya.
"Tidak perlu, aku bisa pesan sendiri." Jawab Mentari dengan ketus. Mentari langsung memanggil pelayan cafe itu dan memesan salah satu minuman yang menjadi andalan cafe baru itu. Setelah Mentari selesai memesan minumannya, Jhon pun mulai memesan minuman yang sama dengan pujaan hatinya, menurut Jhon apa pun yang di minum oleh sang pujaan hati akan selalu terasa nikmat di lidahnya.
__ADS_1
Setelah keduanya selesai memesan minumannya, pelayan cafe itu pun pergi, Mentari mulai merogoh ponselnya yang berada di dalam tas kecil miliknya, sementara Jhon sibuk memandang wajah cantik nan teduh sang pujaan hati.
"Berhenti menatapku." Ketus Mentari yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Jhonatan yang menurutnya sangat dalam. Padahal Mentari sedang memainkan ponselnya, namun ia tetap saja merasakan tatapan si mata elang itu. "Ada apa denganku? Kenapa jantungku seperti ini?"Batin Mentari sambil berusaha untuk tetap tenang seperti biasanya.
Jhonatan terkekeh pelan, meskipun ucapan Mentari selalu dingin, itu tidak menjadi penghalang bagi dirinya untuk terus mendekati sang pujaan hatinya. Jhonatan justru semakin tertarik dan semakin ingin memiliki Mentari secepatnya. "Kamu sangat cantik, aku semakin ingin menatapmu lebih lama lagi." Sahut Jhon membuat rona merah di wajah Mentari mulai tergambar.
"Berhenti becanda! Tidak lucu." Mentari berusaha untuk tetap dengan wajahnya yang datar, namun sangat jelas jika hatinya merasa sedikit senang karena ucapan manis si laki-laki tampan itu. "Argh kenapa wajahku terasa panas seperti ini? Jangan bilang wajahku memerah karena ucapan dia barusan? Oh ****, aku harus tenang jangan sampai aku tergoda oleh ucapan manisnya itu." Batin Mentari sambil memukul wajahnya dengan pelan.
Jhon yang melihat hal itu pun seketika mencekal kedua tangan Mentari, membuat Mentari langsung menatap ke arahnya. "Ada apa? Kenapa kamu memukul wajahmu sendiri? Kalau kamu ingin memukul, pukul saja wajahku, aku tidak rela jika kamu menyakiti dirimu sendiri, karena itu akan sangat menyakitkan bagiku." Ucap Jhon dengan nada yang begitu lembut dan halus, bahkan tatapan matanya begitu dalam, cekalannya pun berubah menjadi genggaman yang hangat dan lembut.
__ADS_1
Bersambung.